27 August 2026

Hierarki Entitas Gaib

Dalam khazanah dunia gaib setiap entitas memiliki posisi dan kuasa yang berbeda.

Tingkatan paling rendah disebut Hantu.

Hantu adalah entitas pengganggu. Kekuatannya terbatas pada kemampuan menampakkan diri dalam wujud seram dan ganjil atau mengeluarkan suara-suara aneh dan meremangkan bulu kuduk. Ia muncul dari kegelapan, dari sudut mata atau dari remang bayangan. Tempat favoritnya adalah adalah daerah antara redup dan remang. Hantu bisa membuat seseorang ketakutan, berlari terbirit-birit atau terkejut setengah mati, tetapi dia tidak bisa menyakiti secara fisik

 

Di atas Hantu terdapat Setan.

Setan memiliki kemampuan yang lebih tinggi, wilayahnya bukan lagi panca indera manusia, melainkan menyusup jauh dalam pikiran. Dia mempengaruhi, memprovokasi menyebarkan agitasi murahan namun mengguncang keyakinan.

Setan tidak perlu menggerakkan manusia, dia membuat manusia bergerak dengan sendirinya.

Ia tidak dapat menyakiti tubuh manusia  secara langsung namun melalui pengaruhnya pada pikiran manusia dia bisa memicu kerusakan fisik.

 

Setelah Setan, terdapat tingkatan yang jauh lebih berbahaya, Siluman.

Siluman memiliki kuasa gelap yang cukup kuat untuk menembusi dunia manusia. Karena itulah kita sering mendengar kisah tentang penunggu pohon tua atau mata air, penguasa gua atau sebuah wilayah di pegunungan gunung, hutan, dan tempat-tempat wingit lainnya.

Kuasa siluman dalam menembusi jagat kasar memungkinkan mereka untuk melakukan hubungan transaksional dengan manusia.

Manusia memohon bantuan sambil memberikan upeti atau sesaji, dan siluman akan memberi bantuan bila nilai sesajinya cocok, pada beberapa kasus dibutuhkan bayaran tambahan berupa tumbal.

 

Dari hubungan transaksional inilah kita kemudian mengenal tentang pesugihan, penglaris, perlindungan atau tolak bala hingga bantuan untuk mencelakakan orang lain. Jenis siluman tertentu juga dapat menimbulkan kerusakan fisik misalnya pada santet dan tenung.

Meski memiliki kemampuan untuk menimbulkan kerusakan fisik dan menembusi jagat kasar, siluman biasanya memiliki batasan area atau keterikatan mereka pada objek yang menjadi punjer atau pusat area gaib mereka.

 

Entitas yang berada di puncak hierarki adalah Iblis.

Iblis bukan sekadar lebih kuat tapi juga memiliki kemampuan untuk mewujud sebagai manusia. Menembusi jagat kasar dengan lebih leluasa dibandingkan siluman, mempengaruhi manusia dengan lebih lihai dari setan, dan menciptakan ketakutan yang lebih seram dari hantu.

Siluman dapat membuat orang jatuh sakit melalui tenung, iblis dapat membuat ratusan ribu orang keracunan massal atau jutaan orang gagal mendapatkan pengobatan atas penyakitnya.

Siluman penunggu pohon tua bisa membuat orang-orang yang mau menebangnya jadi kesurupan tapi iblis bisa membabat ribuan hektare hutan hujan tropis dan menjadikannya monokultur sawit.

Siluman penunggu sendang atau mata air bisa membuat satu desa kekeringan bila telat mempersembahkan sesajen. Namun iblis dapat membunuh sungai dan pantai tempat puluhan desa mencari hidup.

Sesajen yang diminta siluman biasanya hanya berupa makanan, bunga, atau hewan ternak, tapi Iblis mengambil dengan lebih rakus, mereka mengeruk bumi, meratakan gunung dan melahap semua isinya sambil menyisakan kerusakan setelahnya.

 

Serupa hewan amfibi, Iblis hidup di dua alam. Di jagat gaib dia menggunakan perantara tumbal, sesajen, wangi dupa dan kemenyan, juga aneka ritual lainnya.

Namun ketika mewujud manusia, ritualnya sedikit berubah. Tumbalnya adalah rakyat tak bersalah, sesajen yang diberikan adalah proyek pengadaan serta konsesi saham, wangi dupa dan kemenyan berganti wangi rupiah dan dollar, semuanya diikat dalam perjanjian dan kontrak politik.

 

Karena itulah Iblis jadi sangat berkuasa, ia didukung sembilan puluh enam juta manusia dan aneka entitas gaib yang tak kalah banyak jumlahnya.

Hantu memujanya karena dari iblislah mereka mencicipi rasa kuasa.

