Showing posts with label Celoteh. Show all posts
Showing posts with label Celoteh. Show all posts

27 August 2026

Hierarki Entitas Gaib

Dalam khazanah dunia gaib setiap entitas memiliki posisi dan kuasa yang berbeda.

Tingkatan paling rendah disebut Hantu.

Hantu adalah entitas pengganggu. Kekuatannya terbatas pada kemampuan menampakkan diri dalam wujud seram dan ganjil atau mengeluarkan suara-suara aneh dan meremangkan bulu kuduk. Ia muncul dari kegelapan, dari sudut mata atau dari remang bayangan. Tempat favoritnya adalah adalah daerah antara redup dan remang. Hantu bisa membuat seseorang ketakutan, berlari terbirit-birit atau terkejut setengah mati, tetapi dia tidak bisa menyakiti secara fisik

 

Di atas Hantu terdapat Setan.

Setan memiliki kemampuan yang lebih tinggi, wilayahnya bukan lagi panca indera manusia, melainkan menyusup jauh dalam pikiran. Dia mempengaruhi, memprovokasi menyebarkan agitasi murahan namun mengguncang keyakinan.

Setan tidak perlu menggerakkan manusia, dia membuat manusia bergerak dengan sendirinya.

Ia tidak dapat menyakiti tubuh manusia  secara langsung namun melalui pengaruhnya pada pikiran manusia dia bisa memicu kerusakan fisik.

 

Setelah Setan, terdapat tingkatan yang jauh lebih berbahaya, Siluman.

Siluman memiliki kuasa gelap yang cukup kuat untuk menembusi dunia manusia. Karena itulah kita sering mendengar kisah tentang penunggu pohon tua atau mata air, penguasa gua atau sebuah wilayah di pegunungan gunung, hutan, dan tempat-tempat wingit lainnya.

Kuasa siluman dalam menembusi jagat kasar memungkinkan mereka untuk melakukan hubungan transaksional dengan manusia.

Manusia memohon bantuan sambil memberikan upeti atau sesaji, dan siluman akan memberi bantuan bila nilai sesajinya cocok, pada beberapa kasus dibutuhkan bayaran tambahan berupa tumbal.

 

Dari hubungan transaksional inilah kita kemudian mengenal tentang pesugihan, penglaris, perlindungan atau tolak bala hingga bantuan untuk mencelakakan orang lain. Jenis siluman tertentu juga dapat menimbulkan kerusakan fisik misalnya pada santet dan tenung.

Meski memiliki kemampuan untuk menimbulkan kerusakan fisik dan menembusi jagat kasar, siluman biasanya memiliki batasan area atau keterikatan mereka pada objek yang menjadi punjer atau pusat area gaib mereka.

 

Entitas yang berada di puncak hierarki adalah Iblis.

Iblis bukan sekadar lebih kuat tapi juga memiliki kemampuan untuk mewujud sebagai manusia. Menembusi jagat kasar dengan lebih leluasa dibandingkan siluman, mempengaruhi manusia dengan lebih lihai dari setan, dan menciptakan ketakutan yang lebih seram dari hantu.

Siluman dapat membuat orang jatuh sakit melalui tenung, iblis dapat membuat ratusan ribu orang keracunan massal atau jutaan orang gagal mendapatkan pengobatan atas penyakitnya.

Siluman penunggu pohon tua bisa membuat orang-orang yang mau menebangnya jadi kesurupan tapi iblis bisa membabat ribuan hektare hutan hujan tropis dan menjadikannya monokultur sawit.

Siluman penunggu sendang atau mata air bisa membuat satu desa kekeringan bila telat mempersembahkan sesajen. Namun iblis dapat membunuh sungai dan pantai tempat puluhan desa mencari hidup.

Sesajen yang diminta siluman biasanya hanya berupa makanan, bunga, atau hewan ternak, tapi Iblis mengambil dengan lebih rakus, mereka mengeruk bumi, meratakan gunung dan melahap semua isinya sambil menyisakan kerusakan setelahnya.

 

Serupa hewan amfibi, Iblis hidup di dua alam. Di jagat gaib dia menggunakan perantara tumbal, sesajen, wangi dupa dan kemenyan, juga aneka ritual lainnya.

Namun ketika mewujud manusia, ritualnya sedikit berubah. Tumbalnya adalah rakyat tak bersalah, sesajen yang diberikan adalah proyek pengadaan serta konsesi saham, wangi dupa dan kemenyan berganti wangi rupiah dan dollar, semuanya diikat dalam perjanjian dan kontrak politik.

 

Karena itulah Iblis jadi sangat berkuasa, ia didukung sembilan puluh enam juta manusia dan aneka entitas gaib yang tak kalah banyak jumlahnya.

Hantu memujanya karena dari iblislah mereka mencicipi rasa kuasa.

Setan mengikutinya karena bisikannya selalu dituruti oleh iblis.

Siluman menghormatinya karena atas jasa Iblis kekuasaan mereka melampaui batasnya.

Manusia dengan sukarela memuja, mengikuti dan menghormatinya karena iblis mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Itulah sebabnya jangan marah kepada hantu yang cuma bisa menakuti orang kencing sembarangan atau siluman yang bisa mengirim santet pada pedagang kecil tapi tidak mampu memasukkan paku ke dalam perut pejabat culas.

Ketika gunung dikeruk, tanah digali hingga perut bumi terbuka, dan kekayaan alam diangkut keluar, jangan menunggu setan murka. Ketika ribuan hektare hutan dibakar, jangan berharap dedemit keluar dari balik pepohonan untuk menghukum pelakunya.

Mereka tahu siapa yang melakukannya, entitas yang jauh lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa. Jadi jangan heran jika para dedemit memilih diam, mereka hanya sedang menghormati olig eh... hierarki.

Tapi ini bukan tentang makhluk gaib.

 

05 February 2025

Tentang Perasaan Masa Lalu dan Harapan yang Menyertainya

Perasaan dari masa lalu, terutama yang berakhir dengan rasa penasaran, seringkali tiba-tiba muncul dan mengusik pikiran. Mendesakkan tanya, harapan dan keinginan dalam dada, untuk kemudian membuat kita jadi bingung bertingkah. Akan bertindak apakah kita, puas dengan memandang dari kejauhan, bergerak lekas dan mencoba peruntungan atau cukup dengan bahagia menikmati kenangan.

Kejadian yang saya alami kemarin, sebuah perjumpaan tak terduga, di sebuah minimarket kecil, ratusan kilometer dari kota tempat saya tinggal. Awalnya saya tidak mengenali, hingga setelah dekat baru terbaca namanya, dan ingatan seolah kembali dilemparkan ke masa kanak-kanak. Mungkin kelas 4 atau 5 SD, dulu saya hanya bisa menatapnya di layar televisi, lebih tepatnya di salah satu kanal televisi luar negeri, TV 3 Malaysia tepatnya.

