Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts

18 March 2015

Pameran sebagai Ajang Pamer

    Minggu kemarin saya menulis bahwa minggu ini saya akan menambah postingan di Blog ini, kalaupun tidak terpenuhi maka akan menjadi sebuah hutang. Nah karena tidak ingin berhutang maka saya memaksa diri untuk menulis, kemudian berhenti di baris ketiga karena bingung hendak menulis apa. Ah ya sudahlah, ini saja.

Jakarta Toys and Comic Fair

     Minggu kemarin tanggal 8 saya hadir di tengah-tengah acara JakToys Fair. Mudah diduga dari judulnya bahwa acara ini isinya adalah mainan dan komik. Sebenarnya 95% nya adalah mainan, terutama didominasi oleh Action Figure dan Plamo. Tidak perlu antri karena saya sudah membeli tiket presale di Indomaret jadi langsung mengambil jalur paling kiri, menukar tanda pembayaran, distempel dan masuk ke area Toysfair dan langsung disambut oleh Iron Man (MK 42 kalau tidak salah) berbelok ke kanan dan menyaksikan deretan Iron Man berbagai varian, juga Tony Stark, Star Wars dan Maleficent

 

     Dilanjut dengan Booth S.H.Figuarts dan Ibu Aditya langsung heboh minta foto bersama Figures One Piece
 

      Melihat aneka rupa figure One Piece ini memang mengundang hasrat tapi saat melihat harganya (dan harus beli satu set) langsung terpikir ah nanti beli yang KW saja lah T_T hiks..

      Dan seharian itu kami melewatkan waktu dengan berputar-putar diantara mainan, menghabiskan baterai kamera dan memenuhi diri dengan rasa riang gembira.

      Siangnya setelah makan kami ke basement untuk ke toilet dan sholat  (ndak boleh ditulis, nanti riya ^_^) disana sempat ngobrol dengan petugas keamanan. Bapak petugas ini heran kenapa saya nonton mainan, apa saya mau beli untuk anak saya, lantas kenapa anaknya tidak diajak saja biar milih sendiri. Akhirnya saya jawab secara sederhana saja, cuma lihat-lihat pak, sepertinya seru. 

       Kemudian berlanjut dengan nonton Cosplay dan foto-foto mainan lagi hingga pukul 15.30 saat akhirnya kami memilih pulang.

Pameran Berikutnya IFFINA 2015 

       Jadi karena satu dan lain hal maka saya ikut hadir di parkir timur Senayan untuk meramaikan suasana di booth Indoteak di IFFINA (Indonesian Furniture and Craft Fair Indonesia) sekedar menambah semarak kawan-kawan yang lagi punya gawe pameran rotan.

 


      Event ini cukup ramai dihadiri para pelaku bisnis furniture, craft, trading, konsultan, kontraktor pameran. Jelas bahwa membayar ticket event senilai Rp.100.000 adalah hal yang sebanding dengan peluang mereka untuk bertemu dengan penjual atau orang-orang yang se'aliran' dengan mereka. 

       Peluang bisnis, kerjasama atau juga kesempatan untuk bertemu orang yang memiliki kesamaan minat adalah hal yang diharapkan saat kita datang ke sebuah pameran semacam ini, atau mungkin juga ini cuma cara pandang kelas menengah macam saya yang melihat dan berharap segala hal bisa jadi peluang untuk meningkatkan taraf hidup ^_^ 

      NB : Ditulis sambil diam-diam berdoa dalam hati semoga diberi kesempatan datang ke event                       sekelas E3 atau TGS












13 November 2008

Lanjutan yang kemarin, dikit aja

Ok kita lanjutkan perjalanan menuju hutan.

Setelah perjalanan semalam, pagi ini kami melanjutkan ke camp utama wilayah pertambangan ini. Ditempuh selama kurang lebih 3 jam dari pemukiman terdekat, melintasi jalanan berlumpur yang jelas membuat sebuah Jaguar menjadi tidak jauh beda dengan sebuah bajaj (Kalau anda nggak paham dengan kalimat tadi, saya juga). Yha pokoknya setelah berpanas-panasan diatas Strada akhirnya kami nyampe di Camp Mer-mer.Reaksi pertama jelas kaget dulu, soalnya benar-benar tidak sesuai dengan apa yang digambarkan pada waktu sebelum keberangkatan. Well whatever, the show must go on.

Seminggu kemudian nggak ada yang istimewa, siap-siap, survey-survey, 2 kali naik turun bukit untuk nentuin Benchmark atawa BM. Hingga 7 hari kemudian kami turun kembali ke Ternate untuk menjemput tim Topografi. Ehm... udah gitu aja

24 October 2008

3 Bulan di Tengah Belantara

Buat semua orang yang udah buka blog ini dan ngerasa kecewa dengan isinya yang tidak mengalami perubahan berarti beberapa bulan ini. Kali ini saya coba merangkum dengan singkat apa saja yang telah terlewatkan sejak setahun kemarin.


Sudah setahun lewat saya tinggalkan Bandung(dan saya masih selalu merindukannya.) Setahun kemarin saya mulai bekerja di Jakarta, jadi salah besar kalau anda mengira saya meninggalkan Bandung karena diusir Pak RT atau karena kena operasi penertiban pengangguran ^_^

Saya meninggalkan Bandung untuk bekerja di Jakarta, yah ibukota negara kita ini, yang meski panas, berdebu, macet, sering banjir, tingkat kriminalitas tinggi, standar gaji masih sering tidak sesuai dengan biaya hidup, dll, dst, dsb toh tetap saja menjadi tempat berpusarnya jutaan manusia yang mengais rejeki.

Sejak bulan puasa tahun kemarin saya bekerja di sebuah perusahaan pengeboran kelas menengah kesamping yang berlokasi di Tangerang (udah lah pokoknya itu Jakarta juga) awalnya saya masuk ke perusahaan itu sebagai Drafter atawa juru gambar. Sehabis libur lebaran (setelah sekitar dua minggu bekerja) saya ditugasi menjadi Site Manager project Deep Well di Bintaro. Cerita mengenai ini dan beberapa project lain mungkin saya posting lain waktu saja, soalnya saya mau cerita soal project yang terbaru nih


Halmahera


Nah buat preview klik foto-fotonya dulu ya
  • Halmahera




  • Perjalanan menuju Halmahera ini bukannya tidak terprediksi, namun memang terlalu singkat waktu untuk persiapan menuju kesana. Mulai dari persiapan mental, persiapan barang-barang kebutuhan hingga persiapan mengenai proyek itu sendiri. Pamitan ke orang-orang terdekat saya, mempersiapkan berbagai benda yang mungkin akan saya perlukan. Dan hingga hari H tiba rasanya masih belum siap juga.

    Keberangkatan kami diawali dengan terlambat bangun, salah jalur keberangkatan, sempat distop karena barang bawaan (mata bor) yang mencurigakan dan kelebihan beban, hingga baru bisa bernafas dengan lancar setelah duduk di kursi Lion Air, dan melayanglah kami ke Manado. Transit dan berganti pesawat Trigana Air ke Ternate, tentu saja setelah sukses menyuruh seluruh penumpang, pilot dan mbak pramugarinya menunggu kedatangan kami. Pesawat kali ini cuma pesawat baling-baling, kecil, nggak pake AC tapi entah kenapa lebih nyaman kursinya (meski lebih panas), lebih cantik mbaknya (lebih natural ga kebanyakan make up)dan gak lupa juga dikasih kue.

    Kemudian siang hari sekitar jam 13.00 WIT kami mendarat di Ternate. Bingung dan masih ngerasa ga jelas, hingga kemudian bisa menghubungi pihak klien yang orang Cina (Cina beneran lo) dan tetep aja bingung karena si Cina nya ga paham bahasa kita kitanya juga ga paham bahasa mereka. Tapi kita tahu kalo si Cina ini nginep di Hotel Boulevard jadi meluncurlah kami kesana.

    Setelah ketemu, salam-salaman dan ngobrol dengan bahasa campur aduk antara bahasa Ingris, bahasa Cina dan bahasa Tarzan, kami sepakat untuk berangkat keesokan paginya sekaligus menunggu barang kami yang belum tiba (entah kenapa beberapa bagasi kami terkirim ke Jogja).

    Jadi kami lewatkan sepanjang siang dan sore itu di hotel didepan laut, keren ^_^ seneng banget karena udah lama kangen laut. Ngobrol, becanda, telfon dan sms orang-orang dekat saya, pokoknya menyombongkan dan berusaha membuat mereka iri dengan apa yang ada didepan mata saya.

    Malamnya kami makan di restoran di dekat hotel ditraktir oleh mr. Lee, dan dengan bahasa ingglis yang berantakan mereka pesan nasi goreng dan jus jeruk. Kami juga terpengaruh untuk ikut pesan nasi goreng, tapi untuk minumannya kami bertiga sepakat dengan jus alpukat. Nah ketika si minuman ini datang, si mr. Wan tertarik buat mencoba dan dia langsung mengajukan opsi untuk menukar jus alpukat pak Sahat dengan jus jeruk miliknya, tentu saja dia cuma bisa mengiyakan (sebenarnya dia pengen banget lo, soalnya sampai malam hal ini bakal masih menertawakan dia)

    Setelah makan hujan masih juga deras dan bahkan ketika kembali ke kamar ternyata diatas televisi sudah basah kuyup. Alhasil kami minta tukar kamar, dan masih sempat ngisengin pak Cardo yang bingung nyariin kamar. Setelah ngobrol-ngobrol ringan malamnya kami tidur dan bangun keesokan harinya untuk melanjutkan hidup eh tugas maksudnya.

