Showing posts with label Yang lain. Show all posts
Showing posts with label Yang lain. Show all posts

11 April 2018

Coretan di selembar kertas (The Other Side)

Re-post;Kopipahit69

Siang itu cukup cerah, diluar sana sepertinya matahari giat memanaskan bumi kita yang semakin tipis ozonnya, ah global warming sudah jadi global warning ^_^ Saat-saat seperti ini memang saat yang paling pas buat tidur siang, pantas saja para Mexican menciptakan Siesta (acara istirahat/tidur pada siang hari, atau klik wikipedia aja deh untuk lebih lengkapnya)

Saya sedikit terkejut (kan agak ngantuk) ketika pintu itu terbuka, seorang lelaki masuk dan seakan ada hempasan udara panas ditujukan kearah saya. Saya yakin ini bukan sekedar udara luar yang panas dan bercampur polusi, lelaki itu tampak membawa "api". Saya adalah cowok straigth normal dan saya lebih menyukai Tom Hanks daripada Tom Cruise, tapi harus saya akui bahwa lelaki ini menarik (Uh..oh??) Dia jelas tidak tampan (saya yakin saya lebih tampan) tampangnya tidak indo, kulitnya jelas terbakar matahari, tinggi meski tidak atletis, tapi wajahnya jelas meninggalkan kesan mendalam, campuran antara kesombongan, amarah, dan sekaligus menunjukkan bahwa dia menyimpan sesuatu dibalik ekspresi wajahnya.

"Iced Cappucino, large" dia tersenyum meski itu jelas tampak dipaksakan. "Panas sekali yah diluar" sambut saya mencoba berbasa basi, meski saya sadar pertanyaan saya konyol. Dengan gelas ukuran besar saya sodorkan Cappucino dingin didepannya. Diteguknya langsung setengah isi gelas itu dan disusul dengan hembusan nafas panjang. "Hari yang melelahkan...." sejenak bersandar "saya merasa lelah, fisik maupun mental saya capek"
"Tuntutan pekerjaan yah?" Saya tahu bukan itu jawabannya
"Bukan, nggak sepenuhnya, lebih kepada soal masalah kehidupan aja"
"Pernikahan anda?" tampaknya pria ini belum menikah,tapi asumsi saya kan biasanya pria mendapatkan lebih banyak masalah setelah mereka menikah (dan sebenarnya mereka menikmatinya)
"Ah...bukan" bibirnya sedikit tertarik ke atas "saya belum menikah, saya baru putus dengan calon istri saya, he he penggunaan kata yang kurang tepat ya?" dia tersenyum sambil mencoba bercanda
"Tunangan anda?" tanya saya, "bukan ehm belum..." jawabnya sambil mengangkat alis. "Perbedaan prinsip?"
"Bukan, bukan perbedaan yang memisahkan kami, masalah klasik, orang ketiga"
"ah...." lagi-lagi saya tidak bisa berkomentar
"Sebenarnya mungkin itu cuma sekedar pemicu mungkin juga itu adalah sebuah jalan keluar dalam kebuntuan kami"
Saya cukup paham untuk tidak menyela ucapannya dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh.
"Kami sudah menjalin hubungan selama 10 tahun, dan itu adalah 40% dari hidup saya, sudah terlalu banyak hal yang kami lewati bersama"
"Yah saya juga melewatkan 10 tahun sebelum saya menikahi istri saya dan melewatkan 10 tahun berikutnya sebagai suaminya"
"Anda bercerai?"
Pertanyaan ini selalu muncul, tapi sudah tak sesakit dulu "Tidak, dia mendahului saya ke atas" jawab saya sambil tersenyum
"Ah maaf" dia tampak sedikit salah bersikap, saya membalasnya dengan senyuman
"Saya juga ingin seperti itu, tapi terlalu jauh rasanya"
"Terlalu jauh?"
"Begitulah, dulu saya berjuang untuk mendapatkan cintanya, ketika menjadi kekasihnya saya berusaha mempertahankannya, tapi bagi dia itu belum cukup, saya belum berusaha cukup keras"
"Ehm anda tidak mampu memenuhi ekspektasinya?"
"Yah... saya tidak bisa menjadi laki-laki yang bisa diandalkan, saya tidak bisa memberi kepastian"
"Soal komitmen?"
"Bukan cuma sekedar soal komitmen, tapi juga soal jaminan ekonomi, soal karir saya, soal pilihan hidup saya, banyak hal yang berputar disini" diteguknya lagi gelas cappucino nya
"Saya merasa bahwa saya sudah melakukan banyak hal untuk dirinya, mencoba melampaui batas-batas saya, mencoba berlari lebih cepat dan melompat lebih jauh, tapi saya tetap gagal" segera disambungnya kalimatnya "Mungkin saya belum berlari cukup cepat"
"Entahlah, ini sekedar pendapat, mungkin anda belum berlari cukup cepat atau mungkin juga anda berlari di lintasan yang salah" Kata saya tanpa bersikap menggurui
"Saya tidak tahu, ketika kami berpisah beberapa teman dekat berkata bahwa mungkin saya akan mendapatkan yang lebih baik, tapi saya tidak pernah berharap mendapat yang lebih baik, saya cuma ingin bersamanya"
"Lantas....?"
Dia tersenyum getir "Saya tahu itu tidak mungkin, sudah ada yang lain dihatinya, seorang lelaki yang bisa menjadi pangeran baginya"
"Jadi anda sudah tidak pernah berkomunikasi dengan euh...mantan anda?"
"Masih, sering malah, entah sekedar menemaninya ke toko buku, mendengarkan keluh kesahnya, atau apapun yang saya pikir dapat menggembirakan hatinya"
"Ah... sedikit absurd menurut saya, tapi mungkin itulah cinta"
"Ya, itulah cinta, saya mencintainya dan saya tidak dapat mengalihkan perasaan itu kepada gadis lain"
"Meski anda tidak mungkin bersamanya?"
"Ya, saya bahagia bisa menyayanginya sebagai seorang kakak, menemaninya sebagai seorang sahabat, dan mendukungnya sebagai seorang rival, ya, saya bahagia bila dia bahagia" kalimat berikutnya meluncur dengan nada yang lebih tinggi "tapi saya benci lelaki itu"
Saya tahu yang dia maksudkan pasti kekasih baru dari mantan calon tunangannya
"Saya tahu kalo saya membunuh laki-laki itu, dia pasti akan sangat sedih"
Sesaat angin dingin merambati tengkuk saya, dari matanya saya yakin dia mampu melakukan hal tersebut.
"Ha ha ha saya cuma bercanda, saya tidak akan melakukan hal konyol seperti itu kok"
Saya cuma bisa pura-pura batuk
"Saya rasa saya memutuskan untuk tetap mencintainya dan terus berlari, mungkin kami akan bertemu di persimpangan nasib yang lain" sambil melirik jam ditangannya dihabiskan cappucinonya dalam sekali teguk, mengeluarkan uang dari saku celananya, meletakannya di atas meja "Master, terima kasih atas kopinya" katanya sambil berlalu, bahkan sebelum saya sempat menghitung kembalian untuk lelaki itu.

Ketika saya merapikan kursinya saya menemukan selembar kertas yang tampaknya dirobek secara buru-buru dari organisernya


Ada saat dimana semua yang kulakukan cuma sebuah harapan ,
Tapi itulah cinta

Dan aku heran atas apa yang terjadi pada dirimu

Bagaimana bisa kau berikan cintamu pada seseorang
Dan membagi impianmu denganku

Kadang dalam segala yang kau cari
ada sesuatu yang tak kau lihat

Sepertinya sebuah puisi tentang cinta yang tak terjawab, pahit...

Coretan di selembar tisu

Re-Post;Kopipahit69

Sore hari, hujan baru berhenti, diluar sana entah ada pelangi atau cuma langit kelabu. Dulu saya suka bau tanah setelah hujan tapi saat ini setelah hujan aroma yang tercium justru makin tidak jelas, padahal katanya ini adalah saat yang tepat bagi seorang pria untuk bersikap melakonlis.

Pintu terbuka, seorang pria masuk, masih muda, penampilannya tipikal pegawai kantoran. "Ehm... Mocha Latte" Sambil mengangguk saya ambil sebuah cangkir, menyiapkan pesanan dan kemudian meletakkannya dihadapannya "Saya bukan penggemar pahit" katanya sambil tersenyum "saya juga bukan penggemar kopi sebenarnya". "Mungkin sepulang dari sini anda akan berubah menjadi seorang penggemar kopi" balas saya sambil tersenyum.