Dalam pandangan saya yg bocah, dia tampak begitu menggoda, dan menjadikan saya terbayang-bayang dan terfikir, benarkah apa yang saya saksikan di layar kaca itu. Namun saya menginsafi bahwa jangankan merengkuhnya, untuk menyentuhnya saja nyaris sebuah mimpi.

Sejalan dengan hidup hal-hal masa kecil semacam itu mulai terlupakan, tertimbun pengalaman lain dan kemudian lepas dari ingatan.

Tapi sesuatu yang berkesan di hati tidak pernah benar-benar hilang bukan? 

Maka, kemarin saat menjumpainya, saya dengan sukacita masa kanak yang timbul bergejolak menghampirinya.

.

.

.

.

.

.

...untuk kemudian kecewa. 

Bukan, ini bukan salahnya, ekspektasi saya saja yang keliru,  berharap semua akan seperti ingatan masa kanak saya, berharap yang ditemui akan sesuai imaji. 

Saya sudah dewasa, tua malah, tentu harus lebih bijak bersikap, maka saya hapus air mata di hati, saya sudahi rasa kecewa dan menerima kenyataan dengan lapang dada.

Maaf, saya kecewa, mungkin kita masih akan berjumpa, tapi saya tidak akan lagi menghampirinya. 


Bye-byee.... Ribena







27 June 2016

Milik Sendiri

Apa yang saya miliki meskipun tidak membuat saya jadi tinggi hati ternyata tetap bisa membuat orang lain iri. Sebagai sebuah keluarga muda di posisi ekonomi menengah kesamping benda-benda yang saya miliki termasuk biasa saja. Tidak jauh berbeda dengan orang lain, sepeda motor matic, kulkas, televisi, lemari dan lain sebagainya. Namun yang selalu mengundang komentar dari tamu di rumah kami adalah lemari buku dan lemari mainan (figure). Komentar yang muncul biasanya senada, yaitu tentang betapa 'kaya' nya saya karena memiliki sedemikian banyak buku dan mainan.  

Tentu saja ini jadi membingungkan, pertama karena diluar sana banyak orang-orang yang punya koleksi buku dan mainan jauuuh lebih banyak dari saya. Yang kedua, orang-orang yang berkomentar tadi adalah keluarga dengan tingkat ekonomi yang lebih tinggi dari saya. Akhirnya menanggapi hal tersebut saya cuman bisa nyengir sambil merendahkan diri dan meninggikan mutu.

Jadi pada intinya hal tersebut hanyalah soal pilihan, soal alokasi dana belaka. Dengan dana yang mereka miliki, mereka lebih memilih untuk membeli mobil, membeli gadget terbaru, belanja produk fashion yang mereka sukai, atau bisa juga mengalokasikannya untuk investasi (emas, saham, atau tanah). Sementara saya lebih memilih untuk membeli buku ^_^ (tampak bijak dan cendekiawan sekali kan). 

Padahal analisa matematis pendapatan bulanannya begini;

( Orang Lain )
Gaji                                : 4 X UMR

Alokasi
Kebutuhan pokok          :  1 X UMR                
Kebutuhan sekunder/
Investasi                        :  1 X UMR
Cicilan  KPR                 :  1 X UMR
Cicilan Mobil                :  1 X UMR +
Total                              :  4 X UMR

( Saya )
Gaji                                : 1 X UMR + Dikit

Alokasi
Cicilan  KPR                 :  2/3 X UMR
Cicilan Mobil                :  0    X UMR
Kebutuhan pokok          :  1/3 X UMR                
Kebutuhan sekunder/
Investasi                        :  Dikit             +
Gaji                                : 1 X UMR + Dikit


Nah jadi karena saya ndak nyicil mobil, dan gaji yang tersisa tidak cukup buat beli tanah, tidak paham bermain saham dan reksa dana, maka alokasi dana yang tersisa saya gunakan untuk hal-hal yang saya mampu dan saya paham. "BUKU"


Hal-hal sederhana yang saya jalani setiap hari juga bisa tampak begitu istimewa bagi orang lain. Jam berangkat kerja yang tampak santai (ingat! hanya tampak santai), jalan-jalan tiap akhir pekan, liburan yang hampir tiap bulan. Hal-hal tersebut yang menurut saya lumrah dan wajar pun bisa mengundang rasa iri, mengundang prasangka yang bukan-bukan.

Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau kata peribahasa, tapi saya masih meyakini pohon kacang panjang dan bayam milik saya lebih hijau. Karena ini bukan sekedar perkara hidup yang saling memandang (urip sawang sinawang) dimana saat kita memandang ke orang lain kita akan merasa orang lain lebih bahagia, pun saat mereka memandang kita, maka mereka akan beranggapan kita yang lebih bahagia. Bagi saya ini adalah soal kita memandang ke dalam diri dan mensyukuri apa yang kita miliki.

Di bulan Ramadhan ini, saya diingatkan kembali, ditunjukkan kembali, bahwa diluar sana masih banyak orang yang memiliki lebih dari saya tapi tidak lebih bahagia. Pun juga sangat banyak orang yang tidak mempunyai apa yang saya miliki tapi mereka lebih bersyukur.

MeyakiniMenjalani
MenikmatiMensyukuri
HidupMenghidupkanMenghidupi 


27 April 2015

Menunggu Siap





Saat saya berbagi kisah tentang serunya jalan-jalan ke gunung banyak kawan yang berminat untuk ikut. Ingin merasakan serunya perjalanan, berada di puncak, melihat lautan awan, matahari terbit dan banyak keseruan lain. Namun yang sering terjadi adalah, para calon peserta yang jauh-jauh hari tampak begitu bersemangat justru mundur saat menjelang hari H. Belum siap adalah alasan yang paling sering disampaikan. Jadi saya akan sedikit berbagi soal siap dan tidak siap ini.

Jika 2 tahun yang lalu anda bertanya apakah saya siap untuk mendaki gunung lagi maka saya akan terpikir-pikir cukup lama untuk menjawabnya. Persiapan fisik, mental, peralatan dan aneka kebutuhan lain makin menambah rasa tidak percaya diri. Bahkan saat istri saya menyemangati untuk mendaki kembali (sambil mengajak dia tentunya) saya justru mempertanyakan kesiapannya. Minum air mentah, pipis di alam terbuka, perjalanan panjang dan melelahkan, juga kemungkinan tidak berjumpa nasi seharian. Nanti masuk angin, nanti ndak kuat, nanti dan nanti yang lain yang sebenarnya justru berisi kekuatiran dan ketidak percayaan saya pada diri sendiri.

