Showing posts with label Rangkaian kata. Show all posts
Showing posts with label Rangkaian kata. Show all posts

28 August 2025

Aku Bukan Cinderella

    Ada masa ketika hidup jadi terlalu bising, namun kesepian justru makin lekat. Hari-hari berjalan lambat, seolah luka yang enggan mengering. Aku mulai menjauhi kantin kampus atau sekre himpunan, menghindari obrolan ringan, dan lebih memilih sudut-sudut sunyi yang tak menuntutku untuk berpura-pura baik-baik saja.

    Rasanya seperti baru kemarin, sendirian dan patah hati, aku terhanyut dalam keheningan toko buku, tenggelam dalam kisah-kisah yang bukan milikku. Nyaman membiarkan waktu berlalu tanpa terburu-buru. Hingga kamu datang memporak-porandakan semuanya.

    Mencoba meraih buku dari bagian atas rak, namun malah menyenggol sebaris novel hingga berhamburan menimpaku yang sedang jongkok dan sendu membaca Norwegian Wood. Aku mendongak kaget (dan sedikit kesakitan), menatapmu dengan alis terangkat, siap marah, tapi yang kutemui adalah wajah panik dan senyum nyengir yang terlalu jujur. Kamu membungkuk cepat, memunguti buku-buku itu sambil berulang kali meminta maaf dengan suara pelan tapi gugup. "Aku cuma... eh, nggak, maaf" katamu sambil menyodorkan satu buku ke arahku, entah untuk apa, dan kemudian seperti tersadar, sibuk menyusun kembali buku-buku di rak atas.

    Entah kenapa, marahku tiba-tiba menguap, bukan karena senyum nyengirmu, namun menyaksikan wajahmu yang merah padam dan tanganmu yang terbata-bata membuatku jadi kasihan juga.

    "Waktu itu aku pengen menyapa, tapi tidak berani berkata apa-apa, kemudian tanpa sadar tanganku sudah meraih buku ini" katamu beberapa minggu kemudian. ‘Tuhan Tahu tapi Dia Menunggu’ buku kumpulan cerpen Tolstoy favoritmu, yang akhirnya kamu berikan padaku dengan alasan “Aku pertama baca cerita ini saat kelas 5 SD, sayangnya judulnya diubah jadi ‘Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu’, ada nuansa yang berubah menurutku”.

    Aku tertawa saat itu. Entah sejak kapan, aku jadi lebih sering tertawa saat bersamamu. Lalu semuanya mengalir begitu saja, atau kamu menyebutnya, membiarkan diri kita dibawa suasana. Kamu tidak pernah memintaku jadi kekasihmu, tapi kita jelas lebih dari sekedar kawan membaca. Seolah berjalan berdampingan, seiring namun tak pernah bergandengan.

    Bagi mamah, kamu adalah bocah lucu penggemar mi goreng buatannya dan juga, seringkali, teman belanja ke pasar. Bagi ayah, kamu adalah teman ngobrol soal sejarah, juga teman main game dan juru oprek komputernya. Hadirmu di rumahku selalu dinanti meski tak pernah diharapkan berlebihan. Semacam sebuah kewajaran yang menyenangkan, walau selalu kebingungan saat harus menjelaskan pada mamah bahwa kita (mungkin) hanya teman. Kamu akrab dengan sahabat-sahabatku, dan mereka semua berkata bahwa kamu membuatku lebih sering tertawa, meski selalu saja mempertanyakan soal status kita.

    Mungkin aku sudah tahu sejak lama bahwa aku bukan satu-satunya yang mengisi hatimu, tapi aku berpura-pura tak melihatnya. Aku mengabaikan pesan yang sering terlambat kamu balas, akhir pekan yang tak pernah kita isi dengan kencan, atau foto seorang gadis di kamar kostmu yang kamu sebut ‘adinda’. Rasanya menerima separuh hadirmu lebih mudah daripada sepenuhnya kehilanganmu.

