Begitu rindu menampilkan deretan kata
Yang dengan bangga aku sebut puisi
Begitu ingin menumpahkan semua
Barisan kalimat yang sesakkan kepala
Gara-gara hujan yang turun nyaris tiap sore pada beberapa hari terakhir, saya jadi kelewat sentimentil, moody, dan (makin) nggak jelas
(teringat kata seorang teman "hujan di sore hari adalah saat yang tepat untuk seorang pria menjadi sentimentil")
Akhirnya kupindahkan juga isi notes N-Gage ku ke postingan kali ini
Ketika semua kata yang kupunya
Coba kujejalkan dalam kotak pesanmu
Dan masih belum bisa menjangkau hatimu
Hingga akhirnya segala rasa jiwa yang ada
Kugubah menjadi sebait mantra
Karna aku masih takut untuk berdoa
Sore/311
Seandainya bisa
Aku ingin membunuhmu
Sebagai pereda luapan amarah
Sebagai penuntas seteru kita
Juga sebagai penghormatan
Atas Cintamu pada Wanitaku
Seandainya bisa
Aku ingin melenyapkanmu
Agar aku berhenti membencimu
Agar dia berhenti mencintaimu
Dan agar aku berhenti curiga padanya
Ya...
Seandainya membunuhmu tak akan melukai hatinya
Tentu sekarang kalian tak akan lagi tertawa
...berdua
Malam/sebelum 11
Pahit...
Mengapa dia selalu hadir di mimpiku
Jika dia bukan untukku
Duh yang Maha Kuasa
Masih bolehkah aku berdoa?
Luluhkan hatinya
Kembalikanlah dia padaku
Menjelang pagi/128
Aku laki-laki biasa
Pernah patah hati
Dan kemudian jatuh cinta pada bidadari
Karena langit terlalu tinggi untukku
Kubujuk dia turun ke bumi
Mengikat dan memaksanya tetap bersamaku
Hingga hari itu tiba
Hari dimana ia temukan sayapnya
Dan terbang kembali ke angkasa
Mungkin ini memang kehendak Sang Pembuat Cerita
Bahwa bidadari bukan tercipta untuk laki-laki biasa
Malam/entah kapan
Sebagian kecil dari diri, refleksi ego, dan beberapa keping isi otak. Semoga blog ini berarti bukan hanya untukku
31 January 2009
18 December 2008
Bunuh Diri
Kata ini cukup sering melintas di benak saya beberapa hari terakhir, bukan karena pengaruh siaran berita mengenai beberapa kejadian bunuh diri, bukan pula karena berniat melakukannya, hanya saja kata ini terus-terusan melintas seakan menantang saya untuk menangkap dan menjejalkannya dalam postingan saya.
Saya tidak pernah berniat bunuh diri, buat saya kematian saya nanti haruslah punya arti lebih, harus keren, layak buat dikenang, dan yang pasti juga punya makna (setidaknya untuk memberi arti lebih dari hidup yang sudah saya jalani) dan menurut saya bunuh diri jelas tidak memenuhi syarat kematian seperti itu.
Kebanyakan alasan orang memutuskan untuk mengakhiri hidup adalah ketika mereka merasa depresi, merasa tidak mampu lagi bertahan untuk melanjutkan hidup. Sebabnya ada bermacam-macam, bisa karena ekonomi, karena stress pekerjaan, karena cinta dan banyak lagi. (Saya tidak mengikutsertakan bom bunuh diri) Buat sebagian dari kita alasan tersebut mungkin konyol, aneh bahkan menggelikan, tapi tidak bagi mereka yang mengalaminya. Pada kondisi depresi dan stress berat seperti itu kita punya kecenderungan kehilangan kemampuan berpikir sehat, terutama bila hal tersebut terjadi dalam kurun waktu berkepanjangan atau terjadi secara sangat mendadak. Mendadak miskin, mendadak patah hati, tapi jelas bukan mendadak dangdut.