Kenyataannya justru istri saya kuat mendaki hingga ke puncak, pun juga kawan-kawan yang baru pertama kali mendaki. Meski semua menyisakan rasa tidak siap tidak satupun dari kami yang surut, langkah pertama sudah diambil maka yang harus dilakukan hanya melanjutkan langkah yang berikutnya. 

Seringkali siap atau tidak siap hanyalah keadaan yang ada dalam pikiran kita. Bila kita menunggu siap maka kita tidak akan pernah melangkah, tidak pernah memulai apapun, dan ini tidak hanya dalam avonturir tapi juga dalam hidup. Sekali waktu kita mesti membuat pilihan, atau kita tidak akan pernah melakukan. 


Jika kita menunggu hingga kita siap, maka kita akan menunggu sepanjang sisa hidup kita, sebab hidup dimulai saat kita sudah bisa meninggalkan zona nyaman kita.

03 March 2015

Tidak Pandai Menulis

Sudah lama sekali ingin menulis tapi ya tetap tidak kunjung ada tulisan yang terselesaikan. Yang pendek-pendek pun hanya sebatas coretan, konsep, draft, potongan gagasan. Sejak berbulan lalu tidak ada satupun tulisan tidak bermutu yang saya hasilkan. Maksudnya begini, jangankan yang tidak bermutu wong tulisan saja tidak ada.

Menulis disela waktu kerja, dikala senggang di rumah, saat sedang dalam perjalanan. Menulis di buku catatan, di Ms Word, di Notes ponsel. Sambil mendengarkan musik, sambil makan, sambil browsing. Aneka cara sudah dicoba dan tetap tidak menghasilkan.

Terkadang ide datang seakan minta buru-buru dituangkan tetapi kemudian berlanjut dengan diam dan terpikir-pikir, sering juga berlanjut kedalam mimpi dan bercampur dengan memori absurd lainnya. Keesokan harinya semuanya menguap dan yang tersisa tinggal remah-remah.

Mungkin saya terbentur writer's block sebuah penghalang khayali yang membatasi otak kita untuk menuangkan isinya dalam bentuk tulisan. Jadi yang akan saya lakukan adalah menubruk kuat-kuat penghalang tadi, kalau saya mental maka saya akan ambil ancang-ancang untuk melompatinya, bila masih gagal juga mungkin saya akan menggali terowongan dibawahnya.

Tapi ya ini semua cuma wacana, kalau minggu depan masih belum menulis juga berarti nambah lagi hutang saya.

11 June 2013

Seandainya

Seandainya saya lebih serius bekerja
Seandainya saya tidak bekerja di pabrik panci
Seandainya saya menikah dengan yang lainnya
Seandainya saya tidak meninggalkan pekerjaan dari proyek ke proyek
Seandainya saya memilih untuk pulang ke kampung halaman
Seandainya saya tidak pernah menjadi peserta tender 
Seandainya saya lebih cepat menentukan keputusan
Seandainya saya tidak terlalu sombong
Seandainya saya masih bekerja di bidang pengeboran
Seandainya saya tidak bekerja di seputaran ibukota
Seandainya saya memilih lebih lama menikmati sebagai freelance
Seandainya saya tidak pernah terlibat dengan Bintang Jatuh
Seandainya saya kuliah dan praktikum dengan sungguh-sungguh
Seandainya saya tidak menjadi anak jurusan tehnik
Seandainya saya justru ke Surabaya dan bukan Bandung
Seandainya saya tidak masuk SMA depan rumah
Seandainya saya lebih banyak melewatkan waktu bersama orang tua
Seandainya saya tidak dibesarkan sebagai anak bungsu
Seandainya saya bukan dari keluarga yang berada
Seandainya saya tidak lahir dan tumbuh di Jawa Timur





.... seandainya saya tidak pernah hadir di muka bumi


12 December 2012

Mari Menulis (Kembali)

Kemarin seorang saudara muda memuat post saya di blog ini pada grup Pecinta Alam kami, tadinya saya pikir ini bakal sekedar menjadi lucu-lucuan, ternyata pageview saya meningkat drastis pada setelahnya. 

Saya memang tidak tahu pasti apakah mereka benar-benar membaca atau sekedar melintas, tapi saya senang, saya merasa diingatkan kembali pada nikmatnya menulis dan nikmatnya ketika tulisan saya dibaca. (Ughh... OK saya tahu, ini memang terbaca seperti seseorang yang sedang memuaskan kompleks narsis nya)

Sejak awal November yang lalu saya sudah mencoba menulis (kembali) namun hasilnya tidak maksimal. Ada banyak alasan klise yang bisa saya sebutkan, mulai tidak ada waktu hingga tidak ada selera, dan menghibur diri "...ah setidaknya saya sudah menulis draft, bikin coret-coretan" dan dengan  demikian saya merasa sudah menulis. Padahal tulisan yang berupa draft sebenarnya hanyalah masakan setengah matang, tidak layak saji dan tidak pantas dipamerkan.

Jadi di tanggal 12-12-2012 ini, dimana jutaan orang lain meributkan kiamat, akhir dunia, atau serangan asteroid maha dahsyat, saya lebih memilih menjadikan hari ini sebagai sebuah momen untuk menulis (kembali).

22 December 2010

Bukan Dikurangi tapi Dibagi

Semalam saya melewatkan sepotong malam bersama seorang karib, menonton sebuah film yang cukup lumayan, belum pernah saya tonton dan ceritanya cukup menarik. Tapi bukan film ini yang ingin saya bagi disini, tapi celetukan yang sedikit mirip curhat colongannya yang ingin saya bagi. Tidak ada angin tidak ada hujan (pantes panas) tiba-tiba dia nyeletuk, "Pak cepet nikah, udah jangan ditunda-tunda lagi, nggak usah nunggu nanti-nanti"



"Lho...?"



Dan kemudian serentetan kalimat diluncurkan, menurutnya setelah menikah bukan berarti langsung hanya enak belaka, bukan sekedar bulan-madu-diawan-biru-tiada-yang-mengganggu, bukan....setelah menikah pun dia dan pasangannya (bukan saya) masih akan berhadapan dengan berbagai masalah, mulai biaya cicilan ini itu, tempat tinggal, belanja, dll, dsb hingga pada perubahan kebiasaan-kebiasaan.



Poin yang ingin dia ceritakan bukan soal masalah-masalah yang tentu tidak akan pernah lepas dari kehidupan kita, sebab kita semua tahu, hidup tanpa masalah itu tidak seru kan? Yang ingin dia tunjukkan pada saya adalah, masalah boleh makin banyak, beban bisa saja bertambah tapi itu semua akan terasa lebih ringan sebab tidak lagi ditanggung sendiri, ada seseorang untuk berbagi, bertukar pikiran, dan tentu saja untuk menghadapi semua hal itu bersama-sama.



