Sebagian kecil dari diri, refleksi ego, dan beberapa keping isi otak. Semoga blog ini berarti bukan hanya untukku
28 August 2025
Aku Bukan Cinderella
11 June 2025
Pagiku, mungkin bukan untukmu
Pagiku
Hujan turun tapi tak juga reda
Padamu
Hatiku jatuh tapi ini bukan cinta
Pagi masih terlalu
Malam belum berlalu
Hati masih meragu
Rindu belum penuh olehmu
Masih terlalu pagi
Pekat belum pergi
Entah harus tinggal atau terus mencari
Ragu, hati ini belum ingin terbagi
Kuharap ini bukan pagi
dan malam berputar sekali lagi
Kuharap kisah kita belum terjadi
dan tak perlu ada yang tersakiti
10 January 2023
Pada suatu ketika
Pada suatu ketika
tiba tiba aku jatuh cinta
melebihi seluruh jatuh cinta
yang pernah menyakiti dadaku
Berkali bertanya kata yang sama
Mungkin lupa mungkin alpa
Atau bisa juga apa saja
Engkaukah cinta? Mengapa padamu aku jatuh
Rindukah aku? Mengapa padaku engkau luluh
Hingga angan berhenti bertanya
mengapa saling jatuh cinta
Cinta adalah rindu yang tanpa alasan
Rindu abadi, cinta terlahir kembali
Rindu tak kenal waktu, entah mana yang lebih dulu
Cinta tak kenal masa, entah kapan mulai terasa
Rindu adalah keadaan, cinta adalah kenyataan
Wahai engkau yang menyalakan rindu di siang malamku
Naungilah aku dibawah sayapmu
Agar aku tak hancur rantak bagai debu
Tempat teduhku hanya dirimu
22 March 2021
"Te vere otro dia"
Kecupnya serupa rahasia
dihantar dalam bisikan yang hening
dan kilas yang sekedar lintas
tersembunyi namun tetap terjadi
Kelembaman lembut yang menekan
menyisakan misteri yang tak habis kurasai
serupa sebuah reuni esoteris
tentang sejarah yang sentimentil
Berserah aku terhempas ke masa lalu
tercekat dalam alun gerakmu
membadai kenangan menghunjam ingatan
gigil aku dalam beku luka lama
ah, mengapa mesti melayang awang-awang
berjumpa lagi di simpang raya kehidupan
hanya untuk ditelan debur penyesalan
tetap saja kutelan doa "Te vere otro dia"
Bandung Oktober 2003
Pernah kucoba menulis jejak kita
dibawah lampu di sisi jalan yang kita sebut trotoar
yang bila siang jadi halte dan tempat parkir mobil
namun bila malam jadi warung bubur ayam favoritku
yang juga menjual jus jambu kesukaanmu
Pernah juga kucoba menulis jejak kita
pada hutan dan rel kereta di seberang kampus
yang pernah kita lalui kemarin
sambil duduk diatas motorku menunggu kereta melintas
tapi tidak sambil berpelukan
katamu malu dan aku iyakan
Namun agar kamu tak lupa
kutinggalkan sepotong pesan
dipinggir meja komputer, disamping kasur lipat
di tempat kita biasa melepas cerita
tentang dunia yang entah mengapa
dan hidup yang bersikejaran dengan entah siapa
Mungkin kamu tak akan lupa
meski aku tahu itu sering kau coba
Mungkin juga aku yang terlalu lama bermimpi
meski kau tahu hanya itu yang aku miliki
waktu kita terlampau sesaat
persimpangan teramat pesat
keadaan melintas cepat
dan kita kehilangan sempat
Malam ini aku ingin mengeluh
bayangmu semakin jauh
17 February 2021
Awalnya kita
Kita menapak mula di sini
Saat pucuk pinus basah oleh kabut
Senyummu membusurkan pelangi
Tumpah cahaya di ujung sedak dada
Ah...bagaimana aku bisa lupa?