Dituangkannya dua sachet gula, diaduk, ditiupnya cangkirnya dan diteguk sedikit dan kemudian memandang saya "saya tidak yakin bakal jadi penggemar kopi tapi saya suka tempat ini"
"Tidak apa-apa, siapa saja boleh berkunjung kemari meski bukan seorang penggemar kopi. Kadang kopi cuma jadi pelengkap di sela obrolan mereka" jawab saya. Awalnya memang saya ingin menjadikan tempat ini sebagai tempat menikmati kopi yang sebenarnya, pada perkembangannya banyak juga yang menjadikan tempat ini sebagai sarana melepas penat, dan akhirnya saya harus menyerah pada selera pasar.

"Saya suka tempat ini, suasananya nyaman, seakan-akan saya telah meninggalkan semua beban saya diluar sana" katanya sambil melepas jaketnya, melipat dan meletakkannya di pangkuan. "Begitulah, kadang hidup kita yang indah ini bisa terasa sangat melelahkan" Dia tersenyum "Ha...ha...saya pikir master tidak pernah lelah" "Oi...?? Saya kan juga manusia" jawab saya

"Sebenarnya saya juga sedang lelah, ada seseorang yang membuat saya merasa begitu"
"Ehm...pasangan anda?" saya mencoba bertanya, meski biasanya tanpa saya tanya pun mereka akan melanjutkan ceritanya. "Bukan, emmm....bagaimana ya..." dia terdiam untuk beberapa saat "seorang lelaki, mantan pacar dari kekasih saya" Saya cuma bisa mengangguk-angguk sambil mengangkat alis. "Apakah dia mengganggu hubungan anda?"

"Tidak juga, ehm buat saya itu memang mengganggu, tapi...." dia tidak meneruskan kata-katanya, saya juga ikut diam karena saya tahu dia tidak butuh pertanyaan.
"Laki-laki itu adalah seseorang yang sangat istimewa buat kekasih saya, dia nggak cuma sekedar mantan pacar, lelaki itu juga seorang kakak, sahabat, rival, ah entahlah yang pasti dia teramat istimewa di mata kekasih saya" sepertinya sebuah situasi yang cukup kompleks "Tapi dia memilih anda kan?" kata saya, lebih sebagai sebuah pernyataan daripada sebuah pertanyaan.

"Ya, dia memilih saya, bahkan kami sudah membicarakan tentang pertunangan, tapi tetap saja saya merasa terganggu" sahutnya sambil agak bersungut. Dua orang pria masuk, memilih meja disudut, segera saya menghampiri mereka, Esspresso dua, Croissant, satu spaghetti dan onion ring. Sepuluh menit kemudian saya hantarkan pesanan mereka dan saya kembali berdiri di counter, mengelap cangkir dan tatakan sambil tersenyum memandang lelaki itu.

Dia membalas senyuman saya dan melanjutkan ceritanya "Saya benci mengakuinya, tapi lelaki itu memang istimewa, yah meskipun saya sangat membencinya" dia meneguk lagi Latte nya "Dia siap melakukan apapun untuk kekasih saya, dan apa yang saya maksudkan dengan apapun adalah apapun"
"apapun...." kata itu sengaja saya biarkan menggantung. "Ya, apapun, saya tidak tahu mesti bagaimana menggambarkannya, lelaki itu lebih memahami kekasih saya daripada saya sendiri, dia tahu apa yang harus dilakukan ketika kekasih saya marah, ketika kekasih saya tiba-tiba diam, bahkan dia bisa mengetahui apa yang diinginkan oleh kekasih saya tanpa kekasih saya harus berkata apapun"
"Uhm...saya curiga kalau dia seorang cenayang (Tentu saja kalimat ini saya ucapkan dalam hati)"Seharusnya saya adalah sang pangeran buat kekasih saya, tapi lelaki itu adalah ksatria pelindung baginya, say membelikan sebuah apartemen untuk kekasih saya tapi lelaki itu memberikan rumah dengan pintu yang selalu terbuka bagi hatinya, kadang saya merasa bahwa lelaki itu lebih pantas bersama kekasih saya"

"Apakah anda tidak berlebihan? mungkin itu cuma karena anda cemburu? mungkin juga lelaki itu sudah tidak lebih dari sahabat bagi kekasih anda?"

"Itulah yang selama ini selalu coba saya yakini, saya berusaha menjadi yang terbaik buat kekasih saya, tapi saya tetap tidak bisa membuang perasaan itu" terbayang sedikit senyum getir dibibirnya

"It's complicated yah?" komentar yang tidak penting, saya tahu pasti rasanya tidak nyaman.

"Mungkin karena saya bukan penggemar kopi, berat buat saya menghadapi hal-hal pahit seperti ini"

Saya cuma bisa berkomentar datar "Kadang pahit itu nikmat, tapi kalau untuk apa yang anda alami mungkin anda harus lebih membuka komunikasi, dengan lelaki itu, dengan kekasih anda, dan cobalah untuk tidak terlalu melibatkan emosi"

"Yah seperti kopi digelas ini, dibalik pahitnya ada sekecap rasa manis, saya akan coba bicarakan soal ini dengan kekasih saya" Diletakkannya selembar uang yang cukup untuk membayar 2 cangkir kopi, dijabatnya tangan saya "Master, terima kasih atas sore ini" Saya tersenyum sembari masih menggenggam erat jabat tangannya saya berkata "anak muda ingatlah, yang pahit jangan terlalu cepat dimuntahkan, yang manis jangan terlalu cepat ditelan"

Saat saya membereskan gelasnya saya melihat tisu yang dicoret-coret oleh lelaki itu

""Aku benci lelaki itu
karena meski aku adalah pangeranmu
dia adalah ksatria pelindungmu

Aku benci lelaki itu
karena meski kuberikan istana untukmu
dia berikan dunia bagi hatimu

Aku benci lelaki itu
karena meski kau berikan tubuh dan hatimu padaku
kauberikan dia mimpi-mimpimu""


Tampak pahit....

Lelaki kusut sore hari itu

Re-Post;Kopipahit69


Selamat datang, saya tidak tahu definisi tempat ini, warung jelas bukan disebut cafe pun sebenarnya kurang pas (cuma ada sebuah counter dan 5 kursi), ini adalah sebuah sudut tempat orang-orang datang dan menikmati kopi. Bagaimanapun tempat ini butuh nama, jadi selamat datang di cafe KOPI PAHIT 69.

Biasanya para pengunjung memanggil saya master, tentu saja bukan karena saya seorang kung fu master ataupun coffe master, saya sendirilah yang membiasakan pengunjung saya memanggil begitu. Mungkin karena saya terlalu banyak menonton anime semacam "Get Backers" atau bisa juga karena terpesona figur Falcon si pemilik Cafe Cat's Eye.

Pengunjung tempat ini beraneka ragam, pekerja kantoran, mahasiswa, ibu muda, pengangguran dan aneka pribadi lainnya. Mereka unik bukan semata karena apa yang mereka kenakan, pilihan kopi mereka, latar belakang pendidikan mereka ataupun apa yang mereka bawa, bukan, mereka unik karena mereka semua memiliki kisah yang berbeda.

Seperti juga pengunjung saya sore ini, seorang pemuda, usianya mungkin pertengahan 20, bajunya agak kusut, mungkin bukan tipe yang melewatkan hari kerja di depan monitor atau tumpukan file. Dia duduk di depan counter "Cappucino dingin yang large" katanya "dan tidak usah terlalu banyak krimnya. Sambil menyendok es batu dan memasukkannya ke juicer saya sempat melihat dia mengeluarkan tisu basah, mengelap mukanya yang kusam karena debu dan partikel asap knalpot yang menempel di minyak wajahnya.

"Silahkan, iced cappucino gelas besar" bibirnya bergerak sedikit, tersenyum, wajahnya tak lagi kusam namun ekspresinya masih kusut. Diminumnya sepertiga isi gelas itu kemudian diletakkan kembali sambil diiringi helaan nafas panjang. Masih dengan senyum yang agak dipaksakan dia bercerita tentang seorang wanita.
"Saya yakin master juga pernah muda..."

Tentu saja, karena saya lahir tidak langsung tua batin saya, kemudian dia melanjutkan kalimatnya

"Semalam saya menginap di rumah .....(dia menyebut nama seorang wanita, mirip dengan sebuah merek pengharum ruangan,saya lupa, yang pasti bukan Bayfresh apalagi Baygon)

"...dia bukan kekasih saya, dan kami juga tidak pernah meributkan apa status hubungan kami. Saya mengenal dia sejak beberapa bulan lalu dan hubungan kami menjadi lebih dekat sejak saya bermasalah dengan pasangan saya"

"...hemm" Saya masih mendengarkan, sambil mengelap cangkir dan tatakan yang baru dicuci. 

"Ngobrol dengan dia rasanya seperti ngobrol dengan teman lama, akrab, ringan, hangat"

Saya tersenyum sambil melipat lap "Chemistry" gumam saya

"Iya, nyambung, tapi..." kalimatnya terputus, dia mengangkat gelas, meneguknya dan lagi-lagi mengakhirinya dengan helaan nafas panjang.
"entahlah, dia baik, easy going, secara fisik dia juga menarik, tapi..."