    Sesuai kesepakatan sebelumnya, pak S dan pak C akan ke bandara untuk mengurusi peralatan kami yang terlambat hadir sedangkan saya akan menemani para mr dari China dan menuju ke lokasi proyek terlebih dahulu apabila ternyata pak S terlambat. Nah maka berangkatlah saya dengan para mr dari China ini menuju pulau Halmahera, kami meluncur menuju Sofifi.

    Seharian menunggu hingga matahari mulai miring ke barat, dan akhirnya pak S dan C datang dilanjutkan dengan segala kerepotan mengatur barang, membagi-bagi muatan, dan akhirnya pak S dan C terpaksa harus menumpang mobil umum (kalo ga salah Avanza) sedangkan saya cukup bahagia berada di dalam Strada.

    Perjalanan selama kurang lebih 6 jam yang terasa nyaris seperti satu dasawarsa itu kemudian berakhir juga. Malam ini kami menginap di Sub Pemukiman I, sebuah kawasan pemukiman penduduk yang dibuat dan diatur pemerintah dan dibaurkan dengan penduduk pendatang yang mengikuti program Transmigrasi. Ok capek banget nih, untuk kelanjutan cerita menuju Camp Mer-mer dilanjut di posting berikutnya yah ^_^

    14 May 2007

    600Km plus Menuju Rumah

    Akhirnya blog ini punya fasilitas Labels, berarti anda bisa menemukan posting berdasarkan topik atau label tertentu. Akan tetapi, tetapi akan, ada satu hal yang bikin saya malu, setelah diberi label ternyata posting mengenai perjalanan atawa journey kok cuma 6 ekor, padahal waktu saya memulai blog ini dengan gagah berani saya beri judul "The Journey Begins" ^_^ Alhasil saya jadi merasa punya hutang untuk memperbanyak postingan mengenai catatan perjalanan saya. Berikut ini adalah perjalanan saya pulang ke rumah yang dikarenakan dilakukan pada saat menjelang lebaran maka lebih asyik disebut mudik.


    Awalnya...

    Awalnya biasa saja, eh bukan awalnya tentu saja niat sedari dahulu kala untuk berkendara dari Bandung ke Madiun, sayangnya motor Yamaha Alfa 1989 jelas bukan pilihan tepat sebagai partner melintasi aspal sepanjang 600 Kilometer. Hingga akhirnya motor tersebut dipensiunkan dan tugasnya digantikan oleh Honda GLMax. Bukan hal yang mudah buat saya untuk berpindah ke lain tunggangan, bagaimanapun bersama Alfa saya telah menempuh beribu kilo dan beratus putaran jarum jam, mungkin lebih.

    Bagaimanapun akhirnya saya berganti motor juga, dan saat itulah saya memutuskan bahwa suatu saat saya harus bisa pulang dengan motor ini. Akhirnya kesempatan itu tiba ketika seorang teman menawarkan diri, atau lebih tepatnya sebuah basa-basi yang saya tanggapi dengan sangat serius, untuk mudik dengan berkendara. Dengan segenap tenaga sepenuh jiwa saya segera menyiapkan rencana untuk pulang dengan berkendara, namun rencana tinggal rencana, jadwal libur yang berbeda memaksa saya pulang dua hari menjelang lebaran.


    Rencana berubah

    Perjalanan yang seharusnya menjadi sebuah kesempatan bagi saya untuk mempelajari medan, jarak tempuh dan kondisi jalan tiba-tiba berubah menjadi semacam ujian mendadak. Oke, hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana tapi tanpa rencana bukan berarti tanpa persiapan.

    Dalam setiap perjalanan yang paling penting kita ketahui tentu jalannya, setidaknya kita tahu akan menuju kemana kita, apa yang akan kita lewati, dan setidaknya juga pengetahuan singkat tentang perjalanan itu. Browsing dan googling di internet, cari peta perjalanan, biasanya menjelang mudik lebaran banyak beredar peta jalan lengkap dengan jalur alternatif dan info lainnya. Tanya ke semua orang "Tahu jalan kalau mau ke Jogja nggak?" biasanya dijawab "Wah nggak tahu, kenapa?" atau "Ke arah timur mas" duh....

    Berangkat!

    Sengaja saya niatkan untuk tidur sejak sore, maksudnya ketika subuh nanti saya berangkat saya sudah cukup istirahat, tapi justru saya tidak bisa tidur. Mungkin mirip dengan anak kecil yang besok paginya mau berangkat darmawisata SD. Dalam kondisi setengah tidur (tidur kok setengah) aneka rupa pikiran melintas, cemas, gembira, ragu-ragu dan aneka rupa bayangan bikin otak saya terus beraktifitas. Jam 2 seiring dengan panggilan sahur dari masjid sebelah kamar, saya bangun, mengecek sekilas tas dan bawaan saya yang lain dan kemudian berangkat....menuju warung buat beli sahur.

    Duh ternyata ibu warung yang orang Tegal sudah mudik duluan, untung di warung satunya yang pemiliknya orang Bandung masih buka. Makan, mandi dan aneka rupa persiapan lain sudah dilakukan, jam masih menunjukkan pukul 03.15 pagi. Sempat terpikir untuk segera berangkat, tapi seperti biasa pada saat-saat saya melakukan perjalanan ada kecenderungan untuk menjadi lebih alim, jadi saya tunggu adzan subuh, sholat, dan langsung berangkat.


    Awal perjalanan

    Sambil meluncur dengan gigi netral saya memainkan gas perlahan, memanaskan mesin, menyatukan perasaan, menyelaraskan harmoni (halaaah...) Point awal tentu saja terminal Cicaheum, dengan harapan kalaupun saya tidak yakin dengan rute saya, saya masih bisa mengacu pada jalur bis antar propinsi. Seperti yang saya duga terminal Cicaheum dipenuhi oleh para mudikers atawa para pemudik, sebuah bis jurusan Jogjakarta melaju di kejauhan, segera saja saya kejar, saya dahului dan mengejar bis lain lagi didepannya, terus dan terus hingga membawa saya melintasi Cibiru, keluar dari wilayah kota Bandung. Melintasi Sumedang, melintasi jajaran penjual tahu Sumedang di sepanjang tepian jalan.

    Saya lebih sering pulang dengan menggunakan jasa kereta api dan hanya sekali menggunakan bus. Maka berangkat dari pengalaman yang cuma sekali itu maka saya tetapkan point berikutnya adalah Purwokerto. Matahari sudah mulai bersinar ketika saya meninggalkan kota ini, silau! Sepanjang perjalanan saya mencoba menikmati perjalanan meski seringkali perasaan takut kesasar menggelitik saya tetap (mencoba) yakin dengan setiap jalan yang saya pilih.

    Dengan tetap mengacu pada jalur utama dan menghindari jalur alternatif motor saya pacu pada kecepatan standar 60km/jam sambil sesekali mencari-cari bus jurusan Purwokerto. Sempat juga melewati Jatiwangi, kalau tidak salah disini merupakan daerah yang terkenal dengan produksi gentengnya (kayaknya pernah disinggung di kuliah bahan bangunan) lalu meluncur ke daerah Palimanan. 3 jam berkendara ditambah mulai jarangnya penunjuk jalan membuat saya memutuskan untuk berhenti. Sebuah warung yang didepannya penuh truk-truk besar (kalau nggak besar namanya trik) menjadi pilihan untuk rehat sejenak. Di seberang warung saya duduk di tepi jalan, sambil bersandar dipohon dan mengecek ulang peta, kalau sekarang bukan waktu puasa maka ke warung sambil ngobrol dengan para supir truk adalah pilihan yang bagus. Dengan sikap yang baik dan tawaran rokok anda bisa mendapat informasi yang menarik mulai dari kondisi jalan hingga berbagai informasi tambahan lainnya.


    Setelah 15 menit berhenti, motor kembali dinyalakan (emang kompor?). Jalanan mulai terasa ramai, panas mulai menyengat padahal belum genap pukul sembilan pagi. Point acuan berikutnya adalah Brebes, dengan sedikit (maaf) meraba-raba kondisi jalan, saya mulai ingat bahwa saya pernah melewati jalan ini sewaktu naik bus. Merasa yakin saya langsung tancap gas, apalagi pada penunjuk jalan terlihat bahwa Brebes sudah cukup dekat. Yeahhh...Priiitttt!!!!! Lho? Waduh saya pikir pasti polisi nih, dengan sigap gempita saya langsung bertanya

    Saya : "Ada apa pak?!"
    Pak P: "Maaf mas, dilarang masuk jalur ini"
    Saya : "Lho?! Kenapa pak?" (masih emosi)
    Pak P: "Soalnya ini jalan tol mas, hanya boleh buat kendaraan beroda empat atau lebih"
    Saya : "he? (dengan tampang yang bodoh dan malu sekali) terus saya lewat mana pak?"
    Pak P: "Mas muter dikit aja terus lewat jalan yang lurus"

    Duh rasanya malu tiada kepalang, untungnya yang memberhentikan saya tadi adalah petugas pengawas jalan TOL. Sambil nyengir saya memutar dan mengambil jalur normal, ah biarlah pikir saya toh besok juga belum tentu bertemu lagi ^_^

    Akhirnya sampai juga di terminal Brebes, kondisi jalan yang padat merayap membuat saya memilih untuk menepi, sembari menyaksikan penumpang dan calon penumpang berdesakan di mulut terminal sempat juga melayangkan pandang ke sekitar terminal, banyak penjual telor asin dan pindang telor. Merasa yakin bahwa kemacetan ini masih akan berlanjut lama saya starter motor dan meluncur ke Tegal.

