27 August 2026

Hierarki Entitas Gaib

Dalam khazanah dunia gaib setiap entitas memiliki posisi dan kuasa yang berbeda.

Tingkatan paling rendah disebut Hantu.

Hantu adalah entitas pengganggu. Kekuatannya terbatas pada kemampuan menampakkan diri dalam wujud seram dan ganjil atau mengeluarkan suara-suara aneh dan meremangkan bulu kuduk. Ia muncul dari kegelapan, dari sudut mata atau dari remang bayangan. Tempat favoritnya adalah adalah daerah antara redup dan remang. Hantu bisa membuat seseorang ketakutan, berlari terbirit-birit atau terkejut setengah mati, tetapi dia tidak bisa menyakiti secara fisik

 

Di atas Hantu terdapat Setan.

Setan memiliki kemampuan yang lebih tinggi, wilayahnya bukan lagi panca indera manusia, melainkan menyusup jauh dalam pikiran. Dia mempengaruhi, memprovokasi menyebarkan agitasi murahan namun mengguncang keyakinan.

Setan tidak perlu menggerakkan manusia, dia membuat manusia bergerak dengan sendirinya.

Ia tidak dapat menyakiti tubuh manusia  secara langsung namun melalui pengaruhnya pada pikiran manusia dia bisa memicu kerusakan fisik.

 

Setelah Setan, terdapat tingkatan yang jauh lebih berbahaya, Siluman.

Siluman memiliki kuasa gelap yang cukup kuat untuk menembusi dunia manusia. Karena itulah kita sering mendengar kisah tentang penunggu pohon tua atau mata air, penguasa gua atau sebuah wilayah di pegunungan gunung, hutan, dan tempat-tempat wingit lainnya.

Kuasa siluman dalam menembusi jagat kasar memungkinkan mereka untuk melakukan hubungan transaksional dengan manusia.

Manusia memohon bantuan sambil memberikan upeti atau sesaji, dan siluman akan memberi bantuan bila nilai sesajinya cocok, pada beberapa kasus dibutuhkan bayaran tambahan berupa tumbal.

 

Dari hubungan transaksional inilah kita kemudian mengenal tentang pesugihan, penglaris, perlindungan atau tolak bala hingga bantuan untuk mencelakakan orang lain. Jenis siluman tertentu juga dapat menimbulkan kerusakan fisik misalnya pada santet dan tenung.

Meski memiliki kemampuan untuk menimbulkan kerusakan fisik dan menembusi jagat kasar, siluman biasanya memiliki batasan area atau keterikatan mereka pada objek yang menjadi punjer atau pusat area gaib mereka.

 

Entitas yang berada di puncak hierarki adalah Iblis.

Iblis bukan sekadar lebih kuat tapi juga memiliki kemampuan untuk mewujud sebagai manusia. Menembusi jagat kasar dengan lebih leluasa dibandingkan siluman, mempengaruhi manusia dengan lebih lihai dari setan, dan menciptakan ketakutan yang lebih seram dari hantu.

Siluman dapat membuat orang jatuh sakit melalui tenung, iblis dapat membuat ratusan ribu orang keracunan massal atau jutaan orang gagal mendapatkan pengobatan atas penyakitnya.

Siluman penunggu pohon tua bisa membuat orang-orang yang mau menebangnya jadi kesurupan tapi iblis bisa membabat ribuan hektare hutan hujan tropis dan menjadikannya monokultur sawit.

Siluman penunggu sendang atau mata air bisa membuat satu desa kekeringan bila telat mempersembahkan sesajen. Namun iblis dapat membunuh sungai dan pantai tempat puluhan desa mencari hidup.

Sesajen yang diminta siluman biasanya hanya berupa makanan, bunga, atau hewan ternak, tapi Iblis mengambil dengan lebih rakus, mereka mengeruk bumi, meratakan gunung dan melahap semua isinya sambil menyisakan kerusakan setelahnya.

 

Serupa hewan amfibi, Iblis hidup di dua alam. Di jagat gaib dia menggunakan perantara tumbal, sesajen, wangi dupa dan kemenyan, juga aneka ritual lainnya.

Namun ketika mewujud manusia, ritualnya sedikit berubah. Tumbalnya adalah rakyat tak bersalah, sesajen yang diberikan adalah proyek pengadaan serta konsesi saham, wangi dupa dan kemenyan berganti wangi rupiah dan dollar, semuanya diikat dalam perjanjian dan kontrak politik.

 

Karena itulah Iblis jadi sangat berkuasa, ia didukung sembilan puluh enam juta manusia dan aneka entitas gaib yang tak kalah banyak jumlahnya.

Hantu memujanya karena dari iblislah mereka mencicipi rasa kuasa.

Setan mengikutinya karena bisikannya selalu dituruti oleh iblis.