"tapi?"

"ehmmm... dia lebih tua dari saya, kami berbeda keyakinan, dan dia juga seorang perokok"

"Tapi bukan itu kan yang menjadi masalah?" kata saya sambil tersenyum

"Yah begitulah, saya menyukainya" tapi buru-buru disambungnya kalimatnya "sebagai teman"
"Saya sangat mencintai kekasih saya, atau lebih tepatnya mantan kekasih saya, memang butuh banyak perjuangan agar bisa bersamanya, tapi saya sangat mencintainya"

Saya tahu dia sungguh-sungguh ketika mengucapkan kalimat tersebut

"Saya merasa untuk mempertahankan hubungan ini saya harus terus berlari, sementara dengan wanita yang baru ini saya bisa santai, tidak ada keharusan, karena hubungan kami tidak memiliki status, tidak ada tuntutan, karena kami bukan siapa-siapa, mungkin cuma sekedar teman yang ditemui diperjalanan"

"Ehm...kadang bahkan meski cuma sekedar berjumpa di jalan bisa saja dia menjadi teman kita sepanjang perjalanan, bisa juga kita menjadi sangat kehilangan ketika kita harus menempuh jalan yang berbeda" kata saya mencoba bijak

"Saya dan dia tahu itu, dia tahu saya masih dan mungkin akan tetap mencintai pasangan saya, dia tahu bahwa saya mungkin tidak akan pernah mencintainya, dia juga tahu..." kalimatnya berhenti sesaat "...bahwa saya cuma menjadikan dia pelarian"

Ganti saya yang menghela nafas panjang

"Semalam kami membicarakan itu semua"

"Bukankah itu menyakitkan?"kata saya

"Yah itu membuat saya merasa tidak nyaman, dan saya tahu dia juga begitu, meski hal itu coba disembunyikan di balik senyumnya"

Saya tersenyum, datar, saya paham apa yang dia rasakan meski saya tidak juga membenarkan ataupun menyalahkannya, empati.

"Saya merasa bersalah terhadap mantan kekasih saya, terutama setelah apa yang saya lakukan" dia memutar-mutar gelas sebelum menghabiskan sisa cappucinonya "saya tidur dengan wanita itu, dan dan mantan saya mengetahuinya, dari saya sendiri" dia menghembuskan nafas kuat-kuat, seakan mencoba meingankan beban di dadanya "Saya menyesal menceritakan hal tersebut pada mantan kekasih saya"

"Tidak perlu menyesal, justru dengan jujur kamu telah menunjukan penyesalan dan permohonan maafmu"

"Mantan kekasih saya menangis, dia bilang dia kecewa"

"Mungkin karena dia masih mencintaimu"

"Kami berpisah karena dia memilih lelaki lain, seharusnya hal ini bukan sesuatu yang akan membuat dia meneteskan air mata"

Ternyata, bahkan setelah hidup ribuan tahun, wanita masih merupakan misteri terbesar bagi seorang pria.

Dihabiskannya sisa es batu yang telah mencair dan bercampur endapan kopi, kemudian bangun dan meletakkan selembar uang "Master terima kasih yah, atas kopi dan telinganya" Tersenyum, membalikkan badan dan melangkah keluar. 

Saya membalas senyumannya, membereskan gelas dan mengelap counter.

10 August 2011

Cerita Pagi Ini

Pagi ini, seorang penyeberang jalan melintas, angkot yang saya tumpangi mengerem mendadak, dua sepeda motor dibelakang nyaris menabrak, dan seorang bapak di pinggir jalan langsung tersentak.

Sang penyeberang jalan yang kemudian berganti status sebagai penumpang angkot memang menggoda untuk disimak, polesan tipis di wajahnya yang cerah dihiasi segaris senyum. Dan rambut yang tergerai menyembunyikan sebagian lehernya namun tidak bisa menutupi bagian depan bajunya yang berbelahan rendah.

Lengan bak pualam dan jemari lentik yang mengayun gemulai ketika memasuki pintu angkot membuat si bapak yang duduk dibelakang kusir eh maaf supir memandang terpaku sambil sesekali menelan ludah, seorang bapak yang duduk di depan saya menyempatkan diri untuk mencuri-curi pandang sambil sibuk menekan tombol handphone nya.

Saya sendiri lebih memilih untuk membuang muka, merasa jengah dan tidak nyaman, bukan karena sok alim atau berlagak menghormati bulan puasa, bukan juga karena teringat pesan istri saya untuk menjaga pandangan.

Saya menolak untuk melihatnya karena sejak awal saya sudah melihat jakun dilehernya ^_^

19 July 2011

Pokoknya Update

Memalukan, terakhir kali posting adalah 2010 lalu, jadi posting hari ini adalah dengan tujuan spesifik "POKOKNYA UPDATE"


Terima Kasih sodara-sodara

08 October 2009

Saya dan Pekerjaan

2 Tahun sudah saya di salah satu tepi ibukota ini, Tangerang, sama seperti daerah lain di sekitar ibukota, kota ini juga menjadi daerah urban dengan manusia dari berbagai penjuru negeri ini. Para manusia ini bertebaran di Tangerang demi mencari uang dari berbagai pabrik, industri, usaha jasa hingga ke berbagai bidang usaha lainnya.

Karena dikenal sebagai kawasan industri maka ketika saya memperkenalkan diri dan menyatakan bahwa saya bekerja di Tangerang maka pertanyaan berikutnya biasanya adalah lokasi kerja, untuk lebih memudahkan akan saya berikan contoh dialognya.

Saya : ".....saya kerja di Tangerang pak (kata 'pak' boleh diganti mas, mbak, bu atau apapun)

X : "Pabrik apa?"

Saya : "Oh bukan pak,saya di kontraktor, untuk pengeboran air"

X : "Oooo.....Jetpump?"

Saya : (Duh...) "Bukan pak, ini yang skala besar, untuk hotel, apartemen, pabrik"

X : "...yah bikin sumur gitu kan?"

Saya : (Ugh....) "Ya semacam itu sih pak, tapi nanti sekalian dengan pengolahan air dan pemipaan juga"

X : "Pengolahan air?...yang kayak air isi ulang itu ya mas?"

Saya : (Arghhh...) "Ya hampir sama pak, tapi ini skalanya lebih besar"

X : "....oooo kayak pabrik Aqua ya..?

dan biasanya saya memilih untuk tidak memperpanjang dialog ini.


Mungkin belum terbayang oleh sebagian besar dari kita penggunaan air tanah untuk memenuhi kebutuhan sebuah kompleks apartment, plasa, mall dan bangunan-bangunan berskala besar lainnya. Mungkin yang akan terbayang pertama kali adalah jetpump atau bahkan pompa tangan merk Dragon. Sekedar untuk info sebuah kompleks apartemen bisa membutuhkan hingga 10 sumur dengan kapasitas masing-masing lebih dari 100.000 Liter perhari. (Bayangkan saja berapa jetpump yang harus tersedia untuk mencukupi kebutuhan tersebut)

Untuk pekerjaan seperti itulah orang-orang seperti kami ada

(advertorial)
PT. Arizal Bangun Persada.
Vila Regency Tangerang Blok FC-2 No 15
Contact Person : Dony Aditya (Iya, itu saya)
(advertorial)


Tugas kami adalah membuat sebuah lubang di tanah dengan kedalaman 150-250 Meter (Batas kedalaman ditentukan oleh Pemerintah Daerah setempat)lubang dengan diameter 6-8inch atau 15-20cm inilah yang kemudian disebut sumur dalam atau deep well. Setelah dilakukan pembuatan lubang maka dipasanglah pipa pelindung dan pipa saringan guna menyerap air tanah yang kemudian akan dipompakan dengan menggunakan pompa submersible yang diletakkan dalam sumur (terendam) untuk memompa air menuju tanki penampung yang nantinya akan didistribusikan ke area yang membutuhkan.



Berikut adalah metode yang sering kami gunakan dalam pembuatan sumur dalam yaitu metode lubang terbuka atawa "Open Hole Methods"

TAHAP-TAHAP METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBUATAN SUMUR DALAM


1. TAHAP PERSIAPAN
2. TAHAP PEMBORAN AWAL (PILOT HOLE)
3. TAHAP ELECTRICAL LOGING
4. TAHAP PEMBERSIHAN LUBANG BOR (REAMING HOLE)
5. TAHAP KONSTRUKSI PIPA CASING DAN SARINGAN (SCREEN)
6. TAHAP PENYETORAN KERIKIL PEMBALUT (GRAVEL PACK)
7. TAHAP PENCUCIAN DAN PEMBERSIHAN (WELL DEVELOPMENT)
8. TAHAP PENGECORAN
9. TAHAP UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
10.TAHAP FINISHING

I. TAHAP PERSIAPAN

Dalam pelaksanaan pekerjaan pemboran tahap pekerjaan persiapan meliputi :

1. Pekerjaan Mobilisasi

Sebelum pekerjaan lapangan dimulai, dilakukan mobilisasi atau mendatangkan peralatan dan bahan-bahan pemboran beserta personelnya ke lokasi pemboran. Tahap mobilisasi ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan lapangan.