    Aku tahu itu salahku, terlalu ingin percaya, berharap pada sesuatu yang sejak awal menggantung tanpa nama. Aku mencintaimu dengan cara yang bodoh, tanpa syarat, tanpa tuntutan, bahkan tanpa kepastian. Dan kini aku dihukum oleh harapanku sendiri. Aku hafal caramu tertawa, diammu saat marah, dan binar matamu saat sedang jatuh cinta. Aku ingin percaya bahwa itu benar-benar untukku.

    Seperti waktu itu, nyaris tengah malam, tanpa berkabar, tiba-tiba kamu sudah di depan pagar rumah, membawa kantong plastik penuh es krim. Wajahmu kuyu, tapi kamu cuma bilang, “Aku habis mampir ke Circle K, terus tiba-tiba kangen.” Kalau saja aku tidak sedang jatuh cinta tentu kelakuanmu ini kuanggap gila. Malam itu, kita tidak bicara banyak. Memandang langit dari teras, sambil tersenyum diam-diam dan melumat es krim coklat.

    Ah, atau percakapan kita di pos polisi saat kita berhenti sejenak menunggu hujan. Kamu bilang kalau semalam bertengkar hebat dengan ‘adinda’-mu. Aku hanya diam, pura-pura tak sakit hati mendengarnya. Sungguh benar bahwa cemburu bukan sesuatu yang akan membunuhku, tapi jangankan menjadi kuat, ia cuma menyisakan luka yang bahkan tak berani kuucapkan.

"Was mich nicht umbringt, macht mich stärker."
“That which does not kill me makes me stronger.”
~Nietzche

    Barangkali itu sebabnya kamu selalu kembali menemuiku, kamu mencintaiku, tapi aku bukan alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan kekasihmu. Mungkinkah aku bukan sekadar pelarian, tapi bagian dari dirimu yang tak bisa kamu miliki?

    Aku tahu aku harus melepasmu, namun mengapa semua hal yang kulihat padamu, seperti upaya semesta untuk membenarkan perasaanku. Kalau saja waktu lebih berpihak padaku dan kamu tak sepengecut itu, mungkin kita bisa menjadi kekasih yang sesungguhnya. Sialnya semua itu hanya 'kalau saja', dan aku benci itu.

    Malam itu udara Bandung cukup sejuk, namun terasa terlalu tenang untuk kegelisahan yang diam-diam tumbuh. Gerimis sudah reda, tapi aspal masih basah, memantulkan cahaya lampu jalan yang buram. Kita menyusuri jalanan di atas motor, dan kamu tak secerewet biasanya.

    Kau mengantarku pulang lebih awal malam ini. Biasanya kita masih betah nongkrong di gerai ayam goreng Amerika, sambil asyik membahas buku yang baru kita beli, atau sekali waktu menghabiskan waktu hingga tengah malam nonton tukang sihir Eropa di bioskop. Tadi kau hanya berkata, “Ayo, aku antar,” dan aku tak sempat bertanya kenapa. Mungkin aku tak benar-benar ingin tahu jawabannya.

    Memeluk pinggangmu jadi terasa canggung malam itu. Aku tak berani mempereratnya, entah jengah atau malah marah.

    Motor melambat di depan gerbang rumah. Aku turun pelan-pelan, berusaha menata napas dan bersikap biasa saja. Mesin motormu masih menyala, kulirik hapeku—baru pukul sembilan malam.

“Udah ya, aku langsung saja” katamu, sambil nyaris tidak memandangku.

    Aku masih termanggu di depan gerbang, masih menggenggam jemarimu, hingga tanpa kusadari kalimat itu keluar.

"Hei…aku bukan Cinderella, dan kamu bukan seorang pangeran," ucapku pelan, setengah bergurau tapi setengahnya lagi… sungguh-sungguh.

"Jadi mengapa mesti kita berpisah sebelum tengah malam?" lanjutku sambil berusaha tersenyum.