Siluman menghormatinya karena atas jasa Iblis kekuasaan mereka melampaui batasnya.

Manusia dengan sukarela memuja, mengikuti dan menghormatinya karena iblis mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Itulah sebabnya jangan marah kepada hantu yang cuma bisa menakuti orang kencing sembarangan atau siluman yang bisa mengirim santet pada pedagang kecil tapi tidak mampu memasukkan paku ke dalam perut pejabat culas.

Ketika gunung dikeruk, tanah digali hingga perut bumi terbuka, dan kekayaan alam diangkut keluar, jangan menunggu setan murka. Ketika ribuan hektare hutan dibakar, jangan berharap dedemit keluar dari balik pepohonan untuk menghukum pelakunya.

Mereka tahu siapa yang melakukannya, entitas yang jauh lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa. Jadi jangan heran jika para dedemit memilih diam, mereka hanya sedang menghormati olig eh... hierarki.

Tapi ini bukan tentang makhluk gaib.

 

28 August 2025

Aku Bukan Cinderella

    Ada masa ketika hidup jadi terlalu bising, namun kesepian justru makin lekat. Hari-hari berjalan lambat, seolah luka yang enggan mengering. Aku mulai menjauhi kantin kampus atau sekre himpunan, menghindari obrolan ringan, dan lebih memilih sudut-sudut sunyi yang tak menuntutku untuk berpura-pura baik-baik saja.

    Rasanya seperti baru kemarin, sendirian dan patah hati, aku terhanyut dalam keheningan toko buku, tenggelam dalam kisah-kisah yang bukan milikku. Nyaman membiarkan waktu berlalu tanpa terburu-buru. Hingga kamu datang memporak-porandakan semuanya.

    Mencoba meraih buku dari bagian atas rak, namun malah menyenggol sebaris novel hingga berhamburan menimpaku yang sedang jongkok dan sendu membaca Norwegian Wood. Aku mendongak kaget (dan sedikit kesakitan), menatapmu dengan alis terangkat, siap marah, tapi yang kutemui adalah wajah panik dan senyum nyengir yang terlalu jujur. Kamu membungkuk cepat, memunguti buku-buku itu sambil berulang kali meminta maaf dengan suara pelan tapi gugup. "Aku cuma... eh, nggak, maaf" katamu sambil menyodorkan satu buku ke arahku, entah untuk apa, dan kemudian seperti tersadar, sibuk menyusun kembali buku-buku di rak atas.

    Entah kenapa, marahku tiba-tiba menguap, bukan karena senyum nyengirmu, namun menyaksikan wajahmu yang merah padam dan tanganmu yang terbata-bata membuatku jadi kasihan juga.

    "Waktu itu aku pengen menyapa, tapi tidak berani berkata apa-apa, kemudian tanpa sadar tanganku sudah meraih buku ini" katamu beberapa minggu kemudian. ‘Tuhan Tahu tapi Dia Menunggu’ buku kumpulan cerpen Tolstoy favoritmu, yang akhirnya kamu berikan padaku dengan alasan “Aku pertama baca cerita ini saat kelas 5 SD, sayangnya judulnya diubah jadi ‘Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu’, ada nuansa yang berubah menurutku”.

    Aku tertawa saat itu. Entah sejak kapan, aku jadi lebih sering tertawa saat bersamamu. Lalu semuanya mengalir begitu saja, atau kamu menyebutnya, membiarkan diri kita dibawa suasana. Kamu tidak pernah memintaku jadi kekasihmu, tapi kita jelas lebih dari sekedar kawan membaca. Seolah berjalan berdampingan, seiring namun tak pernah bergandengan.

    Bagi mamah, kamu adalah bocah lucu penggemar mi goreng buatannya dan juga, seringkali, teman belanja ke pasar. Bagi ayah, kamu adalah teman ngobrol soal sejarah, juga teman main game dan juru oprek komputernya. Hadirmu di rumahku selalu dinanti meski tak pernah diharapkan berlebihan. Semacam sebuah kewajaran yang menyenangkan, walau selalu kebingungan saat harus menjelaskan pada mamah bahwa kita (mungkin) hanya teman. Kamu akrab dengan sahabat-sahabatku, dan mereka semua berkata bahwa kamu membuatku lebih sering tertawa, meski selalu saja mempertanyakan soal status kita.

    Mungkin aku sudah tahu sejak lama bahwa aku bukan satu-satunya yang mengisi hatimu, tapi aku berpura-pura tak melihatnya. Aku mengabaikan pesan yang sering terlambat kamu balas, akhir pekan yang tak pernah kita isi dengan kencan, atau foto seorang gadis di kamar kostmu yang kamu sebut ‘adinda’. Rasanya menerima separuh hadirmu lebih mudah daripada sepenuhnya kehilanganmu.