2. Pekerjaan Persiapan Lokasi

Pada tahap pekerjaan ini meliputi :

a. Pembersihan, perataan dan pengerasan lokasi untuk posisi tumpuan mesin bor.
b. Pembuatan bak Lumpur, bak control dan selokan untuk sirkulasi Lumpur bor.
c. Penanaman casing pengaman sedalam 1-2 m pada posisi titik bor apabila formasi lapisan tanah paling atas yang akan dibor merupakan lapisan formasi yang mudah runtu.
d. Penyetelan (setting) mesin bor beserta menara (rig), penyetelan (setting) pompa Lumpur beserta selang-selangnya.
e. Penyedian air serta pengadukan Lumpur bor untuk sirkulasi pemboran.

II. TAHAP PEMBORAN AWAL

Sistem pemboran yang diterangkan disini adalah menggunakan system bor putar (rotary drilling) dan tekanan bawah (pull down pressure) yang dibarengi dengan sirkulasi Lumpur bor (mud flush) kedalam lubang bor.
Pemboran pilot hole adalah pekerjaan pemboran tahap awal dengan diameter lobang kecil sampai kedalaman yang dikehendaki, diameter pilot hole biasanya antara 4 sampai dengan 8 inchi, Selain itu juga ditentukan dengan kemampuan atau spesifikasi mesin bor yang digunakan.

Hal-hal yang perlu diamati dalam pekerjaan pemboran pilot hole adalah :

 Kekentalan (viskositas) Lumpur bor
 Kecepatan mata bor dalam menebus formasi lapisan tanah setiap meternya (penetrasi waktu permeter)
 Contoh gerusan (pecahan) formasi lapisan dalam setiap meternya.
Contoh (sample) pecahan formasi lapisan tanah (cutting) dimasukkan dalam plastik kecil atau kotak sample dan masing-masing diberi nomor sesuai dengan kedalamanya. Adapun maksud pengambilan sample cutting adalah sebagai data pendukung hasil electrical logging untuk menentukan posisi kedalaman sumber air (akuifer)

III. TAHAP ELECTRICAL LOGING

Electrical Loging tujuannya adalah untuk mengetahui letak (posisi) akuifer air, tahap pekerjaan ini sebagai penentu konstruksi saringan (screen).
Electrical Loging dilakukan dengan menggunakan suatu alat, dimana alat tersebut menggunakan konfigurasi titik tunggal dimana eletroda arus dimasukakan kedalam lubang bor dan elektroda yang lain ditanam dipermukaan. Arus dimasukkan kedalam lubang elektroda yng kemudian menyebar kedalam formasi disekitar lubang bor. Sebagian arus kembali ke elektroda di permukaan dengan arus yang telah mengalami penurunan. Penurunan inilah yang diukur.

IV. TAHAP PEMBERSIHAN LUBANG BOR (REAMING HOLE)

Yang dimaksud dengan reaming adalah memperbesar lubang bor sesuai dengan diameter konstruksi pipa casing dan saringan (screen) yang direncanakan.
Hal-hal yang diamati dalam tahap pekerjan reaming adalah sama seperti pada tahap pekerjaan pilot hole, hanya pada pekerjaan reaming cutting (formasi lapisan tanah) tidak perlu diambil lagi. Ideal selisih diameter lobang bor dengan pipa casing adalah 6 inchi. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah masuknya konstruksi pipa casing dan saringan (sreen) serta masuknya penyetoran kerikil pembalut (gravel pack).

V. TAHAP KONSTRUKSI PIPA CASING DAN SARINGAN (SCREEN)

Pada tahap ini peletakan pipa casing dan saringan (screen) harus sesuai dengan gambar konstruksi yang telah direncanakan. Terutama peletakan konstruksi saringan (screen) harus didasarkan atas hasil electrical logging dan analisa cutting.
Selain itu juga didasarkan atas kondisi hydrogeology daerah pemboran. Dari pemahaman aspek-aspek hydrogeology diharapkan perencanaan sumur dalam yang dihasilkan mampu memberikan sumur pemanfatan (life time) yang maksimal dan kapasitas yang optimal dengan memperhatikan kelestarian lingkungan didaerah sekitar pemboran.

VI. TAHAP PENYETORAN KERIKIL PEMBALUT(GRAVEL PACK)

Maksud dan tujuan penyetoran kerikil pembalut (gravel pack) adalah untuk menyaring masuknya air dari formasi lapisan akuifer kedalam saringan (screen) dan mencegah masuknya partikel kecil seperti pasir ke dalam lubang saringan (screen). Adapun cara penyetoran kerikil pembalut (gravel pack) adalah dibarengi dengan sirkulasi (spulling) air yang encer supaya kerikil pembalut (gravel pack) dapat tersusun dengan sempurna pada rongga antara konstruksi pipa casing dengan dinding lubang bor.

VII. TAHAP PENCUCIAN DAN PEMBERSIHAN (WELL DEVELOPMENT)

Tahap pekerjaan pencucian dan pembersihan sumur dalam dilakukan dengan maksud untuk dapat membersihkan dinding zona invasi akuifer erta kerikil pembalut dari partikel hlus, agar seluruh bukaan pori atau celah akuifer dapat terbuka penuh sehinga ar tanah dapat mengalir kedalam lubang saringan (screen) dengan sempurna.
Manfaat dari tahap Well Development ini adalah :

 Menghilangkan atau mengurangi penyumbatan (clogging) akuifer pada dinding lobang bor.

 Meningkatkan porositas dan permeabilitas akuifer disekeliling sumur dalam.

 Menstabilakan formasi lapisan pasir disekeliling saringan, sehingga pemompaan bebas dari kandungan pasir.

Pelaksanaan tahap Well Development dilakukan dengan cara :

1. Water Jetting

Peralatan yang digunakan disebut Jetting Tool, yaitu suatu alat dari pipa yang mempunyai 4 lobang (dozzle). Alat ini dimasukkan kedalam sumur dalam pada tiap-tiap interval saringan secara berurutan dari bawah keatas dengan penghantar pipa bor yang dihubungkan dengan pompa yang dihubungkan dengan pompa tekan yang memompakan air bersih kedalam sumur dalam.
Pada pengoperasiannya, alat ini digerakkan berputar-putar atau dengan memutar-mutar pipa penghantarnya dan naik turun sepanjang saringan (screen).

2. Air Lift

Pada metode air lift ini dimulai dengan pelepasan tekanan udara kedalam sumur dalam dari tekanan kecil kemudian perlahan-lahan diperbesar. Pekerjaan air lift ini dilakukan mulai dari interval saringan paling atas ke bawah secara berurutan hingga ke dasar sumur dalam.

VIII. TAHAP PENGECORAN (GROUTING)

Maksud dan tujuan dari tahap grouting ini adalah :
- Sebagai penguat (tumpuan) konstruksi pipa casing.

- Untuk menutup (mencegah) masuknya air permukaan (air atas) kedalam pipa casing melalui saringan (screen).

IX. TAHAP UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)

Maksud dan tujuan uji pemompaan (pumping test) ini adalah untuk mengetahui kondisi akuifer dan kapasitas jenis sumur dalam, sehingga dapat untuk memilih jenis serta kapasitas pompa ang sesuai yang akan dipasang disumur dalam tersebut.

Data-data yang dicat dalam uji pemompaan adalah :
a. Muka air tanah awal (pizometrikawal)
b. Debit pemompaan
c. Penurunan muka air tanah selama pemompaan (draw-down)
d. Waktu sejak dimulai pemompaan
e. Kenaikan muka air tanah setelah pompa dimatikan
f. Waktu setelah pompa dimatikan

Uji pemompaan dilakukan melalui 2 tahap :

1) Uji pemompaan bertahap (step draw-doen test)
Uji pemompaan yang dilakukan 3 step, masing-masing selama 2 jam dengan variasi debit yang berbeda.

2) Uji pemompaan panjang

Uji pemompaan ini umumnya dilakukan selama 2x 24 jam dengan debit tetap.
Pada uji pemompaan ini dimbil sample air 3 kali, yaitu pada awal pemompaan, pertengahan dan akhir pemompaan. Maksud dan tujuan pengambilan sample air adalah untuk pemeriksaan (analisa) kualitas air, apakah air yang dihasilkan dari sumur dalam tersebut memenuhi standar air minum yang diizinkan.