    Namun senyum itu gagal muncul, yang keluar hanya napas pendek yang nyangkut di dada. Kamu memalingkan wajahmu memandangku, tersenyum tipis dan mengetatkan genggammu di jemariku. Senyum yang biasanya langsung meluluhkan hatiku, namun tidak malam ini.

"Karena adindaku tiba dengan kereta pukul 23.15," jawabmu lirih.

Oh!

    Sekejap waktu membeku, rasanya seperti berhenti di tengah hujan tanpa tahu harus berteduh di mana. Tiba-tiba jadi tidak bisa kupahami apa yang sedang terjadi. Tatapan lembutmu saat di kafe kecil tadi, obrolan ringan diatas motor sepanjang jalan. Bahkan senyummu saat memberikan kado kecil untukku adalah senyum termanis yang pernah kulihat—mendadak semuanya seperti kabut dingin tersapu angin malam.

".…lalu kita…..?" tanyaku, nyaris berbisik.

Kamu menarik napas dalam, lalu menjawab perlahan. "Kamu…..bintang jatuhku."

    Aku terdiam. Bukan jawaban yang kumau. Tapi kenyataan kadang tak punya cara halus untuk menyelinap masuk ke hati, bahkan meski dibungkus istilah yang indah.

"Dan dia?" tanyaku lagi.

"Dia… rembulanku."

    Seharusnya aku marah dan menyuruhmu pergi, tapi aku justru makin berat melepas jemarimu, menahan napas dan menimbang, apa masih sempat bila aku memohon agar kamu tetap tinggal? Apa aku bisa menahanmu, meski aku tahu hatimu bukan untukku? Bagaimana kalau kamu memilihku saja? Bagaimana jika malam ini, kamu batalkan semuanya dan tetap disini bersamaku? Kita bisa mulai dari awal lagi, menyusun cerita yang belum sempat kita tulis.

    Angin malam meniup sudut mataku yang mulai lembap. Entah dingin atau perih. Entah karena cuaca, atau karena sesuatu yang mulai pecah di dalam dada. Aku ingin menangis, tapi terlalu anggun untuk itu.

"Jadi aku cuma sesuatu yang lewat, ya? Melintas sesaat, dan kemudian usai" sebuah tanya untukmu yang lebih mirip sebuah penghiburan kepada diriku sendiri.

Kamu diam, tak membantah, dan mungkin itu yang paling menyakitkan.

"Kalau begitu, pergilah. Jangan sampai kamu terlambat menjemput rembulanmu."

    Kamu seperti ragu sejenak. Mungkin ingin berkata maaf, mungkin ingin mencium keningku untuk terakhir kali, tapi tidak satupun yang kamu lakukan. Hanya melangkah mundur, lalu berbalik pergi, tak menoleh lagi.

    Aku tetap berdiri di situ, memandangi punggungmu yang menjauh. Rasanya aneh, hatiku kosong namun terasa sesak.

    Aku tak langsung masuk rumah, aku perlu mendinginkan hati dan kepalaku. Kulangkahkan kaki, duduk di bangku panjang di sisi jalan, mencoba mengurai pikiranku, mencoba mengendapkan kemarahan yang membuncah sekaligus mencoba menguatkan bendungan air mata. Aku membuka kado kecil yang tadi kamu berikan. Sebuah buku catatan kecil bergaya klasik, dan di halaman pertama kamu menulis, "Untuk semua cerita yang belum sempat kita tulis."

    Air mataku langsung runtuh. Bukan karena buku itu, tapi karena aku sadar, kita memang tak pernah menulis apapun. Semua kenangan kita hanya mengawang-awang, dan aku, terlalu ingin percaya bahwa itu bisa menjadi nyata.