    Aku tahu itu salahku, terlalu ingin percaya, berharap pada sesuatu yang sejak awal menggantung tanpa nama. Aku mencintaimu dengan cara yang bodoh, tanpa syarat, tanpa tuntutan, bahkan tanpa kepastian. Dan kini aku dihukum oleh harapanku sendiri. Aku hafal caramu tertawa, diammu saat marah, dan binar matamu saat sedang jatuh cinta. Aku ingin percaya bahwa itu benar-benar untukku.

    Seperti waktu itu, nyaris tengah malam, tanpa berkabar, tiba-tiba kamu sudah di depan pagar rumah, membawa kantong plastik penuh es krim. Wajahmu kuyu, tapi kamu cuma bilang, “Aku habis mampir ke Circle K, terus tiba-tiba kangen.” Kalau saja aku tidak sedang jatuh cinta tentu kelakuanmu ini kuanggap gila. Malam itu, kita tidak bicara banyak. Memandang langit dari teras, sambil tersenyum diam-diam dan melumat es krim coklat.

    Ah, atau percakapan kita di pos polisi saat kita berhenti sejenak menunggu hujan. Kamu bilang kalau semalam bertengkar hebat dengan ‘adinda’-mu. Aku hanya diam, pura-pura tak sakit hati mendengarnya. Sungguh benar bahwa cemburu bukan sesuatu yang akan membunuhku, tapi jangankan menjadi kuat, ia cuma menyisakan luka yang bahkan tak berani kuucapkan.

"Was mich nicht umbringt, macht mich stärker."
“That which does not kill me makes me stronger.”
~Nietzche

    Barangkali itu sebabnya kamu selalu kembali menemuiku, kamu mencintaiku, tapi aku bukan alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan kekasihmu. Mungkinkah aku bukan sekadar pelarian, tapi bagian dari dirimu yang tak bisa kamu miliki?

    Aku tahu aku harus melepasmu, namun mengapa semua hal yang kulihat padamu, seperti upaya semesta untuk membenarkan perasaanku. Kalau saja waktu lebih berpihak padaku dan kamu tak sepengecut itu, mungkin kita bisa menjadi kekasih yang sesungguhnya. Sialnya semua itu hanya 'kalau saja', dan aku benci itu.

    Malam itu udara Bandung cukup sejuk, namun terasa terlalu tenang untuk kegelisahan yang diam-diam tumbuh. Gerimis sudah reda, tapi aspal masih basah, memantulkan cahaya lampu jalan yang buram. Kita menyusuri jalanan di atas motor, dan kamu tak secerewet biasanya.

    Kau mengantarku pulang lebih awal malam ini. Biasanya kita masih betah nongkrong di gerai ayam goreng Amerika, sambil asyik membahas buku yang baru kita beli, atau sekali waktu menghabiskan waktu hingga tengah malam nonton tukang sihir Eropa di bioskop. Tadi kau hanya berkata, “Ayo, aku antar,” dan aku tak sempat bertanya kenapa. Mungkin aku tak benar-benar ingin tahu jawabannya.

    Memeluk pinggangmu jadi terasa canggung malam itu. Aku tak berani mempereratnya, entah jengah atau malah marah.

    Motor melambat di depan gerbang rumah. Aku turun pelan-pelan, berusaha menata napas dan bersikap biasa saja. Mesin motormu masih menyala, kulirik hapeku—baru pukul sembilan malam.

“Udah ya, aku langsung saja” katamu, sambil nyaris tidak memandangku.

    Aku masih termanggu di depan gerbang, masih menggenggam jemarimu, hingga tanpa kusadari kalimat itu keluar.

"Hei…aku bukan Cinderella, dan kamu bukan seorang pangeran," ucapku pelan, setengah bergurau tapi setengahnya lagi… sungguh-sungguh.

"Jadi mengapa mesti kita berpisah sebelum tengah malam?" lanjutku sambil berusaha tersenyum.

    Namun senyum itu gagal muncul, yang keluar hanya napas pendek yang nyangkut di dada. Kamu memalingkan wajahmu memandangku, tersenyum tipis dan mengetatkan genggammu di jemariku. Senyum yang biasanya langsung meluluhkan hatiku, namun tidak malam ini.

"Karena adindaku tiba dengan kereta pukul 23.15," jawabmu lirih.

Oh!

    Sekejap waktu membeku, rasanya seperti berhenti di tengah hujan tanpa tahu harus berteduh di mana. Tiba-tiba jadi tidak bisa kupahami apa yang sedang terjadi. Tatapan lembutmu saat di kafe kecil tadi, obrolan ringan diatas motor sepanjang jalan. Bahkan senyummu saat memberikan kado kecil untukku adalah senyum termanis yang pernah kulihat—mendadak semuanya seperti kabut dingin tersapu angin malam.