Setan mengikutinya karena bisikannya selalu dituruti oleh iblis.

Siluman menghormatinya karena atas jasa Iblis kekuasaan mereka melampaui batasnya.

Manusia dengan sukarela memuja, mengikuti dan menghormatinya karena iblis mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Itulah sebabnya jangan marah kepada hantu yang cuma bisa menakuti orang kencing sembarangan atau siluman yang bisa mengirim santet pada pedagang kecil tapi tidak mampu memasukkan paku ke dalam perut pejabat culas.

Ketika gunung dikeruk, tanah digali hingga perut bumi terbuka, dan kekayaan alam diangkut keluar, jangan menunggu setan murka. Ketika ribuan hektare hutan dibakar, jangan berharap dedemit keluar dari balik pepohonan untuk menghukum pelakunya.

Mereka tahu siapa yang melakukannya, entitas yang jauh lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa. Jadi jangan heran jika para dedemit memilih diam, mereka hanya sedang menghormati olig eh... hierarki.

Tapi ini bukan tentang makhluk gaib.

 

28 August 2025

Aku Bukan Cinderella

    Ada masa ketika hidup jadi terlalu bising, namun kesepian justru makin lekat. Hari-hari berjalan lambat, seolah luka yang enggan mengering. Aku mulai menjauhi kantin kampus atau sekre himpunan, menghindari obrolan ringan, dan lebih memilih sudut-sudut sunyi yang tak menuntutku untuk berpura-pura baik-baik saja.

    Rasanya seperti baru kemarin, sendirian dan patah hati, aku terhanyut dalam keheningan toko buku, tenggelam dalam kisah-kisah yang bukan milikku. Nyaman membiarkan waktu berlalu tanpa terburu-buru. Hingga kamu datang memporak-porandakan semuanya.

    Mencoba meraih buku dari bagian atas rak, namun malah menyenggol sebaris novel hingga berhamburan menimpaku yang sedang jongkok dan sendu membaca Norwegian Wood. Aku mendongak kaget (dan sedikit kesakitan), menatapmu dengan alis terangkat, siap marah, tapi yang kutemui adalah wajah panik dan senyum nyengir yang terlalu jujur. Kamu membungkuk cepat, memunguti buku-buku itu sambil berulang kali meminta maaf dengan suara pelan tapi gugup. "Aku cuma... eh, nggak, maaf" katamu sambil menyodorkan satu buku ke arahku, entah untuk apa, dan kemudian seperti tersadar, sibuk menyusun kembali buku-buku di rak atas.

    Entah kenapa, marahku tiba-tiba menguap, bukan karena senyum nyengirmu, namun menyaksikan wajahmu yang merah padam dan tanganmu yang terbata-bata membuatku jadi kasihan juga.

    "Waktu itu aku pengen menyapa, tapi tidak berani berkata apa-apa, kemudian tanpa sadar tanganku sudah meraih buku ini" katamu beberapa minggu kemudian. ‘Tuhan Tahu tapi Dia Menunggu’ buku kumpulan cerpen Tolstoy favoritmu, yang akhirnya kamu berikan padaku dengan alasan “Aku pertama baca cerita ini saat kelas 5 SD, sayangnya judulnya diubah jadi ‘Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu’, ada nuansa yang berubah menurutku”.

    Aku tertawa saat itu. Entah sejak kapan, aku jadi lebih sering tertawa saat bersamamu. Lalu semuanya mengalir begitu saja, atau kamu menyebutnya, membiarkan diri kita dibawa suasana. Kamu tidak pernah memintaku jadi kekasihmu, tapi kita jelas lebih dari sekedar kawan membaca. Seolah berjalan berdampingan, seiring namun tak pernah bergandengan.

    Bagi mamah, kamu adalah bocah lucu penggemar mi goreng buatannya dan juga, seringkali, teman belanja ke pasar. Bagi ayah, kamu adalah teman ngobrol soal sejarah, juga teman main game dan juru oprek komputernya. Hadirmu di rumahku selalu dinanti meski tak pernah diharapkan berlebihan. Semacam sebuah kewajaran yang menyenangkan, walau selalu kebingungan saat harus menjelaskan pada mamah bahwa kita (mungkin) hanya teman. Kamu akrab dengan sahabat-sahabatku, dan mereka semua berkata bahwa kamu membuatku lebih sering tertawa, meski selalu saja mempertanyakan soal status kita.

    Mungkin aku sudah tahu sejak lama bahwa aku bukan satu-satunya yang mengisi hatimu, tapi aku berpura-pura tak melihatnya. Aku mengabaikan pesan yang sering terlambat kamu balas, akhir pekan yang tak pernah kita isi dengan kencan, atau foto seorang gadis di kamar kostmu yang kamu sebut ‘adinda’. Rasanya menerima separuh hadirmu lebih mudah daripada sepenuhnya kehilanganmu.