    Jalanan sepi, hanya terdengar rintik kecil dari ujung genting. Kupandangi langit yang penuh awan kelabu, membayangkan kamu tengah tertawa bersama ‘rembulan’-mu. Sementara aku akan tetap menjadi bintang jatuh yang cahayanya hilang ditelan gelap malam.

Aku bukan Cinderella. Tapi tetap saja, malam ini, aku kehilangan pangeranku, sebelum tengah malam.


    Beberapa hari setelahnya, aku sempat melihatmu di toko buku yang sama tempat kita pertama kali bertemu. Kamu bersama seorang perempuan, bukan sedang memilih novel, kalian sedang tertawa sambil membaca komik yang sama. Ia menggenggam tanganmu, dan kamu memandangnya dengan senyum yang kukenal. Aku ingin marah, tapi tak sanggup. Aku menunduk, lalu melangkah pergi sebelum kamu sempat melihatku. Aku tidak ingin mengganggu pemandangan yang tampaknya sudah sempurna. Malamnya, di halaman kedua buku catatan itu, kutulis

"Terima kasih karena pernah singgah. Terima kasih karena akhirnya pergi."







11 June 2025

Pagiku, mungkin bukan untukmu


 Pagiku

Hujan turun tapi tak juga reda


Padamu

Hatiku jatuh tapi ini bukan cinta


Pagi masih terlalu

Malam belum berlalu

Hati masih meragu

Rindu belum penuh olehmu


Masih terlalu pagi

Pekat belum pergi

Entah harus tinggal atau terus mencari

Ragu, hati ini belum ingin terbagi


Kuharap ini bukan pagi

dan malam berputar sekali lagi

Kuharap kisah kita belum terjadi

dan tak perlu ada yang tersakiti



...ditulis saat teringat suatu sore di kota Bandung, pada sebuah sudut Balubur, untungnya sekarang sudah digusur jadi mal.

10 January 2023

Pada suatu ketika

Pada suatu ketika

tiba tiba aku jatuh cinta

melebihi seluruh jatuh cinta

yang pernah menyakiti dadaku


Berkali bertanya kata yang sama

Mungkin lupa mungkin alpa

Atau bisa juga apa saja


Engkaukah cinta? Mengapa padamu aku jatuh

Rindukah aku? Mengapa padaku engkau luluh


Hingga angan berhenti bertanya 

mengapa saling jatuh cinta

Cinta adalah rindu yang tanpa alasan

Rindu abadi, cinta terlahir kembali

Rindu tak kenal waktu, entah mana yang lebih dulu

Cinta tak kenal masa, entah kapan mulai terasa

Rindu adalah keadaan, cinta adalah kenyataan


Wahai engkau yang menyalakan rindu di siang malamku

Naungilah aku dibawah sayapmu

Agar aku tak hancur rantak bagai debu

Tempat teduhku hanya dirimu



22 March 2021

"Te vere otro dia"

 Kecupnya serupa rahasia

dihantar dalam bisikan yang hening

dan kilas yang sekedar lintas

tersembunyi namun tetap terjadi


Kelembaman lembut yang menekan

menyisakan misteri yang tak habis kurasai

serupa sebuah reuni esoteris

tentang sejarah yang sentimentil  


Berserah aku terhempas ke masa lalu

tercekat dalam alun gerakmu

membadai kenangan menghunjam ingatan

gigil aku dalam beku luka lama 


ah, mengapa mesti melayang awang-awang

berjumpa lagi di simpang raya kehidupan

hanya untuk ditelan debur penyesalan

tetap saja kutelan doa "Te vere otro dia"