Kualitas air yang dianalisa adalah :
- PH (keasaman atau kebasaan) air tersebut.
- Kadar unsure-unsur kimia terkandung dalam air tersebut.
- Jumlah zat pada terlarut (TDS).

X. TAHAP FINISHING

Tahap finishing meliputi :

o Pemasangan pompa submersible permanent, panel listrik serta instalasi kabel-kabelnya.
o Pembuatan bak control (manhole) apabila well head posisinya dibawah level tanah, pembuatan apron apabila well head posisinya diatas level tanah.
o Pembuatan instalasi perpipaan, asesoris serta Well Cover.
o Pembersihan dan perapihan lokasi.



27 April 2009

Ulang Tahun

Sudah setahun lewat seperempat abad saya melewatkan masa hidup di muka bumi ini. Hari ini saya diingatkan tentang usia yang semakin bertambah dan umur yang semakin berkurang. Meski saya tidak terlalu menspesialkan hari ini, dan meski ada banyak hal yang membuat saya melewatkan hari ini dengan berlarian kesana kemari (Kejar tayang Proyek) ya, saya bahagia. Saya bahagia, karena ternyata ada begitu banyak orang yang memberi ucapan selamat kepada saya, mengucapkan doa dan harapan mereka bagi saya, dan saya bahagia ketika mereka tetap mengingat saya bahkan saat saya sering melupakan mereka.

Dan bukan sekedar bahagia, pada saat-saat ini saya diingatkan bahwa waktu saya semakin berkurang dan saya dituntut untuk semakin memaknai waktu yang tersisa. Masih banyak kainginan-keinginan yang berlabel mimpi, masih banyak daftar harapan yang belum tercapai, masih banyak.....dan tidak bisa saya tulis disini.

Buat semua orang yang telah membagi bahagia bersamaku, terima kasih, Dony masih akan terus berjalan ke depan dan semoga kita akan terus berjumpa di persimpangan kehidupan yang lain.

"Te vere otro dia"

02 October 2008

Badai memang belum berlalu

Postingan saya yang waktu itu tentang badai yang datang menghunjam mungkin menunjukkan betapa luluh lantaknya saya. Sekarang setelah beberapa hari berlalu, setelah menghabiskan beratus putaran jarum jam untuk merenung, berpikir, terkadang diselingi berdoa, saya akhirnya bisa kembali menyatukan sebagian kecil potongan2 yang terhempas. Ya, badai itu tidak membunuh saya, badai itu telah membuat saya sadar akan begitu banyak hal. Banyak sekali hal yang saya lewatkan begitu saja dalam hidup ini, aneka konsep dasar yang seharusnya jadi pegangan bagi keyakinan-keyakinan saya.

Badai itu mengingatkan saya untuk lebih banyak mendekatkan diri dengan Pemilik saya yang sepenuhnya, untuk lebih banyak berusaha memahami-Nya, bukan membantah dan memaksakan egoisme saya, tentu saja berusaha tetap harus dilakukan tapi dalam bentuk perjuangan bukan perlawanan atas sebuah takdir. Badai itu juga mengingatkan saya bahwa saya pernah berjanji untuk untuk tidak pernah menyerah, untuk selalu berlari bahkan bila esok adalah hari terakhir hidup saya, untuk selalu mencari kemungkinan bahwa hari ini bukanlah hari terakhir hidup saya.

Hempasan badai itu juga yang mengembalikan ingatan saya tentang kesempatan yang hanya akan datang pada mereka yang siap. Sementara saya sendiri masih belum siap dalam menghadapi badai itu, seandainya saya siap mungkin saya bisa menghindari badai itu.

Atau mungkin juga badai itu datang untuk menunjukkan pada saya bahwa persiapan saya kurang, bahwa saya masih harus menjadi lebih baik lagi, bahwa saya harus lebih kuat lagi. Bisa juga badai ini memang harus hadir, sebab seekor harimau dibesarkan dalam terpaan hujan badai bukan dalam buaian lembut seekor anak kucing.

Mohon Maaf

Selamat hari raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Buat semua orang yang pernah ngerasa pengen kembali ke masa lalu, buat diperbaiki, buat diulangi, buat ngambil keputusan yang berbeda. Kita nggak akan bisa, tapi aku yakin Allah bakal ngasih kita kesempatan buat memperbaiki semuanya, buat memulai sesuatu yang baru lagi. Untuk itu sekali lagi pada momentum yang bahagia ini saya mohon maaf atas berbagai hal yang telah lalu, demi esok yang lebih baik.

23 September 2008

Aku pulang, akhirnya

Akhirnya berakhir juga masa-masa kegelapan tanpa internet selama 3 bulan yang terasa nyaris seperti 3 abad. Saat-saat berhadapan dengan monitor yang terkoneksi dengan internet nyaris menjadi sebuah metafor. Yup, akhirnya saya pulang dari Halmahera, begitu banyak hal yang ingin dibagi, cerita-cerita, pengalaman, pengetahuan, kerinduan,dan mungkin juga secuil oleh-oleh. Sayang ketika kabar kepulangan telah tiba justru muncul sasmita yang tidak biasa, seakan pertanda akan sebuah badai yang akan datang. Dan itulah yang terjadi, kepulangan saya disambut badai yang meluluhlantakkan jiwa raga dan menguncang keyakinan saya. Jadi sekali lagi maaf, sepertinya cerita tntang perjalanan harus menunggu ombak mereda dan badai yang pasti berlalu, yeah, pasti berlalu meski saya tak tahu apa yang masih akan tersisa setelah badai itu berlalu.

Pernah dengar kata-kata " ...yang tidak membunuhmu akan menjadikanmu lebih kuat" ? Setahun yang lalu badai itu pernah datang menghunjam, menghancurkan nyaris segalanya, hingga akhirnya saya bisa bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan dengan sisa kekuatan sambil mencoba merakit kembali puing-puing kehidupan saya. Sekarang, ketika mimpi-mimpi itu mulai tampak badai itu datang kembali, mencoba menghancurkan segala yang tersisa. Badai tahun lalu memang tidak membunuhku, tapi apakah aku telah menjadi lebih kuat sehingga badai itu datang kembali?

13 June 2008

Pamit bentar yah

Lagi-lagi ga bisa nge-blog T_T mau ke sebuah area yang kayaknya (90% pasti) susah cari internet.

Buat temen-temen sampai jumpa ntar pas libur lebaran,

buat adindaku tercinta........sabar yah...^_^

24 May 2008

Membuat Keputusan

" Sekali waktu dalam hidup kita mesti membuat keputusan
atau kita tidak akan pernah melakukan sesuatu"


Membuat keputusan seringkali menjadi sebuah hal yang tidak mudah, terutama bila keputusan tersebut melibatkan banyak pihak. Bukan saya disini bukan mau ngobrol soal keputusan pemerintah menaikkan harga BBM, karena saya yakin itu pasti cuma bikin bete. Saya lebih ingin ngobrol soal keputusan-keputusan yang kita buat dalam hidup, yang seringkali buat sebagian orang tampak sederhana sedang buat sebagian yang lain bisa menjadi sebuah persoalan serius.

Dalam usia saya yang sudah lewat beberapa minggu dari seperempat abad, saya telah membuat banyak keputusan yang (pasti) berpengaruh dalam perjalanan hidup saya. Saya masih ingat bahwa dulu saya sering diberitahu bahwa saya baru bisa membuat keputusan sendiri ketika saya telah berusia 21 tahun, saat dimana seseorang layak dianggap dewasa. Jujur saja, sampai sekarang saya tetap merasa bahwa itu konyol, sebab bahkan sebelum saya berusia 21 tahun saya telah banyak membuat keputusan tanpa harus melibatkan orang lain.

Entahlah, mungkin sekedar keras kepala mungkin juga luapan ego, yang pasti hal tersebut memang berpengaruh besar dalam perjalanan hidup saya. Pilihan - pilihan yang saya buat, keputusan yang saya ambil, telah banyak memberikan warna bagi hidup saya saat ini. Misalnya ketika saya memutuskan untuk ikut pecinta alam, memutuskan dengan siapa saya jatuh cinta, memutuskan untuk kuliah dimana, semuanya saya lakukan sebelum saya berumur 21 dan saya putuskan sendiri.

Hasilnya? Saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Tapi apakah selalu begitu? Nggak juga, kadang saya juga menyesali keputusan saya, meski pada akhirnya saya memaksa diri saya sendiri untuk mengakui bahwa daripada menyesalinya lebih baik melihat sisi positifnya.

Saya sempat curiga (well saya tidak tahu pilihan kata yang tepat untuk ini apa) bahwa hidup kita ini sebenarnya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, bahwa kita sebenarnya tinggal berjalan, kita sebenarnya tidak membuat keputusan untuk menentukan jalan hidup, tapi kita membuat keputusan untuk memahami alasan tentang perjalanan hidup kita.