    Aku tahu itu salahku, terlalu ingin percaya, berharap pada sesuatu yang sejak awal menggantung tanpa nama. Aku mencintaimu dengan cara yang bodoh, tanpa syarat, tanpa tuntutan, bahkan tanpa kepastian. Dan kini aku dihukum oleh harapanku sendiri. Aku hafal caramu tertawa, diammu saat marah, dan binar matamu saat sedang jatuh cinta. Aku ingin percaya bahwa itu benar-benar untukku.

    Seperti waktu itu, nyaris tengah malam, tanpa berkabar, tiba-tiba kamu sudah di depan pagar rumah, membawa kantong plastik penuh es krim. Wajahmu kuyu, tapi kamu cuma bilang, “Aku habis mampir ke Circle K, terus tiba-tiba kangen.” Kalau saja aku tidak sedang jatuh cinta tentu kelakuanmu ini kuanggap gila. Malam itu, kita tidak bicara banyak. Memandang langit dari teras, sambil tersenyum diam-diam dan melumat es krim coklat.

    Ah, atau percakapan kita di pos polisi saat kita berhenti sejenak menunggu hujan. Kamu bilang kalau semalam bertengkar hebat dengan ‘adinda’-mu. Aku hanya diam, pura-pura tak sakit hati mendengarnya. Sungguh benar bahwa cemburu bukan sesuatu yang akan membunuhku, tapi jangankan menjadi kuat, ia cuma menyisakan luka yang bahkan tak berani kuucapkan.

"Was mich nicht umbringt, macht mich stärker."
“That which does not kill me makes me stronger.”
~Nietzche

    Barangkali itu sebabnya kamu selalu kembali menemuiku, kamu mencintaiku, tapi aku bukan alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan kekasihmu. Mungkinkah aku bukan sekadar pelarian, tapi bagian dari dirimu yang tak bisa kamu miliki?

    Aku tahu aku harus melepasmu, namun mengapa semua hal yang kulihat padamu, seperti upaya semesta untuk membenarkan perasaanku. Kalau saja waktu lebih berpihak padaku dan kamu tak sepengecut itu, mungkin kita bisa menjadi kekasih yang sesungguhnya. Sialnya semua itu hanya 'kalau saja', dan aku benci itu.

    Malam itu udara Bandung cukup sejuk, namun terasa terlalu tenang untuk kegelisahan yang diam-diam tumbuh. Gerimis sudah reda, tapi aspal masih basah, memantulkan cahaya lampu jalan yang buram. Kita menyusuri jalanan di atas motor, dan kamu tak secerewet biasanya.

    Kau mengantarku pulang lebih awal malam ini. Biasanya kita masih betah nongkrong di gerai ayam goreng Amerika, sambil asyik membahas buku yang baru kita beli, atau sekali waktu menghabiskan waktu hingga tengah malam nonton tukang sihir Eropa di bioskop. Tadi kau hanya berkata, “Ayo, aku antar,” dan aku tak sempat bertanya kenapa. Mungkin aku tak benar-benar ingin tahu jawabannya.

    Memeluk pinggangmu jadi terasa canggung malam itu. Aku tak berani mempereratnya, entah jengah atau malah marah.

    Motor melambat di depan gerbang rumah. Aku turun pelan-pelan, berusaha menata napas dan bersikap biasa saja. Mesin motormu masih menyala, kulirik hapeku—baru pukul sembilan malam.

“Udah ya, aku langsung saja” katamu, sambil nyaris tidak memandangku.

    Aku masih termanggu di depan gerbang, masih menggenggam jemarimu, hingga tanpa kusadari kalimat itu keluar.

"Hei…aku bukan Cinderella, dan kamu bukan seorang pangeran," ucapku pelan, setengah bergurau tapi setengahnya lagi… sungguh-sungguh.

"Jadi mengapa mesti kita berpisah sebelum tengah malam?" lanjutku sambil berusaha tersenyum.

    Namun senyum itu gagal muncul, yang keluar hanya napas pendek yang nyangkut di dada. Kamu memalingkan wajahmu memandangku, tersenyum tipis dan mengetatkan genggammu di jemariku. Senyum yang biasanya langsung meluluhkan hatiku, namun tidak malam ini.

"Karena adindaku tiba dengan kereta pukul 23.15," jawabmu lirih.

Oh!