    Daerah Brebes dan Tegal adalah daerah tepi Pantura jadi aroma asin (laut! bukan keringet saya) tercium di sepanjang perjalanan. Masuk Tegal langsung keluar lagi ke arah selatan menuju Slawi di daerah ini banyak terdapat penjual teh poci (teh dalam cerek kecil, terbuat dari tanah liat), baik tehnya saja maupun teh dan pocinya. Banyak orang yang meyakini khasiat teh ini untuk kesehatan. Selain karena teh merupakan minuman yang banyak memberikan manfaat kesehatan, gula batu juga baik untuk mereka yang harus mengurangi konsumsi gula. Bahkan karena khasiatnya teh wasgitel (wangi, panas, sepet, legi, kenthel) ini maka sempat pula muncul ungkapan seperti ini.

    Teh poci gula batu, sampai pagi juga mampu

    Mampu nge-teh maksudnya ^_^

    Dari Slawi terus ke selatan hingga memasuki wilayah Bumiayu, dan terus berlanjut hingga ke Ajibarang. Seharusnya dari Ajibarang bisa langsung ke timur untuk mencapai Purwokerto, namun dengan insting ala kadarnya saya justru berbelok ke Wangon baru kemudian ke Purwokerto, nggak masalah ^_^ Di Wangon ini sempat berhenti untuk sholat Duhur dan sekalian Ashar di sebuah musholla milik sebuah SPBU, sempat ngobrol juga dengan seorang pengendara yang hendak menuju Purwokerto.

    Dari Purwokerto bila hendak menuju Jogjakarta maka normalnya perjalanan diarahkan ke Kebumen, Purworejo, Sleman Dst hingga ke Jogja. Namun apa daya saya justru menuju Semarang, tentu saja ini bukan karena nilai Geografi saya yang tidak pernah lebih dari 9 terbalik melainkan karena Kebumen itu di utara dan Wonosobo itu di selatan.

    Semarang, aku dataaaang!!

    Purbalingga dan Banjarnegara jelas beda dengan Probolinggo dan Bojonegoro, tapi itu tidak penting, setelah melintasi kedua daerah diatas saya melintasi Wonosobo yang terkenal dengan dataran tinggi Dieng. Mungkin di lain kesempatan saya akan mencoba lagi kesini untuk menyaksikan telaga warna dan menyaksikan tanah para dewa ("Di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna dewa). Sambil sedikit menyerempet tepian Semarang dan merasakan panasnya saya kembali mengarah ke selatan.

    Matahari sudah bersiap untuk terbenam ketika saya keluar dari Ungaran, memasuki Salatiga langit sudah tidak bisa dibilang merah meski maghrib belum tiba. Selintas muncul nostalgi waktu dulu di Merbabu. Disini saya mulai memacu motor sedikit kencang, selain sudah cukup kenal dengan rute menuju Solo rasa enggan untuk melintasi hutan di Mantingan pada malam hari membuat saya memilih untuk berkendara lebih cepat.

    Begitu masuk Solo saya mulai sadar bahwa melintasi Mantingan pada malam hari memang tak terelakkan, akhirnya saya memilih berhenti dan minum Pocari untuk berbuka. Yang pasti bukan karena minum Pocari lantas saya punya ide untuk pulang ke Madiun lewat Cemoro Sewu. Maka sambil mengisi bensin ala kadarnya saya mencoba bertanya kemana jalur menuju Cemoro Sewu. Dalam bayangan saya kalaupun saya kemalaman di tengah jalan saya toh masih bisa ngopi dan istirahat di Cemoro Sewu. Berada di kaki gunung Lawu menjadikan Cemoro Sewu sering dikunjungi pendaki.

    Karanganyar, diantara dua jalur menuju Kebakkramat dan Karangpandan saya pilih Karangpandan. Merasa yakin dan percaya pada penunjuk jalan menuju Cemoro Kandang (Cemoro Kandang merupakan wilayah Jawa Tengah, sedang Cemoro Sewu merupakan wilayah Jawa Timur) saya tancap gas. Baru saja berjalan sepuluh menit saya putar balik arah motor. Bagaimana lagi wong jalannya makin kecil, masih ditambah harus melintasi jalan sepi nan gelap dekat sebuah rumah sakit pula. Uhhh....(Oke silahkan ditertawakan)

    Akhirnya sebelum menuju Mantingan saya mampir di warung kopi, sambil menyeruput kopi dan ngobrol dengan si bapak pemilik warung (yg punya anak manis) saya mengunyah lombok lebih banyak dari tahu. Ya, tujuannya memang biar kepedasan, sebab dengan kepedasan maka konsentrasi saya meningkat (untung nggak sakit perut^_^). Berdasarkan informasi dari si bapak, jalanan bakal rame dan ini berarti akan banyak teman di perjalanan.

    Selepas Isya saya meninggalkan warung kopi tersebut. Mendung membuat langit semakin gelap, saya kencangkan cover backpack saya, hujan bakal membuat jalur Mantingan makin sulit. Kendaraan masih cukup ramai, mulai dari kendaraan pribadi hingga bus, truk dan beberapa sepeda motor, lumayan juga meski harus memacu motor disela bus yang seringkali nekat banting kanan-kiri. Setengah perjalanan melintasi Mantingan hujan turun bagai ditumpahkan, memandang kedepan diantara dentuman hujan cuma lampu belakang mobil didepan yang bisa jadi acuan. Sialnya mobil dibelakang terus menggunakan lampu sorot (dim) dan benar-benar mengganggu saya hingga akhirnya spion saya tekuk ke bawah.

    Hujan masih terus tumpah hingga akhirnya saya melihat tulisan "Selamat datang di Madiun" Laju motor mulai saya perlambat, capek, pantat kebawah mati rasa, wajah terasa panas oleh gempuran hujan, tangan kebas, tapi saya bahagia. Yesss....

    Saya lupa berapa kilometer perjalanan hari itu, yang saya ingat total waktu tempuhnya 18 jam plus istirahat. Kecepatan terbaik saya dari sekitar 8 kali perjalanan Bandung Madiun PP adalah 8 jam untuk 600Km, dihitung mulai keluar kota Madiun hingga masuk ke Bandung. Oh ya jangan percaya kalau si Farhan bilang 500Km ga berasa, apapun motor anda 500km tetap berasa, buktikan ^_^.

    07 October 2006

    Foto-foto pas di Arjuna



    Ini merupakan peta kontur dari gunung Arjuno





    Kita berada diatas awan!!! l




    Ini foto bareng dengan mereka yang udah minjemin kita tenda ^_^






    Di Puncak Brrrr.....





    Di tengah kebun teh, sepulang pendakian






    Yang dipuncak lagi...






    negeri diatas awan *_*






    Sunrise





    Sunrise juga....

    Perjalanan Naik Gunung Arjuna Part II

    Sudah baca gunung Arjuna Part I ?
    Kalau belum ya silahkan baca dulu, kalau sudah, ini lanjutannya



    Tiba di Lawang kami masih harus menempuh beberapa kilometer lagi menuju daerah kebun teh Wonosari atau pos awal pendakian Gunung Arjuna. Mas Bibit sendiri cuma bisa mengantar kami sampai disini sebab dia langsung kembali ke kampus buat ujian. Suasana disini benar-benar membuat hati tenang, segar, nyaman sekaligus membuat kita merasa diundang untuk bercengkerama dengan alam. Sulit buat saya untuk menggambarkan suasananya, tapi saya coba deh, awan yang sedikit kelabu berarak perlahan, kabut tipis yang tertiup angin sejuk membawa bau rumput dan wangi aroma daun dan bunga teh. Mungkin polusi belum menyentuh daerah ini, kepulan knalpot motor yang cuma beberapa, asap dapur rumah-rumah penduduk langsung termurnikan oleh jutaan daun disini. Coba deh anda kesana dan silahkan tarik nafas dalam-dalam, isi paru-parumu dengan kesegaran yang tidak akan kamu dapatkan di kota (semoga kalau anda kesana sekarang anda masih bisa merasakan suasana yang sama).

    Sementara saya sedang mengisi buku laporan pendakian di pos PHPA, teman-teman cowok mengisi air, mentah tentunya, dan yang cewek merapikan packing. Pada waktu mengisi buku pendakian itu ada satu hal yang menarik saya, saya adalah ketua rombongan termuda di buku tamu itu ^_^ konyol ya?. Setelah selesai dengan segala tetek bengek macam air minum, cemilan, jas hujan atau poncho, de el el kami berdoa bersama semoga sukses, dan dengan segala semangat yang ada kami berangkat. Titik awal tujuan kami adalah sebuah bangunan terbuka berlantai semen dan beratap seng yang terletak ditengah-tengah kebun teh. Sambil mulai berjalan saya mulai mengatur urutan kelompok kecil ini, dengan saya berada paling depan, Uu' di tengah dan Dibyo paling belakang, mungkin anda bertanya lantas cowok yang satu lagi dikemanakan, sama, dia juga bertanya begitu. "Mas, lha aku gak dihitung?", entah karena pikiran yang lagi banyak atau memang pada dasarnya saya sendiri kurang 'pas' dengan dia, selama perjalanan itu saya lebih sering cuek ke dia. Salah satu kejelekan saya memang, yah meskipun sekarang sudah sedikit berkurang (dikiiit...lho)

    Beberapa menit kemudian kita sampai di bangunan tersebut, istirahat juga meski belum capek, toh baru beberapa ratus meter kami melangkah. Sholat, makan cemilan, ngobrol-ngobrol, dan perjalanan kembali berlanjut. Tengah hari sudah lewat tapi awan tipis masih berarak pelan menutupi panasnya matahari, cerah tapi sejuk, cuaca yang pas mengiringi kami menyusuri jalan setapak ditengah-tengah kebun teh. Tujuan kami berikutnya sudah terlihat mata, kumpulan pepohonan dengan ketinggian sedang. Dari kejauhan warna daun-daunya berpadu dengan warna tanah yang kemerahan terlihat kontras dengan warna batang pohonnya yang coklat terang.