Kadangkala kematian memang sebuah pilihan, pada perang, pada terorisme, pada kehidupan sehari-hari dan masih ada lagi. Kadang kematian itu bisa berarti perlawanan atau pengorbanan untuk mencapai tujuan lain (pada perang, terorisme, pemberontakan, demonstrasi) tapi bisa juga kematian itu adalah pilihan untuk menyerah, untuk melarikan diri dari kondisi tertentu.
Menyerah Pada Hidup
Anda mungkin belum pernah mencoba bunuh diri, tapi saya rasa anda pasti pernah menyerah pada suatu hal. Misalnya saja ketika bangun pagi, terkadang rasa malas itu begitu memberatkan kedua kelopak mata kita, dan kemudian anda akan menyerah pada rasa malas dan merebahkan punggung anda.
Bagaimana rasanya? Nikmat? Menyenangkan?
Atau kejadiannya bisa saja ketika anda sedang mengerjakan sebuah tugas yang sangat menyita waktu dan kosentrasi anda, menggerakkan tubuh atau bahkan sekedar membuka mata adalah sebuah perjuangan berat bagi anda. Apakah anda akan menyerah? Membiarkan tubuh anda tergeletak, mata anda tertutup dan kemudian tertidur.
Nah sekarang ketika hidup terasa begitu melelahkan, anda merasa buntu, segala hal yang anda harapkan berjalan tidak sesuai dengan yang anda harapkan, apakah sekali waktu anda tidak pernah merasa ingin menyerah?
Saya pernah, saya pernah sangat ingin menyerah, tapi saat itu saya tidak ingin mengakhiri hidup saya, saya cuma merasa bahwa kalaupun hidup saya berakhir saya tidak peduli. Jadi saya pikir saya bisa memahami kenapa seseorang ingin mengakhiri hidupnya.
Walau begitu saya tetap merasa bahwa bunuh diri bukan sebuah solusi, bunuh diri memang sebuah pilihan tapi (buat saya) itu sama saja dengan melarikan diri. Saya tidak tahu apakah ada pembaca blog ini yang berniat bunuh diri (semoga tidak) tapi sekedar untuk anda ingat, bahwa seberat apapun hidup anda, sesulit apapun jalan yang anda tempuh, jangan menyerah, bertahanlah, dan mungkin anda akan mengetahui sesuatu yang selama ini belum terlihat.
Saya tidak pernah berniat bunuh diri, buat saya kematian saya nanti haruslah punya arti lebih, harus keren, layak buat dikenang, dan yang pasti juga punya makna (setidaknya untuk memberi arti lebih dari hidup yang sudah saya jalani) dan menurut saya bunuh diri jelas tidak memenuhi syarat kematian seperti itu.
Kebanyakan alasan orang memutuskan untuk mengakhiri hidup adalah ketika mereka merasa depresi, merasa tidak mampu lagi bertahan untuk melanjutkan hidup. Sebabnya ada bermacam-macam, bisa karena ekonomi, karena stress pekerjaan, karena cinta dan banyak lagi. (Saya tidak mengikutsertakan bom bunuh diri) Buat sebagian dari kita alasan tersebut mungkin konyol, aneh bahkan menggelikan, tapi tidak bagi mereka yang mengalaminya. Pada kondisi depresi dan stress berat seperti itu kita punya kecenderungan kehilangan kemampuan berpikir sehat, terutama bila hal tersebut terjadi dalam kurun waktu berkepanjangan atau terjadi secara sangat mendadak. Mendadak miskin, mendadak patah hati, tapi jelas bukan mendadak dangdut.
Kadangkala kematian memang sebuah pilihan, pada perang, pada terorisme, pada kehidupan sehari-hari dan masih ada lagi. Kadang kematian itu bisa berarti perlawanan atau pengorbanan untuk mencapai tujuan lain (pada perang, terorisme, pemberontakan, demonstrasi) tapi bisa juga kematian itu adalah pilihan untuk menyerah, untuk melarikan diri dari kondisi tertentu.