    Sekejap waktu membeku, rasanya seperti berhenti di tengah hujan tanpa tahu harus berteduh di mana. Tiba-tiba jadi tidak bisa kupahami apa yang sedang terjadi. Tatapan lembutmu saat di kafe kecil tadi, obrolan ringan diatas motor sepanjang jalan. Bahkan senyummu saat memberikan kado kecil untukku adalah senyum termanis yang pernah kulihat—mendadak semuanya seperti kabut dingin tersapu angin malam.

".…lalu kita…..?" tanyaku, nyaris berbisik.

Kamu menarik napas dalam, lalu menjawab perlahan. "Kamu…..bintang jatuhku."

    Aku terdiam. Bukan jawaban yang kumau. Tapi kenyataan kadang tak punya cara halus untuk menyelinap masuk ke hati, bahkan meski dibungkus istilah yang indah.

"Dan dia?" tanyaku lagi.

"Dia… rembulanku."

    Seharusnya aku marah dan menyuruhmu pergi, tapi aku justru makin berat melepas jemarimu, menahan napas dan menimbang, apa masih sempat bila aku memohon agar kamu tetap tinggal? Apa aku bisa menahanmu, meski aku tahu hatimu bukan untukku? Bagaimana kalau kamu memilihku saja? Bagaimana jika malam ini, kamu batalkan semuanya dan tetap disini bersamaku? Kita bisa mulai dari awal lagi, menyusun cerita yang belum sempat kita tulis.

    Angin malam meniup sudut mataku yang mulai lembap. Entah dingin atau perih. Entah karena cuaca, atau karena sesuatu yang mulai pecah di dalam dada. Aku ingin menangis, tapi terlalu anggun untuk itu.

"Jadi aku cuma sesuatu yang lewat, ya? Melintas sesaat, dan kemudian usai" sebuah tanya untukmu yang lebih mirip sebuah penghiburan kepada diriku sendiri.

Kamu diam, tak membantah, dan mungkin itu yang paling menyakitkan.

"Kalau begitu, pergilah. Jangan sampai kamu terlambat menjemput rembulanmu."

    Kamu seperti ragu sejenak. Mungkin ingin berkata maaf, mungkin ingin mencium keningku untuk terakhir kali, tapi tidak satupun yang kamu lakukan. Hanya melangkah mundur, lalu berbalik pergi, tak menoleh lagi.

    Aku tetap berdiri di situ, memandangi punggungmu yang menjauh. Rasanya aneh, hatiku kosong namun terasa sesak.

    Aku tak langsung masuk rumah, aku perlu mendinginkan hati dan kepalaku. Kulangkahkan kaki, duduk di bangku panjang di sisi jalan, mencoba mengurai pikiranku, mencoba mengendapkan kemarahan yang membuncah sekaligus mencoba menguatkan bendungan air mata. Aku membuka kado kecil yang tadi kamu berikan. Sebuah buku catatan kecil bergaya klasik, dan di halaman pertama kamu menulis, "Untuk semua cerita yang belum sempat kita tulis."

    Air mataku langsung runtuh. Bukan karena buku itu, tapi karena aku sadar, kita memang tak pernah menulis apapun. Semua kenangan kita hanya mengawang-awang, dan aku, terlalu ingin percaya bahwa itu bisa menjadi nyata.

    Jalanan sepi, hanya terdengar rintik kecil dari ujung genting. Kupandangi langit yang penuh awan kelabu, membayangkan kamu tengah tertawa bersama ‘rembulan’-mu. Sementara aku akan tetap menjadi bintang jatuh yang cahayanya hilang ditelan gelap malam.

Aku bukan Cinderella. Tapi tetap saja, malam ini, aku kehilangan pangeranku, sebelum tengah malam.


    Beberapa hari setelahnya, aku sempat melihatmu di toko buku yang sama tempat kita pertama kali bertemu. Kamu bersama seorang perempuan, bukan sedang memilih novel, kalian sedang tertawa sambil membaca komik yang sama. Ia menggenggam tanganmu, dan kamu memandangnya dengan senyum yang kukenal. Aku ingin marah, tapi tak sanggup. Aku menunduk, lalu melangkah pergi sebelum kamu sempat melihatku. Aku tidak ingin mengganggu pemandangan yang tampaknya sudah sempurna. Malamnya, di halaman kedua buku catatan itu, kutulis

"Terima kasih karena pernah singgah. Terima kasih karena akhirnya pergi."







11 June 2025

Pagiku, mungkin bukan untukmu


 Pagiku

Hujan turun tapi tak juga reda


Padamu

Hatiku jatuh tapi ini bukan cinta


Pagi masih terlalu

Malam belum berlalu

Hati masih meragu

Rindu belum penuh olehmu


Masih terlalu pagi

Pekat belum pergi

Entah harus tinggal atau terus mencari

Ragu, hati ini belum ingin terbagi


Kuharap ini bukan pagi

dan malam berputar sekali lagi

Kuharap kisah kita belum terjadi

dan tak perlu ada yang tersakiti



...ditulis saat teringat suatu sore di kota Bandung, pada sebuah sudut Balubur, untungnya sekarang sudah digusur jadi mal.