    Memasuki daerah pepohonan ini jalanan mulai menyempit, bila tadi di kanan kiri kami adalah pepohonan teh yang setinggi pinggang maka sekarang disisi kami adalah batang dan ranting pohon, lumayan, cukup membantu kami dalam mengatasi licinnya jalan setapak ini. Musim penghujan memang memberi keuntungan dengan jaminan bahwa akan ada cukup air, tapi hujan juga yang melicinkan jalan setapak yang sebagian besar komposisinya adalah lempung ini. Licinnya jalan rupanya bukan gangguan besar buat kami, yang ada justru perasaan seru. Eh tapi kok semakin jauh berjalan tubuh saya terasa makin berat, ditambah panasnya mata dan rasa ngantuk yang menghentak-hentak kepala membuat saya memutuskan untuk berhenti sejenak. Carrier yang sebagian besar berisi air dengan berat sekitar 20kg rupanya kurang cocok buat saya pada saat itu, untungnya, sekali lagi untungnya ada dua orang cowok yang bisa diandalakan di kelompok saya (dalam soal makan dan kekuatan meraka memang handal ^_^).

    Uu' : Abot Tip? Wis ben Dibyo sing nggawa!
    (Berat Tip?, Udah biar dibyo yang bawa)
    Dibyo : Ayo!!
    Uu' : Wahaha dibyo..!! Sip Byo!
    Dibyo : Matamu, gantian iki

    Dengan disemangati oleh para adik-adik, Dibyo langsung memanggul carrier tersebut, sedang saya sendiri ganti membawa carrier Dibyo. Perjalanan berlanjut dengan komposiosi yang sudah berubah. Dibyo paling depan saya paling belakang dan Uu' di depan saya. Setelah mengisi perut dengan air dingin, rasanya kepala jadi enteng kembali mata pun jadi lebih segar, apalagi beban berkurang kaki jadi lebih ringan melangkah. Setelah kurang lebih satu jam kami berjalan daerah yang kami lalui mulai melebar, pepohonan mulai jarang dan punggungan bukit mulai terlihat jelas. Berhenti sejenak saya mencoba mencocokkan peta kontur yang ada, dengan mengambil acuan kepada daerah tempat kami berangkat saya mencoba mencari lokasi kami berada. Diputar, dibalik, bidik lagi dengan kompas, hitung back azimuthnya, lha?? kok tidak ketemu juga. Akhirnya sesuai kesepakatan bersama bahwa puncaknya Gunung arjuno pasti ada 'diatas' jadi perjalanan kami lanjutkan dengan mengikuti jalan setapak. Kalau anda mempertanyakan kegunaan peta kontur yang kami bawa saya cuma bisa bilang bahwa "peta itu berguna".

    Daerah punggungan yang cukup landai dan banyak ditumbuhi rerumputan ini kalau tidak salah termasuk kawasan daerah Oro-oro Ombo yang memang sering dijadikan tempat untuk berkemah. Sambil beristirahat kami merundingkan apakah kami akan melanjutkan perjalanan pada malam hari ataukah akan mendirikan bivak dan menunggu esok pagi. Dengan pertimbangan bahwa tidak ada seorangpun yang pernah mendaki disini dan ditambah lagi dengan jumlah anggota cewek yang lebih banyak maka kami memutuskan untuk bermalam terlebih dahulu dan mencari tempat yang tepat untuk mendirikan bivak. Baru beberama menit berlalu mendung yang tadinya masih cukup tipis tiba-tiba menjadi semakin pekat, tebal dan tampak semakin berat. Kebetulan di depan ada tempat yang cukup landai, luas dan relatif mudah sebagai tempat pendirian bivak. Tepat pada saat saya hendak menurunkan carier tetes air hujan mulai berjatuhan, segera saja kami semua mengeluarkan pocho, mengeluarkan tali rafia, menyambungnya, sayangnya awan gelap diatas sudah tidak sabar menumpahkan isinya, akhirnya kami langsung saja berkumpul di bawah ponco dengan para cewek ditengah dan para cowok di keempat ujungnya. Hujan masih terlalu deras untuk mendirikan bivak, dan meskipun kehujanan adalah hal yang lumrah kami tetap kurang suka melewatkan malam dengan baju basah kuyup.

    Setengah atau satu jam kemudian hujan mulai reda, kamipun segera mempersiapkan pendirian bivak, mencari kayu penyangga bivak, menyambung poncho, membuat selokan, merapikan carier dan masih banyak lagi. Meski begitu banyak pekerjaan yang mesti dibereskan toh kami masih bisa membuang waktu untuk berccanda, bekerja sambil tertawa dibawah langit terbuka seperti itu memang selalu menyenangkan. Inilah yang namanya kebersamaan, kekompakan kerjasama atau team work, untuk merasakan yang seperti ini nggak harus di acara-acara outbound yang serba mahal, naik gunung bersama teman pun bisa.

    Masalah berikutnya adalah model bivak seperti apa yang akan kami buat, mulai dari model segitiga, trapesium, atau aneka rupa model lain, dan disini hujan yang sesekali deras ikut membantu kami dalam memutuskan model mana yang terbaik. Setiap kali bivak kami selesai berdiri hujan menunjukkan kelemahannya kepada kami entah dengan guyuran air yang masih menerobos celah bivak kami atau kadang hujan yuang bercampur angin menghujani satu sisi bivak kami dan sesekali menghempasnya hingga roboh. Menjelang senja akhirnya bivak kami bisa berdiri dengan menggunakan model "PN : Penting Ngadhek" (yang penting berdiri), toh bivak ini bisa memberi kehangatan dan perlindungan buat para anggota cewek dan barang-barang lain, kami sendiri para cowok lebih memilih (karena tidak ada pilihan lain) untuk menggelar matras di depan bivak. Dengan bersandar pada tumpukan tas kami bergeletakan diatas matras. Maghrib, berarti waktunya Ishoma, istirahat, sholat, makan, istirahat itu gampang toh semalaman ini kami cuma akan bergeletakan, jadi sholat dulu dan disusul dengan makan. Entah kenapa pada waktu mengadakan perjalanan seperti ini saya jadi lebih sering sholat, mungkin karena saya merasa takut, merasa benar-benar butuh pertolongan, mungkin....

    Makan, meski berulang kali naik gunung rasanya menu makan selalu tidak jauh berbeda, hampir pasti selalu mie (dengan atau tanpa e), mulai dari indomi, supermi, sarimi dan sebangsanya tapi ya selalu asik, seru, dan entah kenapa kok enak juga. Mi yang dimasak di sebuah nesting eh rantang diatas kayu yang dipaksa menyala setelah disiram minyak tanah berulang kali kemudian disantap beramai-ramai. Suhu yang dingin membuat menyantap mi seperti ini makin nikmat, apalagi satu nesting disantap bersembilan tambah syiiippp......

    Habis makan kami para cowok duduk-duduk di matras depan bivak, sambil bersandar kami menikmati pemandangan malam di arah kota Malang. Benar-benar menakjubkan, kerlip lampu dari kota malang sakan membaur dengan kerlip bintang di langit, horizon sudah tidak tampak, keren banget!!!! Dan kita seneng banget waktu di langit banyak bintang soalnya selain kelihatan keren hal itu juga berarti langit sedang cerah dan malam itu tidak akan ada hujan.Dan juga karena sepanjang sore tadi hujan telah diguyurkan habis-habisan malam ini suhu menjadi lebih hangat dan tidak ada kabut. Eh saya sempat melihat bintang jatuh lho*_*

    Mungkin karena musim liburan, malam itu cukup banyak pendaki lain yang melintas baik yang berombongan maupun yang seorang-seorang, mereka menyapa kami sambil lewat atau sekedar berbasa-basi sambil sejenak mengistirahatkan kaki. Kemudian para anak-anak cewek ikut memenuhi matras yang cuma dua helai tersebut dan semakin ramailah suasana. Hingga kami beranjak tidur tidak banyak yang bisa ditulis disini, kegiatan kami lebih banyak diisi dengan bercanda, ngobrol, bikin tebak-tebakan garing, sampai akhirnya para cewek masuk ke bivak dan kami tidur di luar. Oh iya sebelum tidur saya sempat bikin tempat untuk menampung tetesan air embun dan air resapan hujan dari rantang dan cover carrier yang kedap air.


    Menjelang pagi hujan turun lagi, waktu sekedar gerimis saya masih cuek, tapi kemudian makin deras dan makin deras lagi. Langsung saja dengan teriak-teriak, sepak sana sepak sini, para penghuni bivak dipaksa untuk memampatkan diri, pokoknya dengan cara apapun kami semua harus bisa berada di dalam bivak. Dengan segenap daya dan upaya akhirnya bisa juga berlindung dari terpaan hujan meski masih banyak tetes air yang menerobos lewat celah poncho. Akhirnya kami tetap terjaga hingga hujan reda saat menjelang subuh.