...dan harus saya akui, pagi itu saya merasa iri.

14 August 2010

Mohon Maaf

Seperti yang telah disiratkan oleh judulnya, note ini berisi permintaan maaf saya, permintaan maaf kepada beberapa wanita yang masih menyisakan rasa bersalah pada diri saya. Seandainya hal ini mudah tentu saya akan menemui kalian dan mengucapkan kata maaf dari dalam hati saya. Sayangnya ini bukan sekedar soal menghadapi rasa bersalah dan kemampuan untuk berbesar hati, tapi juga karena mungkin saya tidak akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu kembali.

Adalah sebuah kesombongan bila saya menyatakan bahwa ada banyak wanita yang telah saya buat jatuh cinta, tapi saya sadar bahwa ada beberapa dari kalian mungkin sempat merasa tidak karuan perasaannya, atau mungkin telah terganggu tidur malamnya dengan kehadiran saya dimimpinya. Mungkin bukan cinta, mungkin cuma kesan sesaat yang terlalu menggoda, apapun itu, saya harus mengucapkannya;

Maaf, maaf dan maaf

Bahkan meski dengan mengatasnamakan kewajaran sebagai seorang lelaki terhadap wanita, mencoba bersikap 'gentleman' atau bahkan sekedar 'berbaik hati', tindakan saya mungkin terasa agak berlebih, dan memang begitu mudah disalah artikan. Mungkin saya yang terlalu cepat menyimpulkan, bisa juga saya yang terlalu jumawa dengan menyatakan bahwa sikap saya yang seringkali memperlakukan wanita dengan lebih spesial daripada umumnya para pria, tapi satu hal yang saya yakin, ada beberapa wanita yang telahsaya lukai karena 'kebaikan hati' ini.


Dan melalui note ini saya ingin meminta maaf, mungkin tidak akan bisa membebaskan diri saya dari rasa bersalah, tapi saya harap bisa sedikit mengurangkan rasa-rasa tidak nyaman yang pernah hadir di hati kalian.

Atas segala kata yang pernah munculkan rasa, atas segala tindakan yang timbulkan asa
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua wanita yang pernah saya lukai hatinya.

Hidup Baru

Bukan ini bukan soal pernikahan, ini soal sebuah kehidupan yang baru, eh? bukan, ini juga bukan soal kelahiran seseorang. Ini cuma soal sebuah kehidupan yang baru. Sebuah kehidupan di tempat yang baru, orang-orang disekitar saya yang baru, cara hidup yang baru, apapun....

Apakah menyenangkan? Belum tentu juga, kehidupan baru ini bisa jadi kehidupan seorang tukang sapu di Nepal, petani nanas di Uruguay, atau bisa juga jadi tukang copet di Praha. Maaf saya tidak bisa membayangkan sesuatu yang lebih menyenangkan dan menghibur macam diculik oleh sebuah organisasi kejahatan internasional dan kemudian dicuci otak atau tiba-tiba ditunjuk sebagai pewaris tunggal sebuah kastil di Eropa Utara, terlalu indah dan tidak masuk akal.

Menuju pada kehidupan baru ini bisa jadi berat dan tidak menyenangkan, mungkin saya akan berakhir diujung peluru penjaga perbatasan, dimangsa segerombolan serigala ataupun mati kering di tengah lautan. Apakah dengan akhir hidup yang seperti itu berarti hidup saya sia-sia? Entahlah, yang pasti saya pikir itu cukup menyenangkan.

Nggak masalah kalau anda tidak setuju, sebagian besar orang normal pasti beranggapan bahwa hidup yang baik adalah menikah, beranak pinak dan hidup bahagia hingga tua dan mati dikelilingi keluarga.



Suatu tempat di tepi kolam renang, saat merindukan petualangan

25 January 2010

Happy New Year, La Primavera

Sudah berbulan-bulan lewat sejak terakhir kali memuat posting di Blog ini, Tahun pun sudah berganti, dan mumpung masih di awal tahun saya ucapkan lagi "Selamat Tahun Baru 2010". Topik dalam posting kali ini ialah Tahun Baru, berawal dari obrolan singkat di sela pekerjaan dan berlanjut dengan konsultasi dengan Mbah Google maka saya tulis posting ini. "La Primavera"

Pertanyaan yang mengawali rentetan tulisan ini muncul saat saya melihat Stiker di salah satu pusat perbelanjaan, "End Season Sale discount up to 70%", saya pun bertanya pada Mr.S "memangnya tahun baru itu 'End Season'(Akhir Musim)?" Saya menanyakan hal ini karena setahu saya pada negara-negara empat musim Januari masih termasuk musim dingin. Mr.S membenarkan hal tersebut karena menurutnya Januari sudah mulai memasuki musim semi, dan meskipun sama-sama belum sempat menjejakkan kaki di negeri 4 musim saya masih merasa belum puas dengan jawaban ini, maka berkonsultasilah saya dengan Mbah Google.

Maka beginilah kisahnya.......

Masyarakat negeri 4 musim pada mulanya merayakan tahun baru pada awal musim semi dan menjelang bulan purnama penuh, atau pada tanggal 1 Maret. Maret juga merupakan bulan pertama dalam satu tahun, dan sedikit catatan bahwa perhitungan kalender pada masa itu mengacu pada penanggalan bulan dan bukannya matahari. Ab Urbe Condita, atau hari dimana Roma berdiri merupakan nama lain dari penanggalan tersebut, dimulai pada 753SM bersamaan dengan berdirinya kota Roma.

Tradisi tahun baru pada bulan Maret berakhir ketika pada tahun 46SM Julius Gaius Caesar menetapkan sistem penanggalan baru yang merubah kalender dengan sistem Lunar (Bulan) menjadi Solar (BBM eh sori matahari maksudnya. Sistem kalender ini juga dikenal dengan Kalender Gregorian, dengan tanggal 1 Januari sebagai tahun barunya. Sedikit catatan Julius Caesar pula yang menambahkan bulan July/Juli dan sekaligus memporak-porandakan susunan bulan-bulan dalam satu tahun. Misalnya October yang seharusnya merupakan bulan ke delapan (Octa/Okto) menjadi bergeser ke bulan 10 begitupun September yang awalnya merupakan bulam ke tujuh (Septem). Yah, sejarah adalah milik para penguasa kan ^_^

La Primavera

Menurut orang Italia, tahun baru merupakan La Primavera atau "Kehidupan yang Pertama(atau yang Utama yah?)" jadi pada tahun yang baru ini marilah kita memulai kehidupan yang baru, mulai menjalani kebaikan-kebaikan baru, meninggalkan kesalahan-kesalahan lampau dan berusaha tidak mengulanginya, menuju kehidupan yang lebih baik.