Bandung Oktober 2003

 Pernah kucoba menulis jejak kita

dibawah lampu di sisi jalan yang kita sebut trotoar

yang bila siang jadi halte dan tempat parkir mobil

namun bila malam jadi warung bubur ayam favoritku

yang juga menjual jus jambu kesukaanmu


Pernah juga kucoba menulis jejak kita

pada hutan dan rel kereta di seberang kampus

yang pernah kita lalui kemarin

sambil duduk diatas motorku menunggu kereta melintas

tapi tidak sambil berpelukan

katamu malu dan aku iyakan


Namun agar kamu tak lupa 

kutinggalkan sepotong pesan

dipinggir meja komputer, disamping kasur lipat

di tempat kita biasa melepas cerita 

tentang dunia yang entah mengapa

dan hidup yang bersikejaran dengan entah siapa


Mungkin kamu tak akan lupa

meski aku tahu itu sering kau coba

Mungkin juga aku yang terlalu lama bermimpi

meski kau tahu hanya itu yang aku miliki


waktu kita terlampau sesaat

persimpangan teramat pesat

keadaan melintas cepat 

dan kita kehilangan sempat


Malam ini aku ingin mengeluh

bayangmu semakin jauh

17 February 2021

Awalnya kita

Kita menapak mula di sini

Saat pucuk pinus basah oleh kabut

Senyummu membusurkan pelangi

Tumpah cahaya di ujung sedak dada

Ah...bagaimana aku bisa lupa?


Adalah suatu malam...

yang berhias cerita

Tentang seorang pangeran ,

Yang jatuh hati pada bidadari


Cinta yang serupa dupa, luruh menebar wangi sendu

Seperti kelopak-kelopak ratna dipelataran pura


Lihatlah kekasih, 

takdir telah melepaskan tali kekangnya

Mari kita bercinta lewat kidung-kidung renjana ,

Reguk manis asmara di percikan tirta


Wahai kekasih,

Tatapanmu adalah cahaya di tungku asmara 

Hangatkan kisah cinta

Hingga bermuara di bening nirwana

01 February 2021

Malam itu

Kalau boleh aku mengenangnya
Kau dan aku duduk sebelah menyebelah
Kau tak bicara pun aku hanya diam
Hanya sesekali gemerisik daun jambu mengusik

Aku sibuk dengan isi kepalaku
Kau sibuk dengan degup jantungmu
Kau masih membisu pun aku tetap bungkam

Aku menyerah
Kugapai jemarimu kutempelkan di keningku
Kurengkuh tanganmu dan bersandar disana
Kau terhenyak, bibirmu nyaris bersuara
Namun lekas kubentak
"Sudah diam, aku demam, bantu aku agar api ini lekas padam"
Kau urung bicara, tapi kurasa mukamu jadi merona

Jauh setelah kenangan itu
Kalau boleh kusebut demikian

Kau masih membiarkanku bersandar
redakan demam dan dendamku
padamkan keluh dan marahku

Terima kasih
Bagi tangan yang menjaga diriku
Bagi jiwa yang memeluk jiwaku
Dan bagi hati yg melingkupi hatiku



Dikisahkan dari sebuah masa dimana kamu dan aku bahkan belum pernah terpikir tentang kita

Seiring sejalan kita pernah

Tapi kini menyamakan langkah saja susah
Apa mungkin kita terlalu lelah
Yang selama ini mudah malah menjadi payah

Bila memang telah kau goyah
Biar aku saja yang melangkah
Mungkin sekarang cukup sudah
Aku mesti menentukan arah

Tak perlu pikirmu jadi resah
Ini hanya jalan yang terpisah
bukan berharap engkau enyah
Sekejap mungkin akan gundah
Namun tak lama, dan kita akan sama bahagia, percayalah 




Ditulis karena lagu "Kahitna, Cinta Sendiri" berkali melintas di playlist

*Biar aku yang pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini aku cinta sendiri
Biar aku menepi, bukan lelah menanti* 

11 April 2018

Menunggu hujan reda

Diantara hujan yang tempias
ada rindu yang belum sempat kau balas
adakah hatimu menjadi kebas
atau karena aku yang terlambat bergegas

Diantara rindu yang tak terbalas
ada perasaan yang kian meranggas
adakah asa meski sekilas
atau justru engkau ingin bergegas