05 February 2025

Tentang Perasaan Masa Lalu dan Harapan yang Menyertainya

Perasaan dari masa lalu, terutama yang berakhir dengan rasa penasaran, seringkali tiba-tiba muncul dan mengusik pikiran. Mendesakkan tanya, harapan dan keinginan dalam dada, untuk kemudian membuat kita jadi bingung bertingkah. Akan bertindak apakah kita, puas dengan memandang dari kejauhan, bergerak lekas dan mencoba peruntungan atau cukup dengan bahagia menikmati kenangan.

Kejadian yang saya alami kemarin, sebuah perjumpaan tak terduga, di sebuah minimarket kecil, ratusan kilometer dari kota tempat saya tinggal. Awalnya saya tidak mengenali, hingga setelah dekat baru terbaca namanya, dan ingatan seolah kembali dilemparkan ke masa kanak-kanak. Mungkin kelas 4 atau 5 SD, dulu saya hanya bisa menatapnya di layar televisi, lebih tepatnya di salah satu kanal televisi luar negeri, TV 3 Malaysia tepatnya.

Dalam pandangan saya yg bocah, dia tampak begitu menggoda, dan menjadikan saya terbayang-bayang dan terfikir, benarkah apa yang saya saksikan di layar kaca itu. Namun saya menginsafi bahwa jangankan merengkuhnya, untuk menyentuhnya saja nyaris sebuah mimpi.

Sejalan dengan hidup hal-hal masa kecil semacam itu mulai terlupakan, tertimbun pengalaman lain dan kemudian lepas dari ingatan.

Tapi sesuatu yang berkesan di hati tidak pernah benar-benar hilang bukan? 

Maka, kemarin saat menjumpainya, saya dengan sukacita masa kanak yang timbul bergejolak menghampirinya.

.

.

.

.

.

.

...untuk kemudian kecewa. 

Bukan, ini bukan salahnya, ekspektasi saya saja yang keliru,  berharap semua akan seperti ingatan masa kanak saya, berharap yang ditemui akan sesuai imaji. 

Saya sudah dewasa, tua malah, tentu harus lebih bijak bersikap, maka saya hapus air mata di hati, saya sudahi rasa kecewa dan menerima kenyataan dengan lapang dada.

Maaf, saya kecewa, mungkin kita masih akan berjumpa, tapi saya tidak akan lagi menghampirinya. 


Bye-byee.... Ribena







10 January 2023

Pada suatu ketika

Pada suatu ketika

tiba tiba aku jatuh cinta

melebihi seluruh jatuh cinta

yang pernah menyakiti dadaku


Berkali bertanya kata yang sama

Mungkin lupa mungkin alpa

Atau bisa juga apa saja


Engkaukah cinta? Mengapa padamu aku jatuh

Rindukah aku? Mengapa padaku engkau luluh


Hingga angan berhenti bertanya 

mengapa saling jatuh cinta

Cinta adalah rindu yang tanpa alasan

Rindu abadi, cinta terlahir kembali

Rindu tak kenal waktu, entah mana yang lebih dulu

Cinta tak kenal masa, entah kapan mulai terasa

Rindu adalah keadaan, cinta adalah kenyataan


Wahai engkau yang menyalakan rindu di siang malamku

Naungilah aku dibawah sayapmu

Agar aku tak hancur rantak bagai debu

Tempat teduhku hanya dirimu



22 March 2021

"Te vere otro dia"

 Kecupnya serupa rahasia

dihantar dalam bisikan yang hening

dan kilas yang sekedar lintas

tersembunyi namun tetap terjadi


Kelembaman lembut yang menekan

menyisakan misteri yang tak habis kurasai

serupa sebuah reuni esoteris

tentang sejarah yang sentimentil  


Berserah aku terhempas ke masa lalu

tercekat dalam alun gerakmu

membadai kenangan menghunjam ingatan

gigil aku dalam beku luka lama 


ah, mengapa mesti melayang awang-awang

berjumpa lagi di simpang raya kehidupan

hanya untuk ditelan debur penyesalan

tetap saja kutelan doa "Te vere otro dia"