NB: Mohon Doa dan Restunya yah saudara-saudara, semoga di tahun ini saya bisa melangkah ke sebuah jenjang kehidupan yang baru, dimana saya akan mengakhiri masa lajang dan semoga juga masa-masa jalang ^_^

12 January 2010

Masjid yang Besar

Akhir tahun kemarin saya lewatkan di Jawa Timur, bersama sang calon Nyonya, saya berputar-putar di Malang, melintasi Caruban, Nganjuk, Mojokerto dan tentu saja Madiun. Seringkali kami juga harus sholat di perjalanan, maka mampirlah kami di masjid-masjid yang kami temui di sepanjang perjalanan, kadang di Masjid Besar kadang di Masjid Kecil.

Ada sesuatu yang hampir selalu saya rasakan ketika memasuki sebuah Majid Besar, besar disini tentu saja dalam soal ukuran, bentuk dan kemegahan masjid tersebut. Masjid-Masjid Besar ini seringkali dihiasi interior mengkilap, keramik pilihan, hiasan dan ornamen di sekujur dinding masjid, tiang-tiang menjulang, langit-langit yang begitu tinggi. Bagi sebagian orang mungkin ini justru tampak megah, indah, menakjubkan tapi bagi saya justru sebaliknya.

Buat saya mungkin Masjid Besar itu cukup Masjid Besar yang ada di dekat alun-alun, sedangkan di tempat lain cukuplah masjid - masjid dengan ukuran menengah atau kecil. Anda mungkin tidak setuju, sama seperti banyak orang lain diluar sana yang juga berpendapat sama, tapi sebelum itu mari kita bahas soal Masjid Besar ini.

Sebuah masjid besar yang megah bisa saja jadi kebanggaan, sebuah simbol keagungan, simbol pemujaan untuk mengagungkan nama-NYA, selain itu masjid yang merupakan "Rumah Allah" haruslah dibangun dengan sebaik-baiknya, dan tentu saja masih banyak alasan lain yang dapat dijadikan dasar mengapa sebuah masjid dibangun dengan ukuran besar dan megah.

Alasan kenapa saya lebih menyukai masjid-masjid yang sederhana adalah, bagi saya masjid yang besar atau megah belum tentu nyaman, mungkin saja ini hanyalah sebuah rasa minder diri, sebuah kompleks inferior yang berlebihan. Hal lainnya adalah pada masjid yang besar pada saat masjid ini sedang tidak banyak digunakan maka akan terasa kosong, suwung, sementara pada masjid yang lebih sederhana yang muncul justru keheningan atau kesunyian yang menenangkan. Masjid yang sederhana juga memberi kesan yang lebih membumi, lebih menyatu dengan hidup sehari-hari sehingga ibadah yang kita lakukan tidak terasa memberi jarak dengan amalan-amalan duniawi, bahwa agama sesungguhnya bukan cuma ada dalam kitab suci. Mungkin itulah beberapa hal yang membuat saya merasa lebih nyaman berada dalam sebuah masjid yang sederhana.

Nah cukup dengan soal perasaan, sekarang mengenai alasan logisnya kenapa masjid tidak perlu harus mewah atau megah. Tentu saja karena mahal dan membutuhkan biaya besar, dan kadang biaya ini harus didapatkan dengan meminta-minta sumbangan, (yang tentu saja berpotensi mengalami penyelewengan). Masalah lain adalah, sebuah masjid yang mewah bisa saja dibangun dengan dana yang sebanding dengan pembangunan beberapa masjid yang sederhana, sedangkan saya (dan mungkin anda juga) sering melihat banyak masjid, surau, langgar, atau musholla yang dibangun dengan ala kadarnya karena memang kekurangan dana, karena memang masyarakat sekitarnya pun hidupnya masih cukup sederhana (nyaris miskin)

Jadi bukankah lebih baik membangun seratus masjid yang sederhana daripada sepuluh masjid yang megah yang kemudian hanya akan terisi penuh setiap kali sholat Jumat.

22 November 2009

7+1 Alasan Untuk Pindah Kerja

Seringkali dalam perjalanan karir kita harus membuat keputusan untuk meninggalkan perusahaan tempat kita bekerja, tentu saja dengan berbagai macam alasan yang melatar belakangi keputusan kita. Nah sebagai seseorang yang sedang berada pada tahap tersebut saya ingin mencoba berbagi dengan segenap kawan semua tentang "10+1 Alasan untuk Pindah Kerja".

1. (Satu) Gaji atau pendapatan

Kita bekerja memang tidak selalu soal seberapa besar gaji kita, akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar alasan pindah kerja adalah untuk mendapatkan jenjang pendapatan yang lebih baik. Yang terjadi di perusahaan tempat saya bekerja saat ini adalah standar gaji yang mereka terapkan bisa dibilang sangat rendah. Meskipun tentu saja masih satu garis diatas upah minimum, akan tetapi posisi kerja atau jabatan (yang nantinya berhubungan langsung dengan tanggung jawab dan beban tugas) tidak berada pada posisi minimum. Konkretnya seperti ini, apakah anda pernah mendengar seorang Manager yang menangani sebuah proyek mendapat gaji dibawah 2 juta rupiah?

2. (Duwa eh Dua) Situasi kerja yang mulai tidak kondusif

Suasana kerja sangat mempengaruhi mood kita dalam bekerja. Suasana yang dimaksud disini bukan sekedar layout ruangan kerja, warna cat atau fenomena inter-exterior lainnya. Suasana kerja juga berarti sistem manajemen, hubungan antar karyawan, fasilitas kerja, dan banyak hal lain yang terjadi selama kita bekerja. Dalam suasana kerja yang professional tentu kita harus bisa membedakan antara hubungan pribadi dengan hubungan sebagai rekan kerja, sayangnya di kantor saya hal-hal seperti ini begitu absurd, ada kalanya perselisihan kerja bisa jadi seteru pribadi,sering juga sebaliknya, dan sebagai akibatnya sistem yang seharusnya bisa berhalan dengan lancar justru sering berantakan karena hal-hal konyol semacam ini.

3. (Teega(baca:TIGA bukan TEGA)) Tidak ada kesempatan untuk meningkatkan diri

Peningkatan kualitas diri tidak hanya berasal dari seberapa banyak uang yang anda miliki, memperkaya kemampuan, pola pikir, mental, dan pengalaman kerja juga merupakan sebuah peningkatan diri. Saat anda mulai merasa buntu,stuck atau mulai bosan dengan rutinitas yang tidak produktif maka mungkin inilah saatnya anda memutuskan untuk mencari pekerjaan baru. Di kantor tempat saya bekerja saya merasa semakin sulit untuk berkembang, budaya dan disiplin untuk kemajuan nyaris tidak berjalan peraturan yang dibuat oleh pimpinan justru disepelekan sendiri oleh keputusan yang dia laksanakan, menyedihkan.