Diantara kenang yang melintas
ada kelu yang masih membekas
adakah manis meski pahit terpulas
atau kisah kita memang mesti tuntas


24 May 2017

Aku menikmati merengkuhmu
Khusyuk kala perlahan mengecupmu
Menyesap hangat yang ada dalam tubuhmu

Namun kamu mesti tahu
Kamu tak lebih dari sebuah alat
kamu hanyalah sebuah perantara

Saat tujuan sudah tercapai
dan keinginan telah terpuaskan
maka itu saatnya kamu ditinggalkan

Sampai jumpa esok hari
Untukmu aku kembali
Saat tubuh ini merindu lagi

=Ngobrol sama mug kopi=


08 August 2016

Dek, aku rindu hujan

Dek, aku rindu hujan
Rindu duduk berdua di beranda
dan memandang butir-butir perak yang dijatuhkan dari ketinggian
Rindu nikmatya harum tanah sehabis hujan

Tapi itu di desamu Dek,
dimana hujan adalah limpahan kebahagiaan
Berkah yang diturunkan oleh langit bagi tanah, padi,
bagi para petani dan segenap ternaknya
Tapi di kota ini Dek, hujan cuma pertanda banjir akan tiba

Jakarta-Sore saat mendung makin gelap

05 August 2016

Sekali lagi tentang memaafkan

Seharusnya tidak ada yang perlu dimaafkan
karena bahagia pernah sama kita rasakan

sayangnya bukan begitu hidup berjalan
berkali waktu kita bertukar kesalahan

ringan kita berkata saling memaafkan
namun dalam hati masih ada yang tersimpan

mungkin dendam, mungkin penyesalan
karena kata atau karena perbuatan

kadang sikap yang salah ditunjukkan
atau tindakan yang salah diartikan

mari saling bersalaman
tanpa kecup dan pelukan

mari saling melepaskan
sebab yang lalu adalah kenangan

dan kita sama percaya
cinta itu membebaskan

05 July 2016

Semoga berjumpa lagi dengan Ramadhan yang akan datang

Perpisahan tidak selalu tentang kesalahan
yang melukai dan menyesal kita lakukan
namun adalah juga tentang harapan
menjadi lebih baik sebelum jumpa kemudian

Perpisahan adalah bagaimana rindu diketatkan
saat ruang dan waktu dijauhkan
Perpisahan adalah juga tentang menguji kekuatan
menjaga setiap konsistensi atas perbuatan

Perpisahan tak melulu tentang ikhlas melepaskan
kesediaan membebaskan tanpa takut kehilangan
namun juga tentang menjaga jalan
agar bersua nanti di persimpangan kehidupan

Perpisahan adalah bagaimana perjumpaan dipersiapkan
jauh sebelum pertemuan dibayangkan
Perpisahan adalah juga perjalanan menciptakan
bahkan saat wujud masih berupa angan

Perpisahan adalah bagaimana menuju Perjumpaan

Selamat Idul Fitri 1437H
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Semoga berjumpa lagi dengan Ramadhan yang akan datang

30 June 2016

Perpisahan

Perpisahan tidak selalu tentang kesalahan
yang menggugurkan dedaunan dan meranggaskan ruas-ruas
bukan juga sekedar memutus kenangan
yang mengguncang dahan dan mengerkah tanah mengelupas

Perpisahan juga tentang bagaimana menguatkan
mengukuhkan genggam agar tak mudah terhempas
Perpisahan juga tentang bagaimana menyatukan
menggabungkan berbagai keberadaan dalam satu entitas

Perpisahan ini tidak akan menjauhkan
namun menjaga rindu agar tak lepas
tidak juga jadi melemahkan
namun merekatkan hati yang getas

Perpisahan adalah menanti harapan
yang menumbuhkan kuncup tunas-tunas
adalah juga menunggu perjumpaan
yang kelak bersemi menjadi bunga yang bernas

03 January 2014

Debar langsung pudar

Sebuah ponsel menyala beriring getar
Disambut lentik jemari mengusap layar
Sesaat kilas parasmu terbias sinar
Ronamu memancar aura menguar
Dadaku gemuruh oleh rasa yang pijar
Tapi debar langsung pudar
Saat kaubisikkan dalam samar
Waalaikum salam, sayang apa kabar?