Bingung yah? Maafkan deh atas kekurangmampuan saya mengekspose pikiran saya hehehe
Maksudnya begini, kita seringkali berusaha mati-matian melakukan sesuatu, segala perhitungan telah kita lakukan, nyaris tidak ada celah untuk kegagalan, mulai dari Plan B sampai ke Extremely Back Up Plan sudah kita miliki, toh bisa saja terjadi sesuatu diluar dugaan kita. Tentu saja ini tidak lantas mengarah pada sikap pasrah tanpa usaha, sebab meski mungkin tanpa usaha juga adalah sebuah bagian dari garis hidup namun tetap ada yang membedakannya.

Jadi hubungannya begini, kalau kita berusaha keras dan gagal maka kita bisa belajar dari kegagalan kita, sedangkan kalau kita tidak berusaha dan gagal maka kita nyaris tidak mendapat apapun. Nah? Sudah mulai paham?

Jadi ketika kita telah mengambil keputusan dan melakukannya maka kemudian kita akan memahami kenapa keputusan itu kita ambil. Mungkin butuh waktu lama untuk memahami akibat atau manfaat dari keputusan yang kita ambil. Bahkan meski mungkin keputusan itu terasa pahit awalnya, mungkin itu adalah proses hidup yang harus anda jalani untuk mencapai tahap lain dalam hidup anda.

Yah semoga dengan berbagi seperti ini saya jadi lebih berani dalam mengambil keputusan. Semuanya, minta doa, saya akan mengambil salah satu keputusan besar dalam hidup saya.

23 April 2008

Sore di Jawa timur

Beberapa waktu yang lalu saya pulang, ke rumah, ke Madiun. Bukan untuk berlibur memang, saya pulang karena ada kabar bahwa ibu saya akan masuk rumah sakit untuk penanganan jantung koroner. Berhubung saya bukan dokter dan posting kali ini memang bukan untuk membahas soal jantung, jadi saya akan menulis soal hal lain saja ya. BTW operasinya berjalan lancar.

Saya pulang ke madiun dengan naik kereta, dan meskipun saya naik kelas eksekutif yang (seharusnya) lumayan nyaman saya masih berharap Indonesia punya kereta kelas dunia yang punya kecepatan 200km/jam, jadi jarak jakarta madiun bisa ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Yah tapi seprtinya itu masih jauh. Akhirnya setelah kurang lebih 10-11jam menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga saya ke rumah.

3 hari di rumah tidak banyak kegiatan yang saya lakukan, sampai akhirnya hari kamis saya pergi ke Surabaya, via Sidoarjo, dan disinilah ide postingan kali ini muncul.

Saat dalam perjalanan menuju Sidoarjo, dimana nantinya saya harus berhenti di Bypass Krian, hujan turun dengan cukup meyakinkan, ya hujan, bukan gerimis tapi juga bukan hujan deras. Suasana saat itu kira-kira adalah sebuah kombinasi yang pas antara tetes-tetes air kelabu yang berkilau dan berebut membasahi bumi, gumpalan awan tipis yang berusaha keras mencegah sinar mentari menembus celah-celahnya, yah pokoknya pas lah. Hujan memang selalu membawa sentimental berlebih untuk saya, dan menyusuri jalan-jalan itu jadi sebuah reuni panjang yang menyenangkan sekaligus mengingatkan saya untuk menengok kebelakang dan melihat seberapa jauh saya melangkah.

Akhirnya satu setengah jam selewat tengah hari saya turun di bypass krian dan melanjutkan perjalanan dengan angkota. Dari bypass saya harus naik angkota menuju terminal angkota di daerah pasar krian, kemudian disitu dilanjutkan dengan angkota lain ku jurusan sidoarjo. Sambil menunggu angkota yang sedang menunggu (~_~' ughh...) saya beli segelas es cingcau, yang dalam bahasa setempat dsebut janggelan atawa cao. Suasana terminal tentu saja mirip dengan kebanyakan terminal di negara ini, yah pokoknya kalau menurut menteri kesehatn tidak higienis lah, yah tapi sejak kapan saya jadi mempedulikan hal seperti itu, jadi tetap saja saya nikmati es cao itu tanpa mempedulikan apakah airnya mateng ataau tidak, apakah gulanya adalah pemanis buatan atau gula dapat dari pabrik gula, apakah caonya dibuat dengan tangan kanan atau tangan kiri. Beberapa menit kemudian angkota dihadapan saya nyaris penuh, jadi saya bayar es tersebut (Rp1000) dan langsung masuk ke angkota. Kalau biasanya di Bandung atau Tangerang naik angkot dengan komposisi 7-5 sudah terasa penuh maka di sini masih ditambah lagi 3 orang di bagian tengah yang duduk di bangku kayu atawa biasa disebut dingklik.

Ini jelas bukan pertama kalinya saya naik angkot, tapi disini naik angkot memberikan suasana yang berbeda. Entah karena saya sudah terlanjur terbawa romantisme masa lalu atau memang suasananya pas untuk bersikap sok sentimentil, yang pasti saya menikmati sesuatu yang berbeda disini. Penumpang dan sopir terlihat lebih menyatu, kadang sopirnya asal nyeletuk kadang antar penumpangnya yang ngobrol dengan santai meski mereka baru saling ketemu (jarang banget yang seperti itu di Bandung, apalagi Jakarta)

Seakan masih belum cukup, mendung sore itu benar-benar indah, yah benar-benar mengingatkan akan waktu-waktu yang telah lewat. Perasaan jadi campur aduk ^_^ boleh kok dibilang norak ataupun sok cengeng tapi itu yang saya rasakan. Saat itu saya diingatkan kembali tentang SORE ya sore, bagian waktu yang sering lewat begitu saja tanpa disadari. Di Jakrta sore lewat begitu saja, mungkin tergilas tanpa sengaja waktu kita pulang kerja, mungkin terhambur begitu saja ketika kita merambat di jalan-jalan ibukota.

Disini, di kota kecil dibagian timur pulau ini, seperti juga di kota-kota lain di Jawa Timur (hehehe East Java Uber Alles dah) sore adalah bagian waktu dimana orang melewatkan waktu santai mereka dengan kondisi serba setengah, setengah santai setengah serius, setengah lapar setengah kenyang, setengah ngantuk setengah terjaga. Bukan, ini bukan acara tidur siang ala Mexico yang biasa disebut siesta, inilah sore hari (Jadi ingat Umar Kayam)

Setelah beberapa saat didalam angkot maka turunlah saya di depan GOR Sidoarjo, masuk ke rumah kakak saya, ke kamar mandi, nyari minum dingin cemilan dan bahan bacaan, kemudian ditelpon untuk berangkat ke rumah sakit.

Yah yang pasti operasi sudah selesai, nyokap baik-baik saja, dan saya pulang kembali ke Tangerang. ehm...segini dulu deh, mau lanjut kirim-kirim lamaran kerja

23 July 2007

Curhat Kebuntuan Saya

Ada sebuah pertanyaan yang beberapa kali diajukan ke saya, pertanyaan sederhana yang bisa menjadi serius atau bisa juga menjadi sekedar pertanyaan iseng. Pertanyaannya adalah " Apa yang akan kamu lakukan bila esok pagi adalah hari terakhir dalam hidupmu?" kurang lebih begitulah pertanyaannya.

Biasanya jawaban saya tidak jauh dari pergi keujung dunia atau semacamnya, intinya adalah pergi menuju tempat terjauh yang bisa saya capai. Beberapa orang lain punya jawaban yang berbeda, mulai dari menemui seluruh keluarganya, minta maaf ke semua orang, minta ampun ke Tuhan atau bahkan hal-hal lain yang lebih nggak jelas. Beberapa waktu yang lalu saya menemukan seseorang yang memberikan jawaban yang (mungkin) jarang terpikirkan oleh orang lain. Jawabannya adalah"...mencari dan mencoba segala kemungkinan agar besok tidak menjadi hari terakhir"

Jawaban ini mengingatkan saya pada sebuah joke yang mengisahkan seorang pasien yang diberitahu oleh dokternya bahwa usianya tinggal seminggu lagi, teman-temannya menganjurkan berbagai macam hal, ada yang menyuruhnya menghabiskan hidupnya dengan berdoa, ada yang justru menyuruh bersenang-senang, ada juga yang menganjurkan agar ia melewatkan waktu dengan keluarganya. Dia selalu menceritakan hal ini kepada siapa saja yang ditemuinya, di kantor, di cafe, dan semua orang memberikan saran yang serupa, hingga pada hari terakhir ada seseorang yang iseng berkata "...kenapa tidak coba dokter lain saja?"