4. (Empat,iya Empat) Keberadaan anda tidak dihargai

Yang saya maksudkan dengan keberadaan yang tidak dihargai ialah seolah-olah anda ada atau tidak tetap saja tidak akan berpengaruh pada kondisi perusahaan. Seringkali hal ini muncul karena hubungan yang tidak harmonis dengan atasan sehingga anda jarang, bahkan mungkin tidak pernah diserahi tugas atau tidak dilibatkan dalam proyek/pekerjaan perusahaan anda. Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa bukankah menyenangkan bila kita bisa santai-santai tapi uang gaji terus berjalan, sayangnya tidak, kebutuhan manusia untuk aktualisasi dan pengakuan akan eksistensi mereka cukup besar, belum lagi rasa malu dari anggapan "makan gaji buta".

5. (Udah pasti Lima kan?) Keluarga

Bagi mereka yang sudah berkeluarga atau hendak berkeluarga hal ini bisa menjadi salah satu alasan kuat untuk pindah kerja, bisa jadi agar mereka punya lebih banyak waktu dengan keluarga, mungkin sistem cuti dan lembur yang lebih baik, pekerjaana yang tidak terlalu mobile, dan segudang alasan lainnya.

6. (......Enam) Bos yang Menyebalkan

Hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar Bos adalah orang yang menyebalkan, diktator absolut versi mini, terutama pada perusahaan swasta dan perusahaan keluarga (Keluarga Bos tentunya dan bukan keluarga anda). Seringkali ketika seseorang memiliki kekuasaan atau berada dalam posisi yang lebih tinggi daripada orang lain* maka dia akan memiliki kecenderungan untuk bersikap Egosentris atau menjadikan dirinya sebagai standar atas segala hal yang dilakukan orang lain (bawahannya) tentu saja hal ini akan sangat berpengaruh kepada kinerja dan kesempatan peningkatan karier anda. Hal ini memang bisa disiasati dengan berusaha lebih memahami karakter si Bos, meskipun cara tersebut sering gagal, terutama bila anda tidak berbakat menjadi seorang penjilat.

7. (IYA! Tujuh) SwaUsaha atau Usaha Mandiri.

Memiliki usaha sendiri menjadi impian bagi banyak orang, mengatur arah dan kebijakan usaha anda, menjadi sang Pengambil Keputusan, dan banyak kenikmatan lain yang tidak akan anda rasakan saat anda menjadi pekerja pada orang lain. Selain berbagai keuntungan anda juga akan dibebani dengan banyak tanggung jawab dan keharusan yang harus anda tanggung saat menjadi pemilik sebuah usaha. Jadi sebelum memutuskan untuk pindah kerja anda harus menyiapkan modal (dana, koneksi, persiapan mental, dll) dengan baik dan jangan lupa rencana cadangan jika usaha anda tidak berjalan mulus.

7+1. (Terserah mo dibaca apa) PENGEN AJA

Tentu banyak juga alasan seperti ini, kita begitu ingin pindah kerja meskipun belum tentu kita tahu apa alasannya. Jadi kenapa mesti pusing? Selama anda siap untuk menghadapi setiap konsekuensi dari Pindah Kerja ya lakukan saja. Gitu aja kok repot

NB: Sekedar untuk pengumuman, saya sudah memenuhi semua syarat diatas. Jadi mohon doa semoga bisa segera hengkang dari perusahaan ini.

30 September 2009

Maaf Memaafkan

Nuansa-nuansa Lebaran masih terasa, di sekolah, kantor, di rumah dengan para tetangga, hari-hari ini masih dipenuhi suasana saling minta maaf dan memaafkan, saling bersalam-salaman. Masih banyak acara Halal bi halal digelar sebagai ajang saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.

Sama seperti banyak kegiatan khas Ramadhan lainnya, acara silaturahmi dan bermaaf-maafan ini seringkali terjebak dalam sebuah klise (cliche : sesuatu yang menjadi kehilangan makna karena terlalu sering dilakukan/dipakai).

Maaf-memaafkan kadang berubah makna menjadi sebuah kegiatan rutin kultural yang tidak lebih dari ajang bertemu dan bersalam-salaman. Maaf menjadi sebuah produk lisan belaka tanpa melibatkan bathin. Ketika kita meminta maaf itu lebih dikarenakan sebuah kepantasan, dan ketika kita memaafkan itupun dilakukan lebih karena sebuah keharusan. Ah tapi sayapun terkadang masih seperti itu pada beberapa orang ^_^

Meminta maaf seharusnya diawali dengan kesadaran bahwa kita mengakui telah berbuat kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Bila kita tetap tidak merasa bersalah maka permintaan maaf kita hanyalah tindakan sebatas kepantasan.

Begitu pula dengan memaafkan, sudah sepatutnya ketika kita berniat memaafkan orang lain maka tidak perlu lagi kita ungkit kesalahan-kesalahannya, tidak perlu lagi kita musuhi dia atas kesalahan yang telah kita maafkan.

Bukan hal yang mudah untuk memaafkan dan meminta maaf, terlebih lagi buat saya, ketika meminta maaf seringkali sulit bagi saya untuk mengakui kesalahan, merendahkan kepala dan meminta ampunan atas kesalahan yang saya perbuat. Pun saat harus memaafkan, terkadang begitu berat untuk melupakan luka yang pernah menggores dinding hati, menghapus dendam dan melupakan khilaf.

Oleh karena itu dikesempatan ini, dalam suasana bulan Syawal, ijinkanlah saya memohon maaf dan semoga saya bisa menghapuskan dan melupakan luka-luka lama yang masih tersimpan. Kepada orang-orang yang pernah saya lukakan, kepada orang-orang yang pernah begitu saya benci, saya mohon maaf.


Mohon Maaf Lahir dan Bathin.
Selamat Hari Raya Idul Fitri

10 September 2009

Menembus Batas Diri

Batas : 1 perhinggaan; 2 sempadan pemisah antara dua bidang, ruas, dan daerah; 3 ketentuan yg tidak boleh dilampaui.

Secara bahasa itulah artian dari batas, sebuah garis yang memisahkan dua hal. Akan tetapi bila ditinjau secara nilai "rasa" maka artinya bisa sangat berbeda bagi tiap-tiap orang. Lantas apa sih sebenarnya yang disebut "batas" itu? Apakah itu adalah sebuah garis akhir tempat kita menyerah? Ataukah suatu keadaan dimana kita harus mulai menyadari kemampuan diri?