Menyerah Pada Hidup
Anda mungkin belum pernah mencoba bunuh diri, tapi saya rasa anda pasti pernah menyerah pada suatu hal. Misalnya saja ketika bangun pagi, terkadang rasa malas itu begitu memberatkan kedua kelopak mata kita, dan kemudian anda akan menyerah pada rasa malas dan merebahkan punggung anda.
Bagaimana rasanya? Nikmat? Menyenangkan?
Atau kejadiannya bisa saja ketika anda sedang mengerjakan sebuah tugas yang sangat menyita waktu dan kosentrasi anda, menggerakkan tubuh atau bahkan sekedar membuka mata adalah sebuah perjuangan berat bagi anda. Apakah anda akan menyerah? Membiarkan tubuh anda tergeletak, mata anda tertutup dan kemudian tertidur.
Nah sekarang ketika hidup terasa begitu melelahkan, anda merasa buntu, segala hal yang anda harapkan berjalan tidak sesuai dengan yang anda harapkan, apakah sekali waktu anda tidak pernah merasa ingin menyerah?
Saya pernah, saya pernah sangat ingin menyerah, tapi saat itu saya tidak ingin mengakhiri hidup saya, saya cuma merasa bahwa kalaupun hidup saya berakhir saya tidak peduli. Jadi saya pikir saya bisa memahami kenapa seseorang ingin mengakhiri hidupnya.
Walau begitu saya tetap merasa bahwa bunuh diri bukan sebuah solusi, bunuh diri memang sebuah pilihan tapi (buat saya) itu sama saja dengan melarikan diri. Saya tidak tahu apakah ada pembaca blog ini yang berniat bunuh diri (semoga tidak) tapi sekedar untuk anda ingat, bahwa seberat apapun hidup anda, sesulit apapun jalan yang anda tempuh, jangan menyerah, bertahanlah, dan mungkin anda akan mengetahui sesuatu yang selama ini belum terlihat.
28 November 2008
Pijat-memijat
Beberapa waktu yang lalu saya diajak berjalan-jalan ke sebuah mall di kawasan Jakarta Barat. Sepulang dari seharian berputar-putar menemani belanja saya kembali terajak ke sebuah tempat pijat refleksi di wilayah Jakarta Pusat. Sudah terbayangkan oleh saya yang namanya pijat refleksi pasti akan menyakitkan meski yang dipijat hanya telapak kaki, hal ini biasanya terjadi bila ada gangguan pada fungsi organ dalam kita.
Setelah memasuki ruangan maka akan langsung terlihat beberapa kursi panjang yang berjajar, tidak ada sekat dan juga tidak dipisahkan dalam ruangan-ruangan tertentu ^_^ Hayoo...yang biasa pijat dalam ruangan tertutup nggak usah nyengir yah. Dan setelah pijat ini dimulai eh lho kok tidak terasa sakit sama sekali ya? Entah apakah memang karena saya tidak benar-benar "menyerahkan diri" pada mas pemijatnya ataukah memang ini bukan pijat refleksi tapi sekedar pijat relaksasi, yang kalau mengutip sebution Umar Kayam "pijet mat-matan" yang lebih mengutamakan soal rasa.
Sambil dipijat ingatan saya melayang pada suatu hari di Halmahera disana saya juga sempat dipijat, awal ceritanya begini...
Sudah beberapa hari saya demam, biasanya suhunya cukup tinggi pada pagi hari, sedikit turun pada siang hari dan normal pada malamnya. Biasanya deman ini akan lewat begitu saja setelah saya meminum obat, tapi hari ini tubuh saya benar-benar lemas, pusing, tenggorokan sakit dan demamnya sepertinya lebih tinggi. Saya curiga luka di kaki saya mulai infeksi lagi (soal penyebab luka ini akan saya ceritakan di postingan yang lain), seharian itu saya cuma bisa tergeletak dengan ikhlas.
Setelah coba dihantam dengan obat-obatan generik standar dan masih belum ada perkembangan berarti juga malam itu salah seorang crew drilling menawarkan bantuan untuk memijat tubuh saya. Tidak menunggu lama, saya pun menggeletak di atas velbed dan mulai dipijat, diawali dengan menganalisa kaki mana yang akan dipijat terlebih dulu dilanjutkan dengan dibalurkannya minyak ular (ya ULAR) yang telah dicampur dengan bawang merah di sepanjang betis saya.