    Setelah makan pagi (mie juga) dilanjutkan dengan membongkar bivak, packing ulang, dan perjalanan diteruskan. Setelah beeberapa waktu tubuh mulai terasa hangat, langkah pun mulai semakin cepat. Medan yang dilintasi kebanyakan berupa padang rumput, beberapa semak dan perdu, dan jalannya semakin menanjak. Dengan mengambil jalur yang lebih bersahabat kami sedikit berputar-putar melalui beberapa perbukitan, beberapa kali bertemu dengan beberapa grup pendaki lain baik yang sedang sama-sama akan menuju puncak maupun yang sudah kembali turun. Ketika kami mulai memasuki daerah perbukitan yang banyak ditumbuhi pinus jalan menjadi semakin menanjak, bahkan di tempat ini Dibyo dan Uu sempat nekat bertelanjang dada, untungnya saya masih cukup waras untuk tidak ikut-ikut mereka, akhirnya hal itu mereka hentikan sendiri waktu ada grup pendaki lain yang turun yang kebetulan juga mengandung cewek.
    "Mas kepanasen ya?!" "wah mas'e kuat, ga adem mas ya" dan aneka celetukan lain yang membuat mereka akhirnya berbaju kembali ^_^
    Perjalanan seperti ini berlangsung selama kurang lebih 5-6 jam hingga tiba ke sebuah dataran landai di mana kami mengadakan acara makan siang (yang juga mie). Dan disinilah dimulainya kemeja flanel saya menjadi sebuah gombal multifungsi, dari menjadi kain pemegang rantang, lap ponco, hingga ke alas tempat duduk, bahkan berhari-hari setelah pulang masih ada bau rumput yang menempel disitu.


    Lumayan, perut sudah kembali hangat, kembali kami melangkah meneruskan perjalanan menuju puncak. Hutan yang tadinya lebih banyak didominasi oleh pinus sekarang menjadi lebih heterogen, suasana khas hutan tropis, aneka rupa warna hijau hadir disini, mulai dari dedaunan,lumut, semak dan rumput, hingga ke akar-akar yang menjalar dan menjulur, dingin sekaligus lembab. Hari semakin sore, sementara puncak sepertinya masih cukup jauh, saya mulai ragu apakah kami bisa mencapai puncak sebelum gelap. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan beberapa pendaki yang baru saja turun. Atas saran mereka carrier kami tinggalkan di tepi jalan setapak, sebab menurut mereka lebih baik begitu sebab puncak sudah hampir sampai jadi sebaiknya mengurangi beban dan segera dikebut naik menuju puncak sebelum matahari tenggelam. Setelah ditutupi dengan dedaunan dan dibacakan doa semoga aman dari gangguan para pengganggu (duh..) kami langsung mempercepat langkah menuju puncak.

    Mendekati darerah puncak terdapat dataran yang cukup landai meski tidak terlalu luas. Setelah daerah landai tersebut jalur berlanjut dengan jalan setapak yang cukup terjal dan berbatu dengan satu sisi tegak dan sisi lain yang terbuka kami harus mendaki dengan ekstra hati-hati, nyaris tidak ada pegangan apapun kecuali beberapa batu yang sedikit menonjol. Akhirnya dengan saling berpegangan dan beriring-iringan kami berhasil mencapai puncak. Yesssss.....!!!!! (Penuh batu besar-besar)
    Karena kami sudah berjanji maka begitu di puncak kami langsung sujud syukur dan berdoa, kemudian foto bareng. Setelah berhenti beberapa waktu kami turun.

    Waktu setengah perjalanan menuruni jalan setapak tadi tiba-tiba dari arah bawah beberapa sinar senter mengarah ke kami. Saya pikir mereka iseng sehingga saya langsung berteriak supaya mereka jangan mengarahkan senternya ke kami, dan ternyata saya salah, duh malunya, maksud mereka melakukan itu adalah untuk membantu kami melihat jalan, mungkin mereka tahu bahwa kami tidak membawa senter.

    Malu deh ~_~ karena sudah teriak-teriak ke mereka.

    Ternyata mereka adalah rombongan pendaki dari salah satu STM di Surabaya, mereka memang bermalam disitu sebab besok pagi mereka akan melanjutkan ke Welirang. Dari dua tenda yang mereka dirikan salah satunya dipinjamkan ke kami, padahal mereka sendiri berduabelas, jadi jelas tidak mungkin mereka tidur dalam satu tenda. Ngobrol-ngobrol sebentar dengan mereka dan saya memutuskan untuk tidur, mereka sendiri ada dua orang yang bergantian jaga sedang kami tidur semua (kami ga sopan ya, sudah numpang, nglunjak lagi). Dan sebuah tenda seluas 1 X 2 meter itu dipenuhi sembilan manusia,(boleh dibayangkan kalau tega) jadi kami semua tidur dengan duduk dan berlipat lipat.

    Pagi harinya anak-anak yang lain naik kembali ke puncak untuk memburu matahari terbit atawa sunrise, saya yang sempat dibangunkan, terinjak, tersepak dan akhirnya ditinggalkan untuk dengan bahagia tidur sambil meluruskan punggung saya,

    "akhirnya....."

    Setelah saya bangun yang benar-benar bangun saya melihat-lihat sekitar, eh ternyata kok jalan setapak yang menuju puncak itu cukup dekat juga. Pas saya mau ikut-ikut naik ke puncak lagi ,malah mereka turun, ya akhirnya nggak jadi, lagipula sunrise sudah lewat. Selain packing barang-barang kami sendiri kami juga bantu-bantu mereka packing, kemudian foto bareng, salam-salaman, nggak lupa ngomong terima kasih dan pamit kemudian kembali turun. Pulang.

    Perjalanan pulang kami berlangsung cukup cepat, bahkan kami sempat bakar-bakar ketela yang kami temukan di sebuah pondokan nyaris-semi permanen, disitu juga kami mengisi air di sebuah ceruk diantara bebatuan tebing. Seingat kami, maksudnya saya, Dibyo dan Uu' tidak pernah cerita bahwa didalam ceruk itu ada seekor ular yang mati, selain nggak penting, toh juga nggak ada yang keracunan ^_^. Tidak banyak yang istimewa dalam perjalanan pulang kami kecuali beberapa kali jatuh, menggelinding, foto-foto bareng, yah begitulah, sekitar ashar kami tiba kembali di desa Wonosari. Setelah sholat dan beristirahat kami mulai berjalan menuju Lawang setelah sebelumnya mengisi buku laporan pendakian untuk konfirmasi bahwa kami telah meninggalkan area Gunung Arjuna. Rencananya setelah sampai Lawang kami akan menuju ke kos mas Bibit. Ternyata di tengah perjalanan kami sudah bertemu dengan mas Bibit, dan kembali dengan bergantian kami berboncengan dengan motor menuju ke Lawang dan langsung menuju ke kos mas Bibit.

    Malamnya kami beres-beres carier, mencuci sleeping bag, matras rantang dll dsb... malamnya kegiatan persiapan untuk pulang besok pagi, ngobrol, makan, dan tidur. Besoknya kami pulang dengan bus dari Malang turun di Kertosono (kalo ga salah) ganti bis lagi ke Madiun, sampai terminal, telpon mas saya minta dijemput. Setelah sampai dirumah, saya kembali bertugas untuk memulangkan para cewek, Ayu saya antar pulang, saya pamitkan ke bapaknya, eh dia malah langsung mandi (kayaknya sih takut dimarahi), Arin saya antar pulang, bapaknya heran soalnya dikira dia ke malang bukan buat naik gunung, Tere, Anie dan Meira saya antar pulang tanpa masalah. Dibyo dan Uu' memilih untuk menginap dirumah saya dan baru pulang keesokan paginya, yang seorang lagi langsung pulang dengan dijemput ibunya.

    Dan berakhirlah perjalanan kali ini.

    Ahhhh.....setelah menulis posting ini kok saya jadi pengen naik gunung lagi ya....

    03 October 2006

    Yeah... Naik Gunung Arjuno Part I

    Setelah berkali-kali mem-posting-kan kumpulan kata-kata, akhirnya kali ini kembali posting tentang journey. Tanggal pastinya saya sudah lupa mungkin akhir tahun 2000. Posting kali ini tentang perjalanan ke Gunung Arjuna atawa Arjuno silahkan pilih mana yang lebih cocok untuk lidah anda.

    Let the story begin....

    Liburan, ehm... saya lupa liburan apa, yang saya ingat saya sudah kelas 3 dan secara kepengurusan OSPA (Organisasi Siswa Pecinta Alam) saya sudah alumni, meskipun para alumni yang lebih tua masih suka berteriak-teriak "kalian ini belum lulus dhek jadi jangan ngerasa kalau kalian ini sudah jadi alumni, ngartiiii...!!!". Rumah (orang tua) saya yang berada di depan sekolah telah menjadi sebuah Base Camp secara alami, bagaimana tidak, jika setiap ada kesempatan (dan itu nyaris setiap hari) mereka selalu berkumpul di rumah saya, ehm lebih tepatnya di gudang rumah saya. Pada suatu ketika adik-adik saya (Generasi XV) ngomong "Mas munggah gunung yuk" (Mas, naik gunung yuk). Lantas apa mau dikata, saya sendiri suka (naik gunung maksudnya, bukan mereka) dan mereka kepengen maka disusunlah rencana.