Bandung Oktober 2003

 Pernah kucoba menulis jejak kita

dibawah lampu di sisi jalan yang kita sebut trotoar

yang bila siang jadi halte dan tempat parkir mobil

namun bila malam jadi warung bubur ayam favoritku

yang juga menjual jus jambu kesukaanmu


Pernah juga kucoba menulis jejak kita

pada hutan dan rel kereta di seberang kampus

yang pernah kita lalui kemarin

sambil duduk diatas motorku menunggu kereta melintas

tapi tidak sambil berpelukan

katamu malu dan aku iyakan


Namun agar kamu tak lupa 

kutinggalkan sepotong pesan

dipinggir meja komputer, disamping kasur lipat

di tempat kita biasa melepas cerita 

tentang dunia yang entah mengapa

dan hidup yang bersikejaran dengan entah siapa


Mungkin kamu tak akan lupa

meski aku tahu itu sering kau coba

Mungkin juga aku yang terlalu lama bermimpi

meski kau tahu hanya itu yang aku miliki


waktu kita terlampau sesaat

persimpangan teramat pesat

keadaan melintas cepat 

dan kita kehilangan sempat


Malam ini aku ingin mengeluh

bayangmu semakin jauh

17 February 2021

Awalnya kita

Kita menapak mula di sini

Saat pucuk pinus basah oleh kabut

Senyummu membusurkan pelangi

Tumpah cahaya di ujung sedak dada

Ah...bagaimana aku bisa lupa?


Adalah suatu malam...

yang berhias cerita

Tentang seorang pangeran ,

Yang jatuh hati pada bidadari


Cinta yang serupa dupa, luruh menebar wangi sendu

Seperti kelopak-kelopak ratna dipelataran pura


Lihatlah kekasih, 

takdir telah melepaskan tali kekangnya

Mari kita bercinta lewat kidung-kidung renjana ,

Reguk manis asmara di percikan tirta


Wahai kekasih,

Tatapanmu adalah cahaya di tungku asmara 

Hangatkan kisah cinta

Hingga bermuara di bening nirwana

01 February 2021

Malam itu

Kalau boleh aku mengenangnya
Kau dan aku duduk sebelah menyebelah
Kau tak bicara pun aku hanya diam
Hanya sesekali gemerisik daun jambu mengusik

Aku sibuk dengan isi kepalaku
Kau sibuk dengan degup jantungmu
Kau masih membisu pun aku tetap bungkam

Aku menyerah
Kugapai jemarimu kutempelkan di keningku
Kurengkuh tanganmu dan bersandar disana
Kau terhenyak, bibirmu nyaris bersuara
Namun lekas kubentak
"Sudah diam, aku demam, bantu aku agar api ini lekas padam"
Kau urung bicara, tapi kurasa mukamu jadi merona

Jauh setelah kenangan itu
Kalau boleh kusebut demikian

Kau masih membiarkanku bersandar
redakan demam dan dendamku
padamkan keluh dan marahku

Terima kasih
Bagi tangan yang menjaga diriku
Bagi jiwa yang memeluk jiwaku
Dan bagi hati yg melingkupi hatiku



Dikisahkan dari sebuah masa dimana kamu dan aku bahkan belum pernah terpikir tentang kita

Seiring sejalan kita pernah

Tapi kini menyamakan langkah saja susah
Apa mungkin kita terlalu lelah
Yang selama ini mudah malah menjadi payah

Bila memang telah kau goyah
Biar aku saja yang melangkah
Mungkin sekarang cukup sudah
Aku mesti menentukan arah

Tak perlu pikirmu jadi resah
Ini hanya jalan yang terpisah
bukan berharap engkau enyah
Sekejap mungkin akan gundah
Namun tak lama, dan kita akan sama bahagia, percayalah 




Ditulis karena lagu "Kahitna, Cinta Sendiri" berkali melintas di playlist

*Biar aku yang pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini aku cinta sendiri
Biar aku menepi, bukan lelah menanti* 

11 April 2018

Coretan di selembar kertas (The Other Side)

Re-post;Kopipahit69

Siang itu cukup cerah, diluar sana sepertinya matahari giat memanaskan bumi kita yang semakin tipis ozonnya, ah global warming sudah jadi global warning ^_^ Saat-saat seperti ini memang saat yang paling pas buat tidur siang, pantas saja para Mexican menciptakan Siesta (acara istirahat/tidur pada siang hari, atau klik wikipedia aja deh untuk lebih lengkapnya)

Saya sedikit terkejut (kan agak ngantuk) ketika pintu itu terbuka, seorang lelaki masuk dan seakan ada hempasan udara panas ditujukan kearah saya. Saya yakin ini bukan sekedar udara luar yang panas dan bercampur polusi, lelaki itu tampak membawa "api". Saya adalah cowok straigth normal dan saya lebih menyukai Tom Hanks daripada Tom Cruise, tapi harus saya akui bahwa lelaki ini menarik (Uh..oh??) Dia jelas tidak tampan (saya yakin saya lebih tampan) tampangnya tidak indo, kulitnya jelas terbakar matahari, tinggi meski tidak atletis, tapi wajahnya jelas meninggalkan kesan mendalam, campuran antara kesombongan, amarah, dan sekaligus menunjukkan bahwa dia menyimpan sesuatu dibalik ekspresi wajahnya.

