Perasaan dari masa lalu, terutama yang berakhir dengan rasa penasaran, seringkali tiba-tiba muncul dan mengusik pikiran. Mendesakkan tanya, harapan dan keinginan dalam dada, untuk kemudian membuat kita jadi bingung bertingkah. Akan bertindak apakah kita, puas dengan memandang dari kejauhan, bergerak lekas dan mencoba peruntungan atau cukup dengan bahagia menikmati kenangan.
Kejadian yang saya alami kemarin, sebuah perjumpaan tak terduga, di sebuah minimarket kecil, ratusan kilometer dari kota tempat saya tinggal. Awalnya saya tidak mengenali, hingga setelah dekat baru terbaca namanya, dan ingatan seolah kembali dilemparkan ke masa kanak-kanak. Mungkin kelas 4 atau 5 SD, dulu saya hanya bisa menatapnya di layar televisi, lebih tepatnya di salah satu kanal televisi luar negeri, TV 3 Malaysia tepatnya.
Dalam pandangan saya yg bocah, dia tampak begitu menggoda, dan menjadikan saya terbayang-bayang dan terfikir, benarkah apa yang saya saksikan di layar kaca itu. Namun saya menginsafi bahwa jangankan merengkuhnya, untuk menyentuhnya saja nyaris sebuah mimpi.
Sejalan dengan hidup hal-hal masa kecil semacam itu mulai terlupakan, tertimbun pengalaman lain dan kemudian lepas dari ingatan.
Tapi sesuatu yang berkesan di hati tidak pernah benar-benar hilang bukan?
Maka, kemarin saat menjumpainya, saya dengan sukacita masa kanak yang timbul bergejolak menghampirinya.
.
.
.
.
.
.
...untuk kemudian kecewa.
Bukan, ini bukan salahnya, ekspektasi saya saja yang keliru, berharap semua akan seperti ingatan masa kanak saya, berharap yang ditemui akan sesuai imaji.
Saya sudah dewasa, tua malah, tentu harus lebih bijak bersikap, maka saya hapus air mata di hati, saya sudahi rasa kecewa dan menerima kenyataan dengan lapang dada.
Maaf, saya kecewa, mungkin kita masih akan berjumpa, tapi saya tidak akan lagi menghampirinya.
Bye-byee.... Ribena