Adalah suatu malam...
yang berhias cerita
Tentang seorang pangeran ,
Yang jatuh hati pada bidadari
Cinta yang serupa dupa, luruh menebar wangi sendu
Seperti kelopak-kelopak ratna dipelataran pura
Lihatlah kekasih,
takdir telah melepaskan tali kekangnya
Mari kita bercinta lewat kidung-kidung renjana ,
Reguk manis asmara di percikan tirta
Wahai kekasih,
Tatapanmu adalah cahaya di tungku asmara
Hangatkan kisah cinta
Hingga bermuara di bening nirwana
01 February 2021
Malam itu
Kalau boleh aku mengenangnya
Kau dan aku duduk sebelah menyebelah
Kau tak bicara pun aku hanya diam
Hanya sesekali gemerisik daun jambu mengusik
Aku sibuk dengan isi kepalaku
Kau sibuk dengan degup jantungmu
Kau masih membisu pun aku tetap bungkam
Aku menyerah
Kugapai jemarimu kutempelkan di keningku
Kurengkuh tanganmu dan bersandar disana
Kau terhenyak, bibirmu nyaris bersuaraNamun lekas kubentak
"Sudah diam, aku demam, bantu aku agar api ini lekas padam"
Kau urung bicara, tapi kurasa mukamu jadi merona
Jauh setelah kenangan itu
Kalau boleh kusebut demikian
Kau masih membiarkanku bersandar
redakan demam dan dendamku
padamkan keluh dan marahku
Terima kasih
Bagi tangan yang menjaga diriku
Bagi jiwa yang memeluk jiwaku
Dan bagi hati yg melingkupi hatiku
Seiring sejalan kita pernah
Tapi kini menyamakan langkah saja susah
Apa mungkin kita terlalu lelah
Yang selama ini mudah malah menjadi payah
Bila memang telah kau goyah
Biar aku saja yang melangkah
Mungkin sekarang cukup sudah
Aku mesti menentukan arah
Tak perlu pikirmu jadi resah
Ini hanya jalan yang terpisah
bukan berharap engkau enyah
Sekejap mungkin akan gundah
Namun tak lama, dan kita akan sama bahagia, percayalah
Ditulis karena lagu "Kahitna, Cinta Sendiri" berkali melintas di playlist
*Biar aku yang pergi Bila tak juga pasti Adakah selama ini aku cinta sendiri Biar aku menepi, bukan lelah menanti*
11 April 2018
Menunggu hujan reda
ada rindu yang belum sempat kau balas
adakah hatimu menjadi kebas
atau karena aku yang terlambat bergegas
Diantara rindu yang tak terbalas
ada perasaan yang kian meranggas
adakah asa meski sekilas
atau justru engkau ingin bergegas
Diantara kenang yang melintas
ada kelu yang masih membekas
adakah manis meski pahit terpulas
atau kisah kita memang mesti tuntas
24 May 2017
08 August 2016
Dek, aku rindu hujan
Rindu duduk berdua di beranda
dan memandang butir-butir perak yang dijatuhkan dari ketinggian
Rindu nikmatya harum tanah sehabis hujan
Tapi itu di desamu Dek,
dimana hujan adalah limpahan kebahagiaan
Berkah yang diturunkan oleh langit bagi tanah, padi,
bagi para petani dan segenap ternaknya
Tapi di kota ini Dek, hujan cuma pertanda banjir akan tiba
Jakarta-Sore saat mendung makin gelap
05 August 2016
Sekali lagi tentang memaafkan
karena bahagia pernah sama kita rasakan
sayangnya bukan begitu hidup berjalan
berkali waktu kita bertukar kesalahan
ringan kita berkata saling memaafkan
namun dalam hati masih ada yang tersimpan
mungkin dendam, mungkin penyesalan
karena kata atau karena perbuatan
kadang sikap yang salah ditunjukkan
atau tindakan yang salah diartikan
mari saling bersalaman
tanpa kecup dan pelukan
mari saling melepaskan
sebab yang lalu adalah kenangan
dan kita sama percaya
cinta itu membebaskan
05 July 2016
Semoga berjumpa lagi dengan Ramadhan yang akan datang
yang melukai dan menyesal kita lakukan
namun adalah juga tentang harapan
menjadi lebih baik sebelum jumpa kemudian
Perpisahan adalah bagaimana rindu diketatkan
saat ruang dan waktu dijauhkan
Perpisahan adalah juga tentang menguji kekuatan
menjaga setiap konsistensi atas perbuatan
Perpisahan tak melulu tentang ikhlas melepaskan
kesediaan membebaskan tanpa takut kehilangan
namun juga tentang menjaga jalan
agar bersua nanti di persimpangan kehidupan