"Iced Cappucino, large" dia tersenyum meski itu jelas tampak dipaksakan. "Panas sekali yah diluar" sambut saya mencoba berbasa basi, meski saya sadar pertanyaan saya konyol. Dengan gelas ukuran besar saya sodorkan Cappucino dingin didepannya. Diteguknya langsung setengah isi gelas itu dan disusul dengan hembusan nafas panjang. "Hari yang melelahkan...." sejenak bersandar "saya merasa lelah, fisik maupun mental saya capek"
"Tuntutan pekerjaan yah?" Saya tahu bukan itu jawabannya
"Bukan, nggak sepenuhnya, lebih kepada soal masalah kehidupan aja"
"Pernikahan anda?" tampaknya pria ini belum menikah,tapi asumsi saya kan biasanya pria mendapatkan lebih banyak masalah setelah mereka menikah (dan sebenarnya mereka menikmatinya)
"Ah...bukan" bibirnya sedikit tertarik ke atas "saya belum menikah, saya baru putus dengan calon istri saya, he he penggunaan kata yang kurang tepat ya?" dia tersenyum sambil mencoba bercanda
"Tunangan anda?" tanya saya, "bukan ehm belum..." jawabnya sambil mengangkat alis. "Perbedaan prinsip?"
"Bukan, bukan perbedaan yang memisahkan kami, masalah klasik, orang ketiga"
"ah...." lagi-lagi saya tidak bisa berkomentar
"Sebenarnya mungkin itu cuma sekedar pemicu mungkin juga itu adalah sebuah jalan keluar dalam kebuntuan kami"
Saya cukup paham untuk tidak menyela ucapannya dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh.
"Kami sudah menjalin hubungan selama 10 tahun, dan itu adalah 40% dari hidup saya, sudah terlalu banyak hal yang kami lewati bersama"
"Yah saya juga melewatkan 10 tahun sebelum saya menikahi istri saya dan melewatkan 10 tahun berikutnya sebagai suaminya"
"Anda bercerai?"
Pertanyaan ini selalu muncul, tapi sudah tak sesakit dulu "Tidak, dia mendahului saya ke atas" jawab saya sambil tersenyum
"Ah maaf" dia tampak sedikit salah bersikap, saya membalasnya dengan senyuman
"Saya juga ingin seperti itu, tapi terlalu jauh rasanya"
"Terlalu jauh?"
"Begitulah, dulu saya berjuang untuk mendapatkan cintanya, ketika menjadi kekasihnya saya berusaha mempertahankannya, tapi bagi dia itu belum cukup, saya belum berusaha cukup keras"
"Ehm anda tidak mampu memenuhi ekspektasinya?"
"Yah... saya tidak bisa menjadi laki-laki yang bisa diandalkan, saya tidak bisa memberi kepastian"
"Soal komitmen?"
"Bukan cuma sekedar soal komitmen, tapi juga soal jaminan ekonomi, soal karir saya, soal pilihan hidup saya, banyak hal yang berputar disini" diteguknya lagi gelas cappucino nya
"Saya merasa bahwa saya sudah melakukan banyak hal untuk dirinya, mencoba melampaui batas-batas saya, mencoba berlari lebih cepat dan melompat lebih jauh, tapi saya tetap gagal" segera disambungnya kalimatnya "Mungkin saya belum berlari cukup cepat"
"Entahlah, ini sekedar pendapat, mungkin anda belum berlari cukup cepat atau mungkin juga anda berlari di lintasan yang salah" Kata saya tanpa bersikap menggurui
"Saya tidak tahu, ketika kami berpisah beberapa teman dekat berkata bahwa mungkin saya akan mendapatkan yang lebih baik, tapi saya tidak pernah berharap mendapat yang lebih baik, saya cuma ingin bersamanya"
"Lantas....?"
Dia tersenyum getir "Saya tahu itu tidak mungkin, sudah ada yang lain dihatinya, seorang lelaki yang bisa menjadi pangeran baginya"
"Jadi anda sudah tidak pernah berkomunikasi dengan euh...mantan anda?"
"Masih, sering malah, entah sekedar menemaninya ke toko buku, mendengarkan keluh kesahnya, atau apapun yang saya pikir dapat menggembirakan hatinya"
"Ah... sedikit absurd menurut saya, tapi mungkin itulah cinta"
"Ya, itulah cinta, saya mencintainya dan saya tidak dapat mengalihkan perasaan itu kepada gadis lain"
"Meski anda tidak mungkin bersamanya?"
"Ya, saya bahagia bisa menyayanginya sebagai seorang kakak, menemaninya sebagai seorang sahabat, dan mendukungnya sebagai seorang rival, ya, saya bahagia bila dia bahagia" kalimat berikutnya meluncur dengan nada yang lebih tinggi "tapi saya benci lelaki itu"
Saya tahu yang dia maksudkan pasti kekasih baru dari mantan calon tunangannya
"Saya tahu kalo saya membunuh laki-laki itu, dia pasti akan sangat sedih"
Sesaat angin dingin merambati tengkuk saya, dari matanya saya yakin dia mampu melakukan hal tersebut.
"Ha ha ha saya cuma bercanda, saya tidak akan melakukan hal konyol seperti itu kok"
Saya cuma bisa pura-pura batuk
"Saya rasa saya memutuskan untuk tetap mencintainya dan terus berlari, mungkin kami akan bertemu di persimpangan nasib yang lain" sambil melirik jam ditangannya dihabiskan cappucinonya dalam sekali teguk, mengeluarkan uang dari saku celananya, meletakannya di atas meja "Master, terima kasih atas kopinya" katanya sambil berlalu, bahkan sebelum saya sempat menghitung kembalian untuk lelaki itu.