Pertanyaan ini muncul ketika saya sedang berada dalam suatu proyek tambang di Halmahera, dan lebih tepatnya saat saya sedang terpikir-pikir ditengah sungai, ya, ditengah sungai, sebuah sungai kecil dengan batu besar di tengahnya. Pekerjaan kami pada proyek tersebut adalah pemetaan atau topografi jadi setiap hari kami menempuh setidaknya 3-5Km, dan pada awal perjalanan kami selalu harus mendaki sebuah tanjakan (kami beri nama "Tanjakan Selamat Pagi") sejauh 1 Km dengan kemiringan yang cukup menguras keringat, menghilangkan nafsu makan, dan menimbulkan haus yang amat sangat.

Itulah efek yang terjadi saat pertama kali mendaki tanjakan ini, dan entah berapa kali saya harus beristirahat sebelum mencapai ujung dari tanjakan ini. Selalu saja ada godaan untuk menyerah, untuk berhenti atau memilih kembali. Setelah berhari-hari menjalani 'menu' yang sama saya baru menyadari saya makin jarang berhenti di tengah tanjakan, bahkan akhirnya saya bisa melewati tanjakan ini tanpa harus beristirahat.

Lantas pada suatu sore di tengah sungai sepulang "tugas" saya mendinginkan kaki di tengah sungai dan mulai berpikir tentang batasan diri saya. Sesuatu yang awalnya terasa begitu berat bisa terlewati karena saya terus mencoba untuk menembus batasan diri saya. Ketika kaki saya sudah begitu lemas, ketika jantung saya seperti mau meledak, tapi saya tetap melangkah, dan saya mencapai akhir dari perjalanan saya.

Lantas kemana batas imajiner yang selama ini membatasi langkah saya? Ternyata itu semua cuma ada di otak saya. Ternyata tidak ada yang namanya batas, selalu ada langit di atas langit, yang paling tinggi belum cukup tinggi, masih bisa lebih jauh lagi, meski mungkin tidak hari ini.

Yeahh!!! Tampak bersemangat sekali kan? seakan-akan tidak ada yang bisa menghentikan saya, bahkan Tuhan. Ya, saya juga pernah seperti itu, mencoba melawan semua batasan, semua hal yang merintangi, dan semua nasehat, cibiran, tak ada artinya buat saya. Ketika saya memutuskan bahwa saya pasti bisa melampaui batas ini,1000% saya yakin bisa.

Saya terus berlari dan memaksa diri saya untuk menembus batas, tapi ternyata saya tidak mampu, jiwa saya menjerit kesakitan, tubuh saya memberontak. Saya masih terus memaksa mereka, hingga tetes terakhir dari semangat saya pun nyaris menguap. Merasa takut dikudeta oleh tubuh dan jiwa saya maka saya berdamai dengan mereka, saya duduk sejenak, menimbang rasa dan logika, dan saya memutuskan untuk menyerah.

Bukan karena saya kalah, bukan karena saya tidak mau berusaha, tapi mungkin bukan ini jalan saya.

Dari lembar-lembar kisah hidup yang sudah saya lewati ini, akhirnya saya menyadari, terlalu membatasi diri hanya akan membuat kita jadi kerdil dan lemah, tapi tidak mengenali batasan diri juga bisa membuat kita jadi pongah, takabur. Menempatkan batasan itu pada tempat yang tepat adalah kuncinya.

21 August 2009

Shalat Jumat

Sudah beberapa tahun saya tinggal di sebelah masjid, mulai zaman kuliah di Bandung hingga saat ini di Tangerang setidaknya sudah 3 kali saya tinggal persis di sebelah masjid. Ada banyak hal yang berbeda tapi satu yang selalu sama, saya tidak pernah cocok dengan masjid-masjid itu. Bukannya saya tidak cocok dengan masjid tapi saya selalu saja tidak bisa merasa nyaman berlama-lama di ketiga masjid itu.

Dan sama seperti shalat Jumat yang saya lakukan di masjid sebelah mess tadi siang (dulu saya lebih memilih shalat di tempat lain atau bahkan tidak shalat sekalian) masjid itu terlalu berisik dan setelah shalat hampir semua jamaah langsung menghambur keluar.

Saya tidak tahu pasti penyebabnya, mungkin karena di kota besar ini para jamaahnya rata-rata adalah pekerja atau pegawai yang sangat terikat oleh waktu, sehingga jika mereka berlama-lama di masjid maka habis sudah jam makan dan istirahat mereka. Atau mungkin juga kita sudah tidak bisa menikmati masjid sebagai tempat yang sunyi, tempat untuk berkontemplasi dan menikmati sunyi.

Ahhh.....saya rindu saat-saat dimana masjid bisa terasa begitu sejuk dan sunyi.
Trus nanti Taraweh gimana ya? bakal berisik lagi nggak ya?

Selamat datang Ramadhan

Pasti mudah bagi-Nya untuk memaafkan karena Dialah sang Maha Pengampun. Sedangkan bagi sebagian besar dari kita memaafkan lebih sering menjadi sekedar pemanis bibir dan bukannya sebuah ketulusan yang keluar dari dalam hati. Untungnya di bulan yang kebaikannya bahkan jauh lebih besar dari seluruh bulan dalam rentang hidup kita ini ada kesempatan untuk saling meminta dan memberi maaf, menghapus kesalahan yang mungkin muncul dari khilafnya laku, salanya ucapan atau bahkan sekedar niatan dalam hati. Maka saya ucapkan maaf tulus dari dalam hati atas segala hal yang telah membuat anda dan siapapun merasa tidak nyaman, semoga permohonan maaf ini bisa membersihkan kerikil tajam yang mengotori jalan kita menuju surga.

Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan bathin

10 July 2009

Beberapa waktu terakhir ini saya nyaris yakin bahwa semua hal harus dibeli dengan uang dan menjadi kaya adalah sebuah syarat menjadi manusia. Pada bulan-bulan ini saya juga hampir kehilangan keyakinan tentang konsep berharap pada Tuhan. Saya tidak tahu lagi hendak berlari kemana, untuk apa, mengejar atau mungkin bersikejaran dengan entah apa. Saya mencoba mencari jalan dimana bahagia bermuara, tapi mengapa di depan sana yang tampak cuma padang terjal dan jurang menganga? Maka dari itu sempat juga muncul sebuah postingan yang beraroma "kematian", saya ngerasa stuck, buntu, dan nggak tahu harus kemana ataupun hendak apa.


Hingga kemudian ada sesuatu yang menembus otak saya, menembus dan menghunjam jauh kedalam kesadaran saya. SAYA HARUS BERHENTI DAN MELEPASKAN SEMUANYA. Maka itulah yang saya lakukan, saya bebaskan diri saya dari semua mimpi-mimpi, obsesi, target, dan semua hal yang mengejar dan saya kejar.