    Pilihan kemudian disusun berdasar kriteria tertentu, harus bisa didaki dalam waktu singkat (setidaknya sehari semalam), ada alumni yang bisa dimintai tolong, diajak ataupun dipaksa untuk membantu, mengenai biaya kami tidak ada masalah selama masih murah (lho..?). Akhirnya ada beberapa kandidat, Merbabu atau Arjuna, pilihan merbabu karena saya sudah pernah mendaki kesana namun akhirnya kesepakatan menjadi Gunung Arjuna. Setelah rencana ada kemudian mengumpulkan peserta, semua anggota Bram's dirayu, di-iming-iming, dibujuk, bahkan diancam agar ikut. Dengan perjuangan mencarikan ijin kepada para ortu, mencari alumni yang mau (dengan paksa) direpotkan untuk menampung kami, mengumpulkan segala daya dan upaya dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan disini, akhirnya berhasil dikumpulkan 9 orang. Dengan komposisi 5 orang cewek dan 4 orang cowok kami siap menuju Malang. Cowok pertama adalah saya sendiri kemudian Julianta-Uu', Dibyo-Crot, seorang cowok Gnr XV (aku lali jenengmu, kalau pengen dimuat kirim via mail ya) dan 5 orang cewek, Anie, Arin, Ayu, Tere, dan Meira.

    Berangkat pada pukul 4 pagi kami bersama-sama menuju stasiun dengan Mas Kebo alias Ratomi. Setelah dengan segenap semangat sampai distasiun ternyata tungu punya tunggu kehadirannya tak kunjung tiba Lha..? Uu' kemudian tanya "Mas keretanya telat ya? nyampek jam berapa?" jawab si mas yang ditanya oleh Uu' " mungkin jam 7" Akhirnya pulang lagi ke rumah saya yang berjarak beberapa ratus meter dari stasiun. Eh tanpa dinyana tanpa diduga Uu' dan Dibyo beli nasi pecel, jelas tanpa menunggu ijin maupun instruksi lebih lanjut nasi pecel yang cuma 2 gelintir itupun langsung dihabisi dengan penuh kebersamaan.

    Akhirnya suara pengumuman bahwa kereta sudah hadir terdengar, langsung kami berlompatan dan berlari menuju stasiun. Saya sendiri tidak ingat apakah kami terbang atau berlari dan whuzzzz..... tiba-tiba kami sudah nangkring didalam gerbong. Sejak awal kami sudah memantapkan niat dan hati kami untuk dengan segenap jiwa raga naik tanpa beli tiket, nggak baik sih tapi hal seperti ini selalu memberi sensasi tersendiri, dan yang tidak kalah penting adalah lebih irit. Bukannya tidak membayar sama sekali, kami tetap membayar tapi tanpa membeli karcis, curang? oh bukan kami memberi kesempatan kepada pak kondektur untuk memperoleh pendapatan sampingan ^_^. Sementara kami semua berkumpul di gerbong paling belakang untuk memudahkan transaksi, mas kebo lebih memilih duduk di dekat wc (tentu saja dia menyelesaikan masalah karcis dengan caranya sendiri). Karena bantuannya tidak bisa diharapkan akhirnya saya sebagai ketua rombongan (bagaimana lagi, wong saya yang memintakan mereka ijin) memutuskan untuk menghadapi Bapak kondektur dengan sepenuh hati.


    PK (Pak Kondektur) : karcis..karcis... mas karcisnya?
    Saya : Anu pak, ini pak, orang sembilan
    PK : Lho berapa ini? 45 ribu, wah ga bisa mas, nggak bisa mas kalo segini
    Uu' : Pak adanya cuma segitu pak
    Dibyo : Iya pak, ini anak sekolah pak
    PK : Wis...gini aja mas nanti di stasiun depan ikut saya ke kantor

    Setelah Pak Kondektur pergi kami sempat rundingan, ketar-ketir juga saya ~_~;. Akhirnya dengan Uu' saya turun mengikuti pak Kondektur, tadinya saya pikir mau disuruh bayar denda atau disuruh turun dengan paksa, yah setidaknya disetrap dengan berdiri diatas satu kaki. Dan yang terjadi jauh diluar dugaan saya, kami berdua masuk kantor pegawai dan disana kami di...tertawakan. Dengan lantang pak kondektur ngomong " He! mau ke Malang orang sembilan bayar 45ribu ha ha ha..." dan yang lain dengan kompak ikut tertawa. "Udah mas sana naik lagi" Dan dengan cengar-cengir kami langsung kabur seraya mengucap terima kasih.

    Perjalanan antara Madiun ke Malang berjalan lancar, bercanda, ngobrol, dan kegiatan iseng lainnya menjadi pengisi waktu. Sampai di Malang sekitar pukul 11, langsung disambut Mas Wawan yang lebih sering dipanggil Bibit (itu nama bapaknya lho) dengan temannya, kami dan temannya naik angkota atawa 'Lin' menuju kost mas bibit yang berlokasi di daerah Kertobanyon (eh bener ga mas?). Setelah sampai dan bergeletakan ala kadarnya di kost mas Bibit kami mulai planning, sayangnya mas Bibit langsung mengumumkan bahwa dia tidak bisa ikut karena sedang ujian.

    Planning diawali dengan berita bahwa gunung Arjuna yang akan kami daki ternyata tidak cukup ditempuh dalam semalam dengan keadaan kami saat itu, padahal hanya ada dua carrier sedang yang lain hanya membawa tas ransel standar untuk berangkat sekolah duhhhhh.......

    Akhirnya setelah menculik perlengkapan mendaki gunung mas Bibit, diperoleh 2 buah sleeping bag, 3 buah carier, kompor lapangan, kompas, peta kontur gunung arjuno, dan sebuah pisau lipat multifungsi (Maksudnya harus bisa difungsikan jadi apa saja). Setelah hardware terpenuhi sekarang tinggal urusan software alias bahan makanan, selain mi instan sebagai makanan pokok kami juga patungan untuk membeli aneka rupa cemilan, coklat blok 2 kg, roti, dan tidak ketinggalan sekitar 30 liter air. Malamnya sehari sebelum keberangkatan kami melewatkan waktu di kost mas Bibit dengan mengumpulkan informasi lebih banyak tentang gunung arjuno, dari sekedar ngobrol soal gunung topiknya berkembang menjadi soal hal-hal horor apalagi pada waktu itu di radio juga sedang ada acara misteri (pake acara melolong dan ketawa cekikikan lagi radionya). Dan sementara yang lain bercanda dan tertawa bareng-bareng, saya justru merasa cemas banget, selain karena sayalah yang akan bertanggung jawab atas keselamatan mereka saya juga bertanggung jawab atas kesuksesan perjalanan kali ini.

    Paginya setelah sempat tidur skitar 3 jam (saya masih ngerasa cemas jadi baru tidur menjelang subuh), sholat subuh, mandi(eh...mungkin) sarapan (pasti) dan kemudian packing, leyeh-leyeh (ehm...boleh diartikan bersantai). Sementara yang lain mencari perlengkapan dan perbekalan tambahan saya (seakan-akan) mempelajari peta kontur dan mengumpulkan info yang ada. Akhirnya setelah mas Bibit pulang dari Ujian kita berangkat menuju Lawang.

    Dan bersambung ke bagian dua.....

    23 August 2006

    lintas pantura hari ke 2

    Akhirnya roda kembali berputar dan perjalanan pun kembali berlanjut. Setelah mandi ala kadarnya, minum kopi, pamit kepada seisi rumah, dan memanaskan mesin kami mulai bergerak kembali. Menyusuri jalan di tepi pantai, menikmati pemandangan dan memacu gas dengan kecepatan sedang, target yang pertama adalah..... cari tempat buat foto ^_^. Setelah beberapa kilometer, deretan rumah-rumah semakin jarang dan kami tiba di tepi pantai dengan pasir putih yang terhampar luas ^_^

    Motor kami parkir di tepi jalan setelah memutuskan bahwa tidak akan ada orang yang berminat untuk mencuri motor kami. (menurut Kancil "menjual motor ini lebih sulit dari mencurinya, malingnya pasti rugi")Kemudian kami langsung berlarian ke pantai dengan noraknya, ya 'norak' sebab saya tidak punya kata lain untuk menggambarkan 4 orang cowok berlarian dipinggir pantai dan saya pastikan bahwa itu sama sekali tidak romantis. Anak-anak kecil yang tadinya cuma melihat kita akhirnya malah ikut lari-larian, nulis-nulis nama di pasir, foto bareng, dan diakhiri dengan nyari kerang. Maksudnya sih buat souvenir, jadi kita ngumpulin kerang cukup banyak, dibungkus tas plastik item dan disimpan. Beberapa hari kemudian kerang ini kami buang karena kami nggak sanggup menghilangkan bau amisnya (what a waste, baka~_~)

    Oke cukup main-mainnya, sekarang kami harus memutuskan jalur mana yang harus kami tempuh untuk menuju Madiun. Atas saran Kancil kami memutuskan (karena kami tidak bisa bilang tidak) untuk lewat Bojonegoro. Nanti anda akan tahu alasan Kancil memilih jalur ini. Dengan masih tetap melintasi jalan raya ditepi pantai kami terus melaju. Suasananya cukup panas meskipun ketika kami mulai melintasi kawasan kota cukup banyak pohon. Mungkin karena masih dalam suasana Lebaran di jalan masih banyak pos polisi. "Waspada Bro..." kata Kancil. Betul juga, baru beberapa meter setelah melewati traffic light sebuah motor polisi ikut meluncur di belakang kami. Kecepatan saya tambah dengan perlahan, mencoba mengamati gerakan Pak Pol dari spion, dan sialnya dia juga menambah kecepatan. Mendahului sebuah dokar, menjajari sebuah mobil dan sambil memberi kode kepada Bowo kami melaju lebih kencang, dengan sedikit bermanuver tajam saya mencoba menghilang dari pandangan Pak Pol. Dan....berhasil, saya menepi di depan sebuah bangunan, nah sekarang tinggal menunggu Pak pol melintas. Beberapa menit kemudian Pak Pol melintas, dan kami pun tersenyum ^_^ he..he.. sukses...eh tunggu dulu kenapa Bowo dan Uu' ikut melaju di belakang Pak Pol? "Kena tilang" kata Uu'. Duh rupanya Pak Pol ganti target.