Ketika kita menghadapi sebuah jalan buntu maka biasanya kita akan berhenti sebelum menabrak penghalang atau kebuntuan tersebut. Mungkin kita berhenti karena kita tahu bahwa tidak mungkin melewati penghalang tersebut, mungkin juga kita berhenti untuk memikirkan alternatif lain dalam melewati penghalang tersebut, atau mungkin juga kita berhenti karena kita sadar dengan batas dari diri kita.

Saya sering berhenti, bahkan ketika kebuntuan itu baru sebatas tanda-tanda.

Bila diumpamakan dengan sebuah jalan, maka ketika di awal jalan tersebut ada tulisan "Jalan Buntu" kemungkinan besar saya akan mengurungkan niat untuk melewati jalan tersebut. Entah kenapa secara tidak sadar saya akan menghentikan langkah saya atau bahkan menghindari ketika menemui jalan-jalan buntu ini. Mungkin saya takut atau mungkin juga saya malas menghadapi kebuntuan, menghadapi penolakan, menghadapi sesuatu yang tidak saya ketahui. Saya takut menghadapi batas imaginer saya, seakan-akan saya akan jatuh ke jurang jika melewati batas itu.

Saya sudah lupa bagaimana puasnya ketika mampu melewati batasan itu, saya lupa dengan kenikmatan ketika memburu puncak yang lebih tinggi, saya lupa debaran ketika mencoba menantang sesuatu hal yang bagi sebagian orang tidak mungkin. Ya, saya lupa semua itu, padahal dulu dengan bangga saya selalu mengutip kata-kata Napoleon "Sulit memang, tapi bukan tidak mungkin".


Sekarang saya menjadi tidak bisa membedakan antara sulit dan tidak mungkin.
---------------------------------------------------------------------------

Semoga sebelum bulan kedelapan berakhir kebuntuan ini terpecahkan



24 January 2007

Aku Bersama Sepeda Motorku

Sepeda motor dalam hidup saya punya kedudukan yang hampir sama dengan buku, maksudnya keduanya sama-sama sulit dipisahkan dari keseharian saya. Tunggangan pertama saya adalah Yamaha Alfa keluaran tahun 1989, motor ini merupakan motor yang diturunkan dari kakak-kakak saya.

-Kenapa merk motornya Yamaha?-
~Karena ini motor buatan Jepang, kalau buatan Arab namanya YaMahmud'~

Motor berkapasitas sekitar 100cc ini masih cukup handal untuk dipacu hingga 100km/jam, yah berhubung pada waktu itu tidak banyak motor dengan cc gede jadi kecepatan itu cukup keren ^_^ Yah, harap maklum karena masih pemula dan ABG jadi ya masih doyan kebut-kebutan, masih doyan belok dengan kecepatan tinggi sambil memiringkan motor. Alhamdulilah meski gaya berkendara saya yang cukup norak waktu itu, saya tidak pernah jatuh atau nabrak (ralat:pernah satu kali nabrak dan jatuh waktu belajar motor).

Waktu itu motor buat saya cuma berfungsi sebagai alat transportasi, sarana jalan-jalan dan sarana ngebut. Les, main, kadang ke sekolah ketika ada kegiatan di sore hari atausedang ada latihan drum band, nonton film, ke ding-dong, dan kegiatan lain yang juga disekitar situ-situ saja.

Ketika masuk SMA, gaya berkendara saya mulai berubah, meski masih sering kebut-kebutan tapi saya mulai senang berkendara untuk menempuh jarak yang lebih jauh. Alasannya selain karena mulai senang avonturir juga karena saya sudah punya SIM (Sempat tes juga lo, meski ga lulus dan akhirnya nembak juga) ditambah lagi setelah pertengahan kelas satu SMA saya mulai ikut eskul pecinta alam Bramastya. Sebenarnya buka masalah PA nya tapi karena di Bram's inilah saya ketemu orang-orang yang juga hobi berkendara, alasan lain adalah karena hampir sebagian besar anggota cewek di angkatan kita bertempat tinggal di luar kota (kabupaten maksudnya) maka seringkali kita seangkatan bermotor bareng buat nganterin mereka, seringkali ketika hari sudah menjelang pagi (jam 23.45) atau bahkan sepulang dari survey di pagi hari (03.00).
Berkendara bareng-bareng begini memang menyenangkan, dan kita juga selalu ingat buat nggak belagu dan merasa jadi penguasa jalanan, yahh... kecuali pas jam 3 pagi dan jalanan sepiiii... banget ^_^ namanya juga masih muda hehe. Berkendara tengah malam juga nggak lepas dari resiko, meski jalanan sepi dari kendaraan bermotor gangguan masih bisa saja muncul, mulai dari orang mabuk hingga operasi penertiban bencong. OK CUKUP! jangan tanya apa hubungannya.

SMA kelas 1 adalah masa dimana saya yang tidak punya pengalaman otomotif (kecuali cara mengganti busi) nekat melakukan perjalanan menuju ke pantai utara pulau jawa bagian timur, untuk lengkapnya bisa dibaca disini :
  • dan ini:


  • Setelah itu pun saya masih sering berkendara, meski tidak lagi sejauh itu, Jogja adalah salah satu kota favorit saya. Meski seringkali cuma melintas di kotanya, mampir di angkringan atau Gramedia, mengisi bensin, dan kemudian mampir ngopi di warung-warung antara Solo dan Ngawi, dan kemudian pulang melintasi kawasan hutan Mantingan. Satu hal yang hampir pasti adalah kami selalu melewati hutan ini setelah pukul 10 malam. Hal ini jelas sangat tidak baik untuk kesehatan, bukan karena udara malam yang dingin dan lembab tapi lebih dikarenakan kondisi hutan yang cukup menyeremkan, tapi lebaran 2 tahun yang lalu daerah ini sudah cukup banyak penerangan kok.

    Acara berkendara keluar kota ini mulai berkurang ketika di kelas 3 SMA, hingga kemudian saya menginjakkan kaki di kota Bandung ini. Masih dengan Yamaha Alfa tercinta yang saya kirimkan dengan kereta api. Saya menyusuri, melintasi dan tersesat di kota ini. Tidak jarang bahkan kebersamaan kami diisi dengan kegiatan mendorong, menggelinding, pokoknya aktifitas yang cukup mengundang keringat, maklum motor ini seringkali mati bila hujan cukup deras.

    Kebersamaan kami masih berlanjut hingga beberapa tahun kemudian motor ini mulai semakin melemah, meski masih cukup kuat dipacu dengan kecepatan alakadarnya, borosnya bensin dan mahalnya biaya perawatan membuat kami terpaksa berpisah. Cukup banyak teman yang menganjurkan agar motor ini tidak dijual tapi dimuseumkan ~_~; tapi karena ini sudah diluar wewenang saya maka akhirnya motor ini (bisa) dijual juga.

    Setelah beberapa saat melewatkan hari dengan supir angkot, eh dengan naik angkot maksudnya, akhirnya datanglah sebuah motor baru ^_^ Honda GL-MAX,125 cc. Bersama motor inilah saya beberapa kali mudik lebaran ke Madiun dengan berkendara, juga ke Jakarta beberapa waktu yang lalu. Meski cc-nya tergolong kecil untuk ukuran motor masa kini tapi ini sudah mencukupi buat saya, dan saya juga tidak terlalu tertarik untuk menggunakan motor dengan cc 200 keatas karena menurut saya mubazir.

    Omong-omong soal motor gede

    Saya lebih sering sebal daripada kagum pada para pengguna motor gede, mulai dari Harley, BMW, atau juga yang sok gede macam Tiger atau Thunder dll, dsb...
    Saya sebal bukan pada motornya, tapi pada para pengendaranya, apalagi kalau mereka sedang berkonvoi bareng-bareng, mulai dari bikin macet, menuh-menuhin jalan, hingga membahayakan pengguna jalan lain, dan tidak ditindak polisi pula!?! akhirnya mereka benar-benar bertingkah bak raja jalanan. Padahal mereka itu berlalu lalang di jalan-jalan kota yang seringkali penuh oleh kendaraan lain, tapi apa mau dikata meski bukan kita yang salah toh kita juga yang harus kalah. Kenapa sih mereka harus diistimewakan? Mereka kan bukan ambulance, pemadam kebakaran atau kereta api? Lantas kenapa mereka tidak bertindak seperti pengguna jalan yang normal, apakah karena mereka kaya (lagi-lagi status sosial yang jadi alasan) sehingga bisa mendapat perlakuan khusus? Yup, mungkin kita sama-sama tahu jawabnya.

    It's need more than machine to become a rider
    ~butuh lebih dari sekedar mesin untuk menjadi seorang pengendara~

    09 January 2007

    Bandung



























    Dalam sepi kian bertahta
    adakah angan lain? desah lain?
    lagu lain? atau satu puisi paling syahdu
    yang belum sempat kuresapi dalam gelak kotaku

    (rys revolta)

    25 October 2006

    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    Bulan puasa sudah berakhir beberapa hari yang lalu, ditandai dengan hadirnya hari Idul Fitri. Semoga hari ini bukan cuma sekedar kemenangan bagi diri tapi juga sebuah kesempatan untuk memperbaiki dan membenahi hati. Dan di saat yang baik ini saya ingin mengucapkan maaf dan juga memaafkan, dan semoga kita bisa saling memaafkan.