".…lalu kita…..?" tanyaku, nyaris berbisik.

Kamu menarik napas dalam, lalu menjawab perlahan. "Kamu…..bintang jatuhku."

    Aku terdiam. Bukan jawaban yang kumau. Tapi kenyataan kadang tak punya cara halus untuk menyelinap masuk ke hati, bahkan meski dibungkus istilah yang indah.

"Dan dia?" tanyaku lagi.

"Dia… rembulanku."

    Seharusnya aku marah dan menyuruhmu pergi, tapi aku justru makin berat melepas jemarimu, menahan napas dan menimbang, apa masih sempat bila aku memohon agar kamu tetap tinggal? Apa aku bisa menahanmu, meski aku tahu hatimu bukan untukku? Bagaimana kalau kamu memilihku saja? Bagaimana jika malam ini, kamu batalkan semuanya dan tetap disini bersamaku? Kita bisa mulai dari awal lagi, menyusun cerita yang belum sempat kita tulis.

    Angin malam meniup sudut mataku yang mulai lembap. Entah dingin atau perih. Entah karena cuaca, atau karena sesuatu yang mulai pecah di dalam dada. Aku ingin menangis, tapi terlalu anggun untuk itu.

"Jadi aku cuma sesuatu yang lewat, ya? Melintas sesaat, dan kemudian usai" sebuah tanya untukmu yang lebih mirip sebuah penghiburan kepada diriku sendiri.

Kamu diam, tak membantah, dan mungkin itu yang paling menyakitkan.

"Kalau begitu, pergilah. Jangan sampai kamu terlambat menjemput rembulanmu."

    Kamu seperti ragu sejenak. Mungkin ingin berkata maaf, mungkin ingin mencium keningku untuk terakhir kali, tapi tidak satupun yang kamu lakukan. Hanya melangkah mundur, lalu berbalik pergi, tak menoleh lagi.

    Aku tetap berdiri di situ, memandangi punggungmu yang menjauh. Rasanya aneh, hatiku kosong namun terasa sesak.

    Aku tak langsung masuk rumah, aku perlu mendinginkan hati dan kepalaku. Kulangkahkan kaki, duduk di bangku panjang di sisi jalan, mencoba mengurai pikiranku, mencoba mengendapkan kemarahan yang membuncah sekaligus mencoba menguatkan bendungan air mata. Aku membuka kado kecil yang tadi kamu berikan. Sebuah buku catatan kecil bergaya klasik, dan di halaman pertama kamu menulis, "Untuk semua cerita yang belum sempat kita tulis."

    Air mataku langsung runtuh. Bukan karena buku itu, tapi karena aku sadar, kita memang tak pernah menulis apapun. Semua kenangan kita hanya mengawang-awang, dan aku, terlalu ingin percaya bahwa itu bisa menjadi nyata.

    Jalanan sepi, hanya terdengar rintik kecil dari ujung genting. Kupandangi langit yang penuh awan kelabu, membayangkan kamu tengah tertawa bersama ‘rembulan’-mu. Sementara aku akan tetap menjadi bintang jatuh yang cahayanya hilang ditelan gelap malam.

Aku bukan Cinderella. Tapi tetap saja, malam ini, aku kehilangan pangeranku, sebelum tengah malam.


    Beberapa hari setelahnya, aku sempat melihatmu di toko buku yang sama tempat kita pertama kali bertemu. Kamu bersama seorang perempuan, bukan sedang memilih novel, kalian sedang tertawa sambil membaca komik yang sama. Ia menggenggam tanganmu, dan kamu memandangnya dengan senyum yang kukenal. Aku ingin marah, tapi tak sanggup. Aku menunduk, lalu melangkah pergi sebelum kamu sempat melihatku. Aku tidak ingin mengganggu pemandangan yang tampaknya sudah sempurna. Malamnya, di halaman kedua buku catatan itu, kutulis

"Terima kasih karena pernah singgah. Terima kasih karena akhirnya pergi."







11 June 2025

Pagiku, mungkin bukan untukmu


 Pagiku

Hujan turun tapi tak juga reda


Padamu

Hatiku jatuh tapi ini bukan cinta


Pagi masih terlalu

Malam belum berlalu

Hati masih meragu

Rindu belum penuh olehmu


Masih terlalu pagi

Pekat belum pergi

Entah harus tinggal atau terus mencari

Ragu, hati ini belum ingin terbagi


Kuharap ini bukan pagi

dan malam berputar sekali lagi

Kuharap kisah kita belum terjadi

dan tak perlu ada yang tersakiti



...ditulis saat teringat suatu sore di kota Bandung, pada sebuah sudut Balubur, untungnya sekarang sudah digusur jadi mal.