    Langsung tancap gas dan ikut ke pos polisi.

    Pak Pol 1 : Mas sudah tahu kesalahannya ya? Ini karena daerah Tertib Lalu-Lintas jadi dendanya dobel ya?

    Bowo :Duh pak ini dari jauh pak, uangnya nggak cukup pak.

    Pak Pol 2 : Apa kesalahannya?

    Pak Pol 1 : Nggak ada spion.

    Pak Pol 3 : Lho kok bisa nggak pakai spion, harusnya itu dilengkapi, demi keselamatan lho.

    Kancil : Anu pak kemarin jatuh pak, di dekat tanjung kodok pak.

    Saya : iya pak pas malem-malem

    Pak pol 2 : iya tetap harus pake to, biar cuma kaca kecil tetep harus pake. Demi keamanan lho.

    Saya (dalam hati) : maksudnya keamanan itu biar ga ditilang to

    Pak pol 1 : Udah gini aja mas ini kita kasih yang dendanya paling ringan aja ya mas. (sambil menyerahkan tabel tilang yang mirip daftar menu)

    Sementara Bowo memilih-milih menu (akhirnya dia pilih yang 15ribuan) Kancil iseng-iseng bertanya ke Pak Pol.

    Kancil : Pak kalau yang didaerah dekat Watujago itu ada polisi gadungan yang suka minta uang pak ya?

    Pak Pol 4 : ya kamu itu yang gadungan!!!

    Pak Pol 3 : itu bukan wilayah kita itu !

    Pak Pol 6 : Ndak ga ada itu!!

    Setelah membayar, kami semua langsung pergi dan memutuskan untuk cari makan. Dan pilihan kami jatuh pada sebuah warung bercat hijau. Menu yang tersedia cuma nasi pecel dan nasi sayur, yah keduanya nggak banyak berbeda cuma yang satu menggunakan kuah sedangkan yang lainnya menggunakan sambal kacang dan tempe. Lauknya sama ikan laut, namanya juga warung tepi laut ^_^. Sambil ngobrol, menggerutu dan menyumpah-serapah tentang kejadian yang baru saja terjadi kami makan dengan lahap. Suasana yang tepat, rasa lapar, dan teman dekat selalu jadi lauk yang menyenangkan.
    Perut kenyang, angin yang sejuk dan rokok ditangan membuat mata kembali terang. kemon guys lanjut ke Jatirogo. Dan beberapa jam berikutnya kami lewati dengan melintasi tepi pantai, tepi sawah, perbukitan dan juga hutan dan tetap di jalan yang beraspal halus ^_^. (Terima kasih buat Pemda setempat) Baru ketika mulai memasuki Jatirogo jalanan mulai sedikit bergelombang, dan Kancil kemudian mengusulkan untuk mampir di rumah seorang kenalan. Dan motor kami terhenti di depan sebuah rumah, Kancil turun dan bertanya. Oalah ternyata rumah seorang teman sekolah kami yang "kebetulan" sekelas dengan Kancil dan cewek pula, untuk mudahnya sebut saja X (jelas bukan nama sebenarnya). Dan ternyata orang yang kami (Kancil maksudnya) cari sedang keluar. Kemudian kami langsung bermusyawarah (cuma pura-pura kok) sambil membuka atlas Indonesia

    Kancil : Anaknya lagi keluar tuh.

    Bowo : Oh.. ya nggak apa-apa, eh kita habis ini mau kemana?

    Saya : Ke Semarang aja yuk, gimana?

    Uu' : Kalo ke Banyuwangi?

    Bowo : Sekalian ke Bali aja yuk?

     
    Dan setelah beberapa menit ngobrol ngalor-ngidul ga jelas, dengan diiringi tatapan jutek si mbak yang udah eneg, kita langsung pamit. "Kalau gitu nanti aja mbak kami kesini lagi, mau cari makan dulu. "

    Karena nggak tahu mau kemana kami memutuskan untuk menunggu di dekat Kantor Perhutani di sebelah terminal. Dengan tanpa rasa malu (~_~duhh) kami menggelar poncho (jas hujan) di seberang jalan menuju rumah si X. Dan kegiatan menunggu tersebut kami isi dengan, foto-foto, beli es juice di seberang jalan, menunggu Kancil mandi di terminal, ngobrol, dan ratusan hal konyol lainnya. Hingga akhirnya Kancil mengajak kami untuk sekali lagi menuju rumah si X.

    Dan kali ini kami cukup beruntung, si X sudah pulang. Salam-salaman, basa-basi dikit, dan sementara Kancil ngobrol kami mulai melakukan hal konyol lainnya seperti mengeluarkan kalkulator (siapa sih yang bawa?) menggunakannya sebagai (pura-puranya) handphone, remote control, tempat kacang(?) sampai akhirnya Kancil semakin malu dan si X semakin bete ^_^ (jahat ya kami).

    Tapi tiba-tiba tanpa dinyana tanpa diduga si mbak melintas diiringi dengan aroma bakso(*_*). Dengan harap-harap cemas kami menunggu, dan langsung saja kami bersorak dalam hati ketika si X dipanggil ke dalam rumah. Dengan senyum lebar kami sambut Si X yang datang dengan setumpuk piring, nasi, dan 4 bungkus bakso. Sebagai orang jawa kami juga tidak lupa untuk berbasa-basi "Wah, kok repot-repot" Sementara si Kancil semakin tampak sungkan, kami tersenyum makin lebar ^_^

    Dan rupanya acara makan ini menyisakan sebuah misteri yang tidak pernah terpecahkan (bahkan hingga saat ini). Awal misterinya adalah ketika Kancil yang merasa tidak enak hati, lantas memilih untuk meninggalkan bakso dalam keadaan utuh dan tetap terbungkus. Kemudian kami yang tanpa rasa segan memutuskan untuk pulang dengan alasan hari sudah mulai sore (bukan dengan alasan bahwa kami sudah kenyang). Dan selama perjalanan pulang (juga berhari-hari setelahnya) kami berdebat apakah bakso tadi akan dimakan oleh si X atau tidak.

    Dan perjalanan pulang dimulai setelah sebelumnya menyempatkan diri untuk mampir disebuah bengkel, membetulkan rem sepeda motor Bowo yang nyaris tidak bisa berfungsi, bahkan sejak keberangkatan kami. Menjelang Maghrib kami meluncur kembali, dan sekedar untuk diketahui Kancil memang hobi berkendara pada tengah malam. Ada sedikit kejadian kecil yang cukup meremangkan bulu kuduk. Memasuki kawasan sekitar Watujago, saya sempat melihat bayangan sebuah dokar di belakang saya, sedangkan Bowo dan Uu' sempat mendengar bunyinya meskipun itu semua cukup samar dan mungkin juga hanya karena kecapekan (Kancil juga sempat tiba-tiba menendang ke arah udara kosong). Tanpa berkomentar apapun atas kejadian tadi kami terus melaju, hingga setelah keluar dari kawasan hutan dan tiba di pinggir kota kami baru memutuskan untuk berhenti di sebuah warung kopi.

    Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama berada disana, sepertinya suasananya kurang nyaman buat para pendatang dari luar daerah seperti kami. Setelah segelas kopi, kami pulang, dan langsung menuju kota kami. Dipenuhi dengan perasaan capek, ngantuk, pantat mati rasa, mulut pahit, berbagai keluhan lain, kami pulang dengan membawa kepuasan hati, kebanggaan, dan kenangan.

    Untuk mereka yang telah berbagi kenangan bersamaku, Andik-Kancil, Arif-Bowo, Julianta-Uu' Thanx Guys

    Foto lintas pantura

    Sekitar Tanjung Kodok
    foto diambil dari depan rumah Fandhi^_^

    Pelabuhan Perusahaan Semen Gresik

    Panaaaasss~_~


    Motret gunung dari atas motor ^_^


    Di perjalanan...

    07 August 2006

    Lintas pantura Hari Ke-1

    Blog ini menggunakan kata 'Journey' karena pada awalnya memang ditujukan buat menampung catatan-catatan perjalanan yang pernah saya lakukan. Ternyata sampai saat ini tidak satupun postingan saya yang berisi 'journey'. Jadi saya memutuskan bahwa sudah waktunya saya menampilkan cerita kecil tentang 'perjalanan' saya.

    Perjalanan yang saya lakukan ini mungkin bukan sebuah petualangan yang cukup berarti. Tidak banyak hal yang terjadi, dan semuanya hanyalah hal-hal yang biasa (tidak ada adegan tembak menembak atau pun dikejar-kejar tyranosaurus REX). Tapi bagi saya setiap perjalanan selalu menjadi sebuah petualangan yang menarik. Well, hidup juga sebuah perjalanan bukan.

    Perjalanan ini merupakan salah satu petualangan saya yang pertama. Saya lupa hal apa yang mendorong saya untuk melakukan perjalanan tersebut, yang pasti saya masih kelas 2 SMU, sebuah masa dimana semangat dan kebodohan masa muda lebih banyak berperan dalam otak saya. 23 Januari 1999, organisasi pecinta alam sekolah saya (Bramastya) sedang melaksanakan kegiatan halal bihalal. Acaranya sendiri dimulai sekitar jam 7 malam, tapi persiapannya sudah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Untuk saat ini tidak ada yang perlu diceritakan mengenai hal itu, yang pasti ketika acara selesai (sekitar jam 2 dini hari) ditempat itu saya langsung membuka peta. Membuka halaman peta jawa timur, kemudian mengajak ngobrol beberapa teman, mengajak mereka untuk menuju daerah Pasir Putih (Situbondo, Ja-Tim).

