27 April 2009

Ulang Tahun

Sudah setahun lewat seperempat abad saya melewatkan masa hidup di muka bumi ini. Hari ini saya diingatkan tentang usia yang semakin bertambah dan umur yang semakin berkurang. Meski saya tidak terlalu menspesialkan hari ini, dan meski ada banyak hal yang membuat saya melewatkan hari ini dengan berlarian kesana kemari (Kejar tayang Proyek) ya, saya bahagia. Saya bahagia, karena ternyata ada begitu banyak orang yang memberi ucapan selamat kepada saya, mengucapkan doa dan harapan mereka bagi saya, dan saya bahagia ketika mereka tetap mengingat saya bahkan saat saya sering melupakan mereka.

Dan bukan sekedar bahagia, pada saat-saat ini saya diingatkan bahwa waktu saya semakin berkurang dan saya dituntut untuk semakin memaknai waktu yang tersisa. Masih banyak kainginan-keinginan yang berlabel mimpi, masih banyak daftar harapan yang belum tercapai, masih banyak.....dan tidak bisa saya tulis disini.

Buat semua orang yang telah membagi bahagia bersamaku, terima kasih, Dony masih akan terus berjalan ke depan dan semoga kita akan terus berjumpa di persimpangan kehidupan yang lain.

"Te vere otro dia"

31 January 2009

Sentimental Grafitti

Begitu rindu menampilkan deretan kata
Yang dengan bangga aku sebut puisi
Begitu ingin menumpahkan semua
Barisan kalimat yang sesakkan kepala



Gara-gara hujan yang turun nyaris tiap sore pada beberapa hari terakhir, saya jadi kelewat sentimentil, moody, dan (makin) nggak jelas
(teringat kata seorang teman "hujan di sore hari adalah saat yang tepat untuk seorang pria menjadi sentimentil")
Akhirnya kupindahkan juga isi notes N-Gage ku ke postingan kali ini




Ketika semua kata yang kupunya
Coba kujejalkan dalam kotak pesanmu
Dan masih belum bisa menjangkau hatimu
Hingga akhirnya segala rasa jiwa yang ada
Kugubah menjadi sebait mantra
Karna aku masih takut untuk berdoa

Sore/311






Seandainya bisa
Aku ingin membunuhmu
Sebagai pereda luapan amarah
Sebagai penuntas seteru kita
Juga sebagai penghormatan
Atas Cintamu pada Wanitaku

Seandainya bisa
Aku ingin melenyapkanmu
Agar aku berhenti membencimu
Agar dia berhenti mencintaimu
Dan agar aku berhenti curiga padanya

Ya...
Seandainya membunuhmu tak akan melukai hatinya
Tentu sekarang kalian tak akan lagi tertawa
...berdua


Malam/sebelum 11



Pahit...
Mengapa dia selalu hadir di mimpiku
Jika dia bukan untukku

Duh yang Maha Kuasa
Masih bolehkah aku berdoa?
Luluhkan hatinya
Kembalikanlah dia padaku


Menjelang pagi/128




Aku laki-laki biasa
Pernah patah hati
Dan kemudian jatuh cinta pada bidadari
Karena langit terlalu tinggi untukku
Kubujuk dia turun ke bumi
Mengikat dan memaksanya tetap bersamaku

Hingga hari itu tiba
Hari dimana ia temukan sayapnya
Dan terbang kembali ke angkasa

Mungkin ini memang kehendak Sang Pembuat Cerita
Bahwa bidadari bukan tercipta untuk laki-laki biasa


Malam/entah kapan

18 December 2008

Bunuh Diri

Kata ini cukup sering melintas di benak saya beberapa hari terakhir, bukan karena pengaruh siaran berita mengenai beberapa kejadian bunuh diri, bukan pula karena berniat melakukannya, hanya saja kata ini terus-terusan melintas seakan menantang saya untuk menangkap dan menjejalkannya dalam postingan saya.

Saya tidak pernah berniat bunuh diri, buat saya kematian saya nanti haruslah punya arti lebih, harus keren, layak buat dikenang, dan yang pasti juga punya makna (setidaknya untuk memberi arti lebih dari hidup yang sudah saya jalani) dan menurut saya bunuh diri jelas tidak memenuhi syarat kematian seperti itu.

Kebanyakan alasan orang memutuskan untuk mengakhiri hidup adalah ketika mereka merasa depresi, merasa tidak mampu lagi bertahan untuk melanjutkan hidup. Sebabnya ada bermacam-macam, bisa karena ekonomi, karena stress pekerjaan, karena cinta dan banyak lagi. (Saya tidak mengikutsertakan bom bunuh diri) Buat sebagian dari kita alasan tersebut mungkin konyol, aneh bahkan menggelikan, tapi tidak bagi mereka yang mengalaminya. Pada kondisi depresi dan stress berat seperti itu kita punya kecenderungan kehilangan kemampuan berpikir sehat, terutama bila hal tersebut terjadi dalam kurun waktu berkepanjangan atau terjadi secara sangat mendadak. Mendadak miskin, mendadak patah hati, tapi jelas bukan mendadak dangdut.

Kadangkala kematian memang sebuah pilihan, pada perang, pada terorisme, pada kehidupan sehari-hari dan masih ada lagi. Kadang kematian itu bisa berarti perlawanan atau pengorbanan untuk mencapai tujuan lain (pada perang, terorisme, pemberontakan, demonstrasi) tapi bisa juga kematian itu adalah pilihan untuk menyerah, untuk melarikan diri dari kondisi tertentu.

Menyerah Pada Hidup

Anda mungkin belum pernah mencoba bunuh diri, tapi saya rasa anda pasti pernah menyerah pada suatu hal. Misalnya saja ketika bangun pagi, terkadang rasa malas itu begitu memberatkan kedua kelopak mata kita, dan kemudian anda akan menyerah pada rasa malas dan merebahkan punggung anda.

Bagaimana rasanya? Nikmat? Menyenangkan?

Atau kejadiannya bisa saja ketika anda sedang mengerjakan sebuah tugas yang sangat menyita waktu dan kosentrasi anda, menggerakkan tubuh atau bahkan sekedar membuka mata adalah sebuah perjuangan berat bagi anda. Apakah anda akan menyerah? Membiarkan tubuh anda tergeletak, mata anda tertutup dan kemudian tertidur.

Nah sekarang ketika hidup terasa begitu melelahkan, anda merasa buntu, segala hal yang anda harapkan berjalan tidak sesuai dengan yang anda harapkan, apakah sekali waktu anda tidak pernah merasa ingin menyerah?

Saya pernah, saya pernah sangat ingin menyerah, tapi saat itu saya tidak ingin mengakhiri hidup saya, saya cuma merasa bahwa kalaupun hidup saya berakhir saya tidak peduli. Jadi saya pikir saya bisa memahami kenapa seseorang ingin mengakhiri hidupnya.

Walau begitu saya tetap merasa bahwa bunuh diri bukan sebuah solusi, bunuh diri memang sebuah pilihan tapi (buat saya) itu sama saja dengan melarikan diri. Saya tidak tahu apakah ada pembaca blog ini yang berniat bunuh diri (semoga tidak) tapi sekedar untuk anda ingat, bahwa seberat apapun hidup anda, sesulit apapun jalan yang anda tempuh, jangan menyerah, bertahanlah, dan mungkin anda akan mengetahui sesuatu yang selama ini belum terlihat.