    Seiring dengan waktu yang bergulir

    sesekali terselip khilaf diantara kita,

    pun terkadang ada yang salah pada ucap, hati dan laku diriku

    semoga di saat yang baik ini

    diampunkan dosa diantara kita

    dikuatkan iman dan dilimpahkan berkah bagi kita keluarga, teman

    dan segenap manusia di penjuru bumi ini


    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H

    09 October 2006

    03 October 2006

    Bulan Puasa

    Akhirnya setelah berhari-hari blog ini tak tersentuh sekarang saya mulai posting lagi, entah kenapa kok rasanya akhir-akhir ini otak buntu banget. Banyak hal yang ingin dituangkan, entah menjadi tulisan, gambar, atau benda-benda lain tapi entah kenapa ujung-ujungnya selalu mentok dan saya malah lebih sering menyalahkan keterbatasan perangkat pendukung mulai dari soal rusaknya PC hingga ke masalah keterbatasan dana. Tapi sebelum saya menulis panjang lebar, ijinkan saya menghaturkan permohonan maaf (yang meskipun telat) dalam bulan ramadhan ini.


    Seiring dengan waktu yang bergulir sesekali terselip khilaf diantara kita
    Pun terkadang ada yang salah pada ucap, hati dan laku diriku,
    Semoga dibulan yang mulia ini diampunkan dosa-dosa kita,
    dikuatkan iman dan dilimpahkan berkah bagi kita, keluarga kita dan segenap umat muslim di penjuru bumi.

    Bulan puasa sudah berjalan sekitar sepertiganya, berbagai hal telah kita lakukan dalam menyambut dan mengisinya. Menu utamanya jelas puasa karena bulan ini adalah bulan puasa, saya sendiri sangat senang berpuasa ^_^ bukan cuma karena perut yang semakin mengembang tapi karena saya sendiri memang sering melewatkan seharian tanpa makan dan minum (meski lebih mudah untuk tidak makan daripada tidak minum). Tapi puasa bukan cuma sekedar menahan makan, minum, dan hal lain yang membatalakannya tapi puasa juga berarti lebih mengendalikan diri, jiwa, nafsu, hati dan pikiran kita. Nah bagian inilah yang menurut saya cukup sulit, bukan sekedar menahan tapi mengendalikan. Godaan seputar urusan perut dan bawah perut tidaklah terlalu menjadi masalah buat saya (toh masih ada malam hari hehe...) tapi menahan marah, mengumpat, dan semacamnya masih menjadi masalah buat saya. Tanpa sadar ketika ada masalah melintas kemarahan tidak lagi ditahan dalam hati, sumpah serapah meluncur begitu lancar, jalan macet, masalah cuaca, orang-orang yang menyebalkan, dan berbagai hal lain menjadi begitu mudah memancing emosi.

    Selain soal mengendalikan hati, bulan Ramadhan juga bulan dimana kita bisa mendapatkan sebuah bonus khusus dalam tiap-tiap amalan kita, bisa anda bayangkan bila bernafas atau tidur saja diberi nilai ibadah betapa melimpahnya berkah Allah di bulan ini. Jadi bila kegiatan sehari-hari anda saja menjadi sebuah ibadah lantas bagaimana dengan ibadah itu sendiri?

    Barangsiapa melakukan suatu kewajiban pada bulan ini, maka ia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kali amalan wajib di bulan lainnya." (HR Ibnu Khuzaimah).

    Begitu melimpahnya kebaikan yang dijanjikan Allah SWT di bulan ini ternyata masih belum benar-benar 'menyentuh' saya. Sepuluh hari pertama ini ibadah saya masih penuh lubang, sholat tarawih baru beberapa kali saya lakukan, belum lagi sholat 5 waktu yang masih sering terlaksana 80% (maksudnya hanya 4 kali) entah karena ketiduran atau bahkan karena malas. Yah semoga di 2/3 bulan yang akhir saya bisa melakukannya dengan lebih baik.

    Ramadhan yang Ramai

    Kita, maksud saya bangsa Indonesia, memang suka dan gemar terhadap keramaian, mulai dari menyaksikan hingga melakukan keramaian, mulai dari keramaian semacam menonton (bukan menolong) kecelakaan di jalan hingga ke perayaan-perayaan besar macam hari kemerdekaan, acara keagamaan, dan perayaan-perayaan lain.

    Yang saya maksud dengan Ramadhan yang ramai adalah ramai dalam artian yang sebenarnya, mulai dari berjubelnya orang-orang di mall, pasar, atau lubernya mereka di jalanan hingga ke ramainya petasan dan tabuhan bedug di malam hari. Benar-benar ramai (kalau tidak boleh dibilang gaduh atau berisik).

    Tempat kost saya berada di sebelah sebuah masjid, dan ini merupakan kedua kalinya tempat kos saya berada tepat bersebelahan dengan sebuah masjid. Seharusnya tidak ada masalah dengan hal ini tapi karena saya bilang seharusnya maka keadaan yang sebenarnya tentulah ada masalah, entah kenapa saya merasa kyurang sreg dengan masjid ini. Selalu ada saja hal-hal kecil yang membuat saya lebih memilih untuk melakukan sholat Jumat di masjid lain atau di bulan ini juga untuk lebih memilih melakukan shalat tarawih di kamar kost saya sendiri. Alasannya aneka rupa, ketidak cocokan dengan ceramah yang diberikan biasanya menjadi alasan saya untuk memi9lih masjid lain, kadang ceramahnya terlalu 'keras' berapi-api, atau terlalu ruwet, kadang juga karena pintu masjid yang sering tertutup, dan yang terakhir adalah riuhnya anak-anak kecil yang menabuh bedug setelah sholat tarawih (buat apa? kalau waktu adzan sih ga masalah).

    Gaduh dan berisik menurut saya padahal buat saya setelah selesai sholat adalah waktu yang pas untuk berdoa, dan kalaupun tidak, sekedar duduk dan berkontemplasi (halaah...~_~;) atau merenung dan bukannya melamun, tentu tidak bisa dilakukan dalam kondisi sedemikian, Belum lagi suara petasan atau mercon.

    Kemudian saya ingat bahwa sayapun waktu SD dan SMP pun juga meramaikan bulan puasa dengan letusan ataupun dentuman mercon. Begitupun teman-teman saya, seakan di bulan puasa ada sebuah pernyataan tak tertulis tentang kewajiban hadirnya petasan. begitupun pada malam takbiran maka kami akan ikut berkeliling kota, baik dengan mengendarai truk, pick-up, ataupun dengan iring-iringan sepeda motor. Saya sendiri tidak terlalu yakin dengan alasan saya melakukan itu, mungkin untuk ikut meramaikan, merayakan atau mungkin juga sekedar ikut-ikutan teman meluapakan perasaan. Dan saya juga tidak yakin perasaan apa yang saya luapakan, bahagia? syukur? kemenangan? tapi kemungkinan besar hal itu saya lakukan karena itu adalah sebuah kesempatan, untuk beramai-ramai bersama teman, keliling kota, bergembira (atau lebih cocok disebut hura-hura) bersama. Dan saya tetap tidak tahu untuk apa.....

    Seperti yang saya tulis diatas, kita memang senang dengan keramaian, tahun baru, malam takbiran, 17 agustusan, dan perayaan lain kita rayakan dengan ramai. Bunyi-bunyian yang memekakkan telinga, raungan iring-iringan kendaraan bermotor, teriakan-teriakan, bunyi ledakan kecil dan besar, dan entah apa lagi. Meramaikan diterjemahkan menjadi kerasnya bunyi, banyaknya orang, dan meluapnya aneka perasaan. Saya sendiri tidak tahu pakah saya yang terlalu skeptis, atau karena saya yang memang bukan penggemar keramaian sehingga saya merasa bahwa perayaan juga bisa dilakyukan dalam suasana yang penuh kedamaian, tenang, hening, ayem. Dan sekali lagi sebuah petasan meledak di depan sana......

    06 September 2006

    Otak-Ku

    You Are 35% Left Brained, 65% Right Brained

    The left side of your brain controls verbal ability, attention to detail, and reasoning.
    Left brained people are good at communication and persuading others.
    If you're left brained, you are likely good at math and logic.
    Your left brain prefers dogs, reading, and quiet.

    The right side of your brain is all about creativity and flexibility.
    Daring and intuitive, right brained people see the world in their unique way.
    If you're right brained, you likely have a talent for creative writing and art.
    Your right brain prefers day dreaming, philosophy, and sports.