    Sampai sekarang saya juga masih heran, kata-kata apa yang saya ucapkan pada saat itu sehingga bisa membujuk (memaksa?) mereka untuk menemani saya berkendara kesana. Akhirnya ada 3 orang yang bergabung menjadi teman seperjalanan saya kali ini. Andik (Kancil), Arif(Bowo) dan Julianta(UU) ditambah saya sendiri, kami berempat didukung dengan dua sepeda motor keluaran terbaru pada tahun 80an. Maksudnya pada tahun 80-an merupakan motor terbaru, dan perjalanan ini dilakukan sekitar 10 tahun kemudian. Motor saya adalah Yamaha Alfa th '89 sedangkan satu motor yang lain adalah Honda Star (kalau ga salah?). Jadi setelah pulang acara halal-bihalal pada pukul setengah 3 pagi (02.30) kami berkumpul pada pukul setengah tujuh pagi. And the journey begin...

    Perjalanan yang diawali dari kota kami, Madiun kemudian berlanjut menuju ke timur. Keluar dari kotamadya Madiun kami memasuki Caruban, dan perjalanan yang baru berlalu sekitar 35 menit akhirnya terhenti.

    Kancil :"Golek ganjel lempeng elek-elekan yok" (Cari pengganjal perut ala kadarnya yuk)

    Nah? kalau sudah cacing dalam perut yang protes lantas apa yang mau dikata?
    Akhirnya berhentilah kami di sebuah warung didaerah pasar Caruban, setelah makan 2 buah tempe goreng yang menyebabkan sepiring nasi ikut tertelan bersamanya kami berangkat lagi, tentu saja setelah ngopi dan mulai menyalakan rokok (waktu itu saya seorang perokok).

    Perjalanan terus berlanjut, di setelah melintasi Caruban dan hutan Saradan, kami mulai masuk ke Nganjuk sedikit menyenggol Kediri dan akhirnya tiba di sebuah persimpangan di sekitar Mojokerto. Setelah membuka-buka peta, mengamati sekeliling akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju....pos polisi.

    Saya : "Pak kalau mau ke Pasuruan lewat mana pak?
    Polisi : (sambil makan rambutan) "Lewat yg ini mas, terus..!!!

    Dan motor kembali distater, perjalanan berlanjut. Setelah beberapa kilometer kami melewati sebuah gunung yang berada di sebelah kanan kami (setelah pulang saya baru tahu itu gunung Welirang). Beberapa menit kemudian kami sempat saling mengambil gambar dengan tetap melaju diatas motor (Norak ya? Biarin). Agar tidak mengalami disorientasi (kesasar)sebagai driver saya langsung meminta co-pilot 'halaah' untuk memeriksa lokasi kami. "Siap kapten, posisi kita sekarang di....Jawa Timur"??? .

    Dari mojokerto kami melintas jalan melalui pinggir wilayah Sidoarjo menuju Pasuruan. Dengan sangat terasa (panas, jauh, berdebu lagi) perjalanan selama kurang lebih 4 jam akhirnya mengantar kami di tepi kabupaten Pasuruan. Sembari ngobrol-ngobrol saya ditanya oleh rekan seboncengan saya

    Kancil : terus nanti nginep dimana?
    Aku : Lha? nginep dimana ya?
    Kancil : Masak mau bikin bivak? (bivak adalah tenda darurat banget dari jas hujan)
    Aku : Duh, berhenti dulu deh

    Dan seperti orang Indonesia lainnya kami memutuskan untuk membuang waktu kami dalam mencari keputusan dengan musyawarah. Kalau kemudian saya memilih untuk berhenti di sebuah masjid, saya sama sekali tidak ada niat buat sok alim. Swear saat itu saya baru sadar kalau saya bingung. Setelah salat Duhur, makan dan merokok kami mulai bermusyawarah

    Saya : Ok sekarang kita sudah sampai sini, terlalu jauh buat pulang. Ada yg punya ide menginap dimana kita malam ini?
    Bowo : Katanya di pasir putih?
    Kancil: Gimana kalau nginep di tempat kepala desa?
    UU : Trus? ngaku kalau anak pecinta alam gitu?
    Kancil: Kurang...ngaku aja wartawan majalah sekolah.
    Bowo : Trus surat ijinnya?
    Saya : Cari rental komputer, terus bikin surat jalan palsu.

    Untungnya perdebatan yang semakin nggak jelas ini berhenti dan menghasilkan keputusan untuk pergi ke ke rumah seorang teman di daerah Tanjung Kodok. Dengan pertimbangan sbb;

    1. Sama sama punya laut
    2. Ada tempat nginep
    3. Mau gimana lagi?

    Dan berputarlah kami, perjalanan yang tadinya menyongsong matahari (menuju ketimur) sekarang menyongsong matahari lagi (menuju ke barat), jadinya warna kulit yang tadinya hitam muda jadi hitam tua. Dari pasuruan kami bergerak ke arah Sidoarjo, melewati Kali Porong, dan terus menuju utara dan masuk ke Surabaya. Masuk Surabaya lalu lintas mulai padat, naik turun jalan layang, berputar-putar, kemudian tiba-tiba masuk ke deretan gang, dan bingung bagaimana cara keluarnya. Dan pada keadaan seperti itu Kancil berbisik pada saya "stay cool, kamu leadernya jangan sampai yang lain tahu kalau kita kesasar". Dan rupanya Bowo dan Uu memang tidak tahu kalau kami kesasar, buktinya Uu masih sempat nyeletuk "Don, ada ding-dong"
    Tahu ding-dong kan? (mesin video game yang pakai koin seratusan), dan kami memang sering main bareng.

    Setelah keluar dari jalinan gang yang lebih mirip labirin (kok ya nggak kesasar ke gg dolly) Akhirnya.....!!!! jalan raya.
    Anda mungkin tertawa, tapi kalau anda pernah "blusukan" di gang-gang kecil selama berjam-jam, berjumpa jalan raya adalah sebuah kegembiraan tersendiri. Bertanya lagi ke para bapak polantas, ngecek rute di peta mereka. Setilah menimbang (bukan nimbang polisi)dan meneliti (bukan polisinya) kami memutuskan untuk lewat Gresik, dan langsung menuju Tanjung Kodok.

    Mulai masuk ke Gresik, suasana pesisir mulai terasa, banyak yang jual bandeng presto, seafood. Malam itu jalanan cukup ramai, sedang ada kegiatan halal bihalal sebuah organisasi agama rupanya. Banyak rombongan pengendara sepeda motor yang melaju tanpa pakai helm, songkok atau kopiah sudah cukup rupanya ^_^. Sambil cari makan kami memutuskan untuk sekalian cari informasi. Ngobrol, ngrokok, ngopi, dapat informasi ^_^

    Jam 7 sudah lewat, jalan yang kami pilih merupakan rute angkutan berat, truk-gandeng, truk kontainer, dan berbagai kendaraan besar lain melaju tanpa basa basi. Nyala lampu motor kami yang cuma seterang lilin mungkin terlihat seperti kunang-kunang oleh para sopir itu. Masih ditambah lagi angin yang ditimbulkan waktu mereka melintas. MAAAKK WHUUZZZZ dan motor kami yang cuma segelintir nyaris diterbangkan.

    Setelah kurang lebih 2 atau 3 jam, perjalanan kami mulai memasuki kawasan perkampungan menuju hutan dekat kawasan Tanjung Kodok. Jalannya sueepi banget padahal di situ juga ada kawasan makam salah satu wali (Sunan Drajat). Jalannya naik, turun, gelap, dan ada lobang gede-gede berisi air hujan.Oh iya disini UU yang kebetulan ketiduran di boncengan saya sempat tiba-tiba berteriak " hoeee" (jangan tanya kenapa) dan tidur lagi. Beberapa meter kemudian motor saya tercelup (duh) dan brebet..brebbeeet...bess...salah satu penyebab kematian favorit motor saya adalah akibat basahnya busi. Untungnya di perjalanan ini sya tidak sendiri, dengan tarik menarik (dengan tangan) antar motor ditambah dorongan Uu akhirnya kami bisa mencapai tepi pantai. Yesssss

    Belok kiri, meluncur sedikit, stater lagi, 2kali 3kali dan kembali menyala. Sambil menyusuri tepian pantai, kami mencari-cari rumah teman kami. Begitu ketemu kami langsung berbelok, dan kebetulan si pemilik rumah sedang berada di depan rumah.

    Kancil : Nyuwun sewu, ini rumahnya Fandhi?
    Om nya Fandhi : Iya mas, tapi Fadhinya lagi e madiun

    Heeeee????? Beratus kilometer kami tempuh dan "Fandhi-nya lagi ke madiun mas" jelas bukan kalimat yang kami harapkan. Tapi si Om tampaknya seseorang yang cukup bijaksana, buktinya kami boleh bermalam padahal kami tidak membawa oleh-oleh. Setelah ngobrol dan sedikit basa-basi, kami memutuskan untuk tidur. Dan semua pun langsung tidur. Semua? oh nggak, saya dan Kancil masih menyempatkan untuk membedaki UU dan Bowo, membuat mereka berpose dalam keadaan yang tidak mungkin mereka lakukan secara sadar dan memotretnya. Dan ini adalah akhir perjalanan hari ini.

    Perjalanan besok disambung di posting berikutnya ^_^

    NB: Fotonya menyusul ya