Dan saya mendapatkan pencerahan itu, dengan membebaskan diri saya justru bisa melihat apa yang selama ini saya lewatkan, apayang selama ini tidak saya sadari. Ternyata hidup ini begitu indah, ternyata jalan panjang yang terbentang di depan saya tidak cuma terjal, berliku dan dihiasi jurang menganga, nun disana ada padang rumput menghijau, ada air terjun, dan mungkin ada Harmonia. Perjalanan panjang ini cuma level demi level yang harus saya lewati, untuk menuju Final Stage dan mungkin Unlocking a New Stage ^_^

Ehm....well, maybe I'm in Love

28 June 2009

Menjadi kaya atau mati mencoba

Sebelum anda membaca posting ini, bacalah sepenggal kalimat ini, bila punya cukup waktu silahkan anda terpikir-pikir dahulu sebelum melanjutkan membaca.

What money can buy? A bed but not sleep, books but not knowledge, a clock but not time, food but not appetite, finery but not beauty, a house but not a home, medicine but not health, amusement but not happiness, sex but not love.



Begitu sering saya mendengar kata-kata semacam itu, bahkan dulu saya pun berpikir begitu, bahwa uang tak bisa membeli segalanya, bahwa banyak hal di dunia ini yang tak bisa dibeli dengan uang. Betulkah?
Sayangnya tidak sepenuhnya benar, hampir semua hal bisa dibeli dengan uang, sebut saja, bumi dan seisinya? manusia? harga diri? cinta? ya semuanya bisa dibeli, bahkan juga Tuhan.

Tanpa uang kita pasti akan kesusahan, kita tidak bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, kita tidak bisa memenuhi keinginan kita. Maka kita mencari dan mengumpulkan uang, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi. Semakin banyak uang yang kita kumpulkan, semakin banyak yang kita butuhkan, dan semakin banyak pula yang kita inginkan. Semakin jauh kita mencari semakin lupa kita dengan alasan awal kenapa kita mencari. Untuk mendapatkan uang kita memerlukan modal, tak cukup hanya tenaga dan pikiran yang kita jual, waktu, idealisme, gengsi dan harga diri, bahkan Tuhan dan keyakinan kita.

Saya tidak menganggap itu hal yang salah, itu wajar saja, sebab saya setuju bahwa selalu ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu. Dalam hidup memang tak ada yang gratis, kita memberikan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Yang menjadi pertimbangan adalah apakah yang kita berikan itu sesuai dengan apa yang akan kita dapatkan, apakah terlalu mahal ataukah terlalu murah, semuanya kitalah yang menentukan. Dengan menjadi kaya maka semua hal akan menjadi lebih murah dan lebih mudah.

Yah semoga saya bisa menjadi lebih kaya, sebab masih banyak mimpi yang belum terbeli, masih banyak tuntutan yang belum terpenuhi, masih banyak janji yang belum ditepati. Dan biarlah saya menjadi kaya atau mati mencoba.


`Posting ini ditulis sambil mendengarkan "Can't Buy Me Love- Jazz Ver."


07 June 2009

Kematian itu seharusnya membebaskan

Suatu pagi, beberapa waktu yang lalu. Sebuah pesan singkat masuk ke telepon saya, seorang kawan meninggal dunia, menurut si pengirim kawan saya ini meninggal karena sakit. Selang beberapa hari senuah pesan singkat yang lain masuk, ibu dari seorang teman, meninggal dunia. Pesan singkat ini seakan hadir untuk ikut mengingatkan setelah beberapa hari ini saya terpikir-pikir mengenai kematian. Kematian bukanlah hal yang akrab kita perbincangkan dalam kehidupan kita sehari-hari, meski nyaris tiap hari kita disuguhi dengan berita pembunuhan, kecelakaan, atau bahkan kematian massal dalam perang.

Mungkin karena itu kematian milik orang lain.

Sangat jarang kita berbincang tentang kematian yang akan kita hadapi, karena menimbulkan rasa takut atau tidak nyaman kita kemudian menganggap kematian sebagai hal yang nyaris tabu dibicarakan. Kematian adalah sebuah bencana, musibah atau malapetaka, kehadirannya dalam pikiran kita hanya akan dibarengi dengan kemuraman dan kesedihan.

Kematian lebih mengerikan daripada menderita penyakit, menjadi miskin, atau hal-hal minor lainnya karena kematian tidak dapat disembuhkan atau dibalikkan keadaannya (unrecoverable). Ketika sakit kita masih bisa berharap sembuh, ketika miskin kita bisa berharap kaya, tapi apakah kita bisa berharap dapat hidup kembali setelah kematian? Tentu saja yang saya maksudkan adalah hidup kembali didunia ini. Ketidak mampuan untuk kembali pada kondisi semula inilah yang membuat kita merasa takut. Kita menjadi terputus dengan semua hal yang ada, semua orang, dunia kita, benda-benda kesayangan kita.

Ya, saya sendiri masih takut dengan kematian. Sebagian karena saya merasa tidak siap menghadapi konsekuensi hidup yang telah saya jalani, sebagian lagi karena takut kehilangan hal-hal yang (saya rasa) telah saya miliki.

Selama kita masih merasa memiliki sesuatu maka kita akan takut kehilangan.
(If you got NOTHING, you got NOTHING to lose)

Bukan ingin mempengaruhi anda untuk meninggalkan apa yang telah anda miliki, bukan pula untuk menyarankan anda berhenti mengejar apa yang ingin anda miliki, cuma ingin berbicara sendiri, tentang kematian yang pasti datang, tentang kehilangan yang pasti menjelang.
Memang baik mengejar mimpi, tapi alangkah indahnya bila sekali waktu kita mengingat akan mati, mengingat akah akhir dari dunia kita. Dan semoga hal itu yang akan membebaskan kita dari ambisi duniawi yang berlebih.

......ah saya cuma ngunandhika, nggreneng sendiri, bukan sok berlagak sufi.


(Diupdate sehari setelah diposting)

Waktu mencuci baju malam ini tiba-tiba saya merasa harus menulis ini. Sebenarnya posting ini seharusnya berjudul "Komm Susser Todd" atau 'Come Sweet Death'. Seharusnya juga dalam posting ini saya bercerita tentang saya yang tiba-tiba ingin melepaskan semuanya, untuk tidak hanyut dalam harapan-harapan, untuk lebih menjalani hidup dengan mengalir, untuk tidak terperangkap mengejar utopia saya. Tapi ternyata saya tidak bisa, saya masih takut, takut mati, takut melepas mimpi, takut berhenti mencari harmoni. Ah saya belum siap menjadi air yang mengalir, masih saja merasa diri ini api.