Dan mulailah crew drilling yang juga seorang pemijat handal dengan ilmu asal tanah Pasundan yang diturunkan dari mertuanya memijat saya. Saya harus mengakui bahwa ini adalah pijat yang paling sakit sepanjang sejarah hidup saya. Mulai dipijit, dicubit, diurut, ditekuk hingga dilipat ughh... pokoknya benar-benar menyakitkan. Prosesi pijit memijit ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam diakhiri dengan kerokan dan saya lanjutkan dengan tidur hingga pagi menjelang.
Paginya tubuh saya sakit semua, rasanya seperti habis beraktifitas gila-gilaan, seluruh urat terasa berantakan, untungnya demam mulai turun. Dua hari kemudian saya sudah sehat kembali dan bisa berlari-lari kembali ^_^
Eh apa mungkin karena si mas di tempat pijat itu tidak pernah jadi crew drilling makanya pijatannya kurang ber-efek pada tubuh saya......entahlah
Setelah memasuki ruangan maka akan langsung terlihat beberapa kursi panjang yang berjajar, tidak ada sekat dan juga tidak dipisahkan dalam ruangan-ruangan tertentu ^_^ Hayoo...yang biasa pijat dalam ruangan tertutup nggak usah nyengir yah. Dan setelah pijat ini dimulai eh lho kok tidak terasa sakit sama sekali ya? Entah apakah memang karena saya tidak benar-benar "menyerahkan diri" pada mas pemijatnya ataukah memang ini bukan pijat refleksi tapi sekedar pijat relaksasi, yang kalau mengutip sebution Umar Kayam "pijet mat-matan" yang lebih mengutamakan soal rasa.
Sambil dipijat ingatan saya melayang pada suatu hari di Halmahera disana saya juga sempat dipijat, awal ceritanya begini...
Sudah beberapa hari saya demam, biasanya suhunya cukup tinggi pada pagi hari, sedikit turun pada siang hari dan normal pada malamnya. Biasanya deman ini akan lewat begitu saja setelah saya meminum obat, tapi hari ini tubuh saya benar-benar lemas, pusing, tenggorokan sakit dan demamnya sepertinya lebih tinggi. Saya curiga luka di kaki saya mulai infeksi lagi (soal penyebab luka ini akan saya ceritakan di postingan yang lain), seharian itu saya cuma bisa tergeletak dengan ikhlas.
Setelah coba dihantam dengan obat-obatan generik standar dan masih belum ada perkembangan berarti juga malam itu salah seorang crew drilling menawarkan bantuan untuk memijat tubuh saya. Tidak menunggu lama, saya pun menggeletak di atas velbed dan mulai dipijat, diawali dengan menganalisa kaki mana yang akan dipijat terlebih dulu dilanjutkan dengan dibalurkannya minyak ular (ya ULAR) yang telah dicampur dengan bawang merah di sepanjang betis saya.
Dan mulailah crew drilling yang juga seorang pemijat handal dengan ilmu asal tanah Pasundan yang diturunkan dari mertuanya memijat saya. Saya harus mengakui bahwa ini adalah pijat yang paling sakit sepanjang sejarah hidup saya. Mulai dipijit, dicubit, diurut, ditekuk hingga dilipat ughh... pokoknya benar-benar menyakitkan. Prosesi pijit memijit ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam diakhiri dengan kerokan dan saya lanjutkan dengan tidur hingga pagi menjelang.
Paginya tubuh saya sakit semua, rasanya seperti habis beraktifitas gila-gilaan, seluruh urat terasa berantakan, untungnya demam mulai turun. Dua hari kemudian saya sudah sehat kembali dan bisa berlari-lari kembali ^_^
Eh apa mungkin karena si mas di tempat pijat itu tidak pernah jadi crew drilling makanya pijatannya kurang ber-efek pada tubuh saya......entahlah
Subscribe to:
Posts (Atom)