11 June 2013

Seandainya

Seandainya saya lebih serius bekerja
Seandainya saya tidak bekerja di pabrik panci
Seandainya saya menikah dengan yang lainnya
Seandainya saya tidak meninggalkan pekerjaan dari proyek ke proyek
Seandainya saya memilih untuk pulang ke kampung halaman
Seandainya saya tidak pernah menjadi peserta tender 
Seandainya saya lebih cepat menentukan keputusan
Seandainya saya tidak terlalu sombong
Seandainya saya masih bekerja di bidang pengeboran
Seandainya saya tidak bekerja di seputaran ibukota
Seandainya saya memilih lebih lama menikmati sebagai freelance
Seandainya saya tidak pernah terlibat dengan Bintang Jatuh
Seandainya saya kuliah dan praktikum dengan sungguh-sungguh
Seandainya saya tidak menjadi anak jurusan tehnik
Seandainya saya justru ke Surabaya dan bukan Bandung
Seandainya saya tidak masuk SMA depan rumah
Seandainya saya lebih banyak melewatkan waktu bersama orang tua
Seandainya saya tidak dibesarkan sebagai anak bungsu
Seandainya saya bukan dari keluarga yang berada
Seandainya saya tidak lahir dan tumbuh di Jawa Timur





.... seandainya saya tidak pernah hadir di muka bumi


18 April 2013

Kecup

Akankah kau izinkan
sebuah kecup untuk bibirmu
yang merona bak terbitnya mentari

atau bagi sepasang mata berbingkai kaca
yang pendarnya bagai embun pagi hari

atau diujung hidungmu
yang serupa pucuk pinus ditiup angin

atau bolehkah bila di lembut pipimu
hamparan tundra tempatku menyesap sejukmu

bila tidak kau izinkan
maka cukuplah dikeningmu
agar bisa kunikmati horizon di cakrawalamu

20 February 2012

Guruku Cantik Sekali

Akankah kau izinkan...
sebuah kecup untuk bibirmu
yang merahnya ingatkan aku pada segelas sirup seusai upacara

Atau akankah kau biarkan aku nikmati binar matamu
yang serupa pendar mentari seusai hujan pergi

Pura-pura tak tahu sajalah
saat aku mencuri pandang di jenjang lehermu
agar bisa kubebaskan imajinasi muda ini

Atau saat kupandangi dua bulir keringat di dahimu
berkilau bagai lelehan kristal dari angin yang berhenti mengalir

Tiga kali seminggu aku khusyuk berdoa
agar waktu berhenti berjalan

saat kau mulai masuk ruang kelasku

02 February 2012

Cantik itu bukan kutukan

Seratus empat puluh hari setelah aku tertarik padamu
aku baru tahu bahwa kau juga tertarik padaku

dan kita jadi serupa dua tetes air hujan yang coba menyatu

Sembilan ratus detik yang kulewatkan setiap pagi
nikmati pendar mentari di matamu
adalah juga waktumu nikmati gemerlap rembulan yang belum beranjak dari mataku

Lusa adalah senin ke empat belas yang kita lewati bersama
dalam senyum yang ragu dan kata yang membeku


Maaf...
bahkan bila tujuh gerhana telah berlalu dan aku tak jua menyapamu
memujamu dalam imaji cukup sudah bagiku

Semoga tak menjadi kutukan atas kecantikanmu

Tadi Pagi

Tadi pagi
kami saling bertukar sapa
dalam sepi yang mengada

Berbagi cerita tanpa kata
dan semua luruh dalam tatapan mata
yang kami curi dan nikmati bersama