Perpisahan adalah bagaimana perjumpaan dipersiapkan
jauh sebelum pertemuan dibayangkan
Perpisahan adalah juga perjalanan menciptakan
bahkan saat wujud masih berupa angan
Perpisahan adalah bagaimana menuju Perjumpaan
Selamat Idul Fitri 1437H
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Semoga berjumpa lagi dengan Ramadhan yang akan datang
30 June 2016
Perpisahan
yang menggugurkan dedaunan dan meranggaskan ruas-ruas
bukan juga sekedar memutus kenangan
yang mengguncang dahan dan mengerkah tanah mengelupas
Perpisahan juga tentang bagaimana menguatkan
mengukuhkan genggam agar tak mudah terhempas
Perpisahan juga tentang bagaimana menyatukan
menggabungkan berbagai keberadaan dalam satu entitas
Perpisahan ini tidak akan menjauhkan
namun menjaga rindu agar tak lepas
tidak juga jadi melemahkan
namun merekatkan hati yang getas
Perpisahan adalah menanti harapan
yang menumbuhkan kuncup tunas-tunas
adalah juga menunggu perjumpaan
yang kelak bersemi menjadi bunga yang bernas
03 January 2014
Debar langsung pudar
11 June 2013
Seandainya
Seandainya saya tidak bekerja di pabrik panci
Seandainya saya menikah dengan yang lainnya
Seandainya saya tidak meninggalkan pekerjaan dari proyek ke proyek
Seandainya saya memilih untuk pulang ke kampung halaman
Seandainya saya tidak pernah menjadi peserta tender
Seandainya saya lebih cepat menentukan keputusan
Seandainya saya tidak terlalu sombong
Seandainya saya masih bekerja di bidang pengeboran
Seandainya saya tidak bekerja di seputaran ibukota
Seandainya saya memilih lebih lama menikmati sebagai freelance
Seandainya saya tidak pernah terlibat dengan Bintang Jatuh
Seandainya saya kuliah dan praktikum dengan sungguh-sungguh
Seandainya saya tidak menjadi anak jurusan tehnik
Seandainya saya justru ke Surabaya dan bukan Bandung
Seandainya saya tidak masuk SMA depan rumah
Seandainya saya lebih banyak melewatkan waktu bersama orang tua
Seandainya saya tidak dibesarkan sebagai anak bungsu
Seandainya saya bukan dari keluarga yang berada
Seandainya saya tidak lahir dan tumbuh di Jawa Timur
.... seandainya saya tidak pernah hadir di muka bumi
18 April 2013
Kecup
sebuah kecup untuk bibirmu
yang merona bak terbitnya mentari
atau bagi sepasang mata berbingkai kaca
yang pendarnya bagai embun pagi hari
atau diujung hidungmu
yang serupa pucuk pinus ditiup angin
atau bolehkah bila di lembut pipimu
hamparan tundra tempatku menyesap sejukmu
bila tidak kau izinkan
maka cukuplah dikeningmu
agar bisa kunikmati horizon di cakrawalamu
20 February 2012
Guruku Cantik Sekali
sebuah kecup untuk bibirmu
yang merahnya ingatkan aku pada segelas sirup seusai upacara
Atau akankah kau biarkan aku nikmati binar matamu
yang serupa pendar mentari seusai hujan pergi
Pura-pura tak tahu sajalah
saat aku mencuri pandang di jenjang lehermu
agar bisa kubebaskan imajinasi muda ini
Atau saat kupandangi dua bulir keringat di dahimu
berkilau bagai lelehan kristal dari angin yang berhenti mengalir
Tiga kali seminggu aku khusyuk berdoa
agar waktu berhenti berjalan
saat kau mulai masuk ruang kelasku
02 February 2012
Cantik itu bukan kutukan
aku baru tahu bahwa kau juga tertarik padaku
dan kita jadi serupa dua tetes air hujan yang coba menyatu
Sembilan ratus detik yang kulewatkan setiap pagi
nikmati pendar mentari di matamu
adalah juga waktumu nikmati gemerlap rembulan yang belum beranjak dari mataku
Lusa adalah senin ke empat belas yang kita lewati bersama
dalam senyum yang ragu dan kata yang membeku
Maaf...
bahkan bila tujuh gerhana telah berlalu dan aku tak jua menyapamu
memujamu dalam imaji cukup sudah bagiku
Semoga tak menjadi kutukan atas kecantikanmu
Tadi Pagi
kami saling bertukar sapa
dalam sepi yang mengada
Berbagi cerita tanpa kata
dan semua luruh dalam tatapan mata
yang kami curi dan nikmati bersama