Ketika saya merapikan kursinya saya menemukan selembar kertas yang tampaknya dirobek secara buru-buru dari organisernya


Ada saat dimana semua yang kulakukan cuma sebuah harapan ,
Tapi itulah cinta

Dan aku heran atas apa yang terjadi pada dirimu

Bagaimana bisa kau berikan cintamu pada seseorang
Dan membagi impianmu denganku

Kadang dalam segala yang kau cari
ada sesuatu yang tak kau lihat

Sepertinya sebuah puisi tentang cinta yang tak terjawab, pahit...

Coretan di selembar tisu

Re-Post;Kopipahit69

Sore hari, hujan baru berhenti, diluar sana entah ada pelangi atau cuma langit kelabu. Dulu saya suka bau tanah setelah hujan tapi saat ini setelah hujan aroma yang tercium justru makin tidak jelas, padahal katanya ini adalah saat yang tepat bagi seorang pria untuk bersikap melakonlis.

Pintu terbuka, seorang pria masuk, masih muda, penampilannya tipikal pegawai kantoran. "Ehm... Mocha Latte" Sambil mengangguk saya ambil sebuah cangkir, menyiapkan pesanan dan kemudian meletakkannya dihadapannya "Saya bukan penggemar pahit" katanya sambil tersenyum "saya juga bukan penggemar kopi sebenarnya". "Mungkin sepulang dari sini anda akan berubah menjadi seorang penggemar kopi" balas saya sambil tersenyum.

Dituangkannya dua sachet gula, diaduk, ditiupnya cangkirnya dan diteguk sedikit dan kemudian memandang saya "saya tidak yakin bakal jadi penggemar kopi tapi saya suka tempat ini"
"Tidak apa-apa, siapa saja boleh berkunjung kemari meski bukan seorang penggemar kopi. Kadang kopi cuma jadi pelengkap di sela obrolan mereka" jawab saya. Awalnya memang saya ingin menjadikan tempat ini sebagai tempat menikmati kopi yang sebenarnya, pada perkembangannya banyak juga yang menjadikan tempat ini sebagai sarana melepas penat, dan akhirnya saya harus menyerah pada selera pasar.

"Saya suka tempat ini, suasananya nyaman, seakan-akan saya telah meninggalkan semua beban saya diluar sana" katanya sambil melepas jaketnya, melipat dan meletakkannya di pangkuan. "Begitulah, kadang hidup kita yang indah ini bisa terasa sangat melelahkan" Dia tersenyum "Ha...ha...saya pikir master tidak pernah lelah" "Oi...?? Saya kan juga manusia" jawab saya

"Sebenarnya saya juga sedang lelah, ada seseorang yang membuat saya merasa begitu"
"Ehm...pasangan anda?" saya mencoba bertanya, meski biasanya tanpa saya tanya pun mereka akan melanjutkan ceritanya. "Bukan, emmm....bagaimana ya..." dia terdiam untuk beberapa saat "seorang lelaki, mantan pacar dari kekasih saya" Saya cuma bisa mengangguk-angguk sambil mengangkat alis. "Apakah dia mengganggu hubungan anda?"

"Tidak juga, ehm buat saya itu memang mengganggu, tapi...." dia tidak meneruskan kata-katanya, saya juga ikut diam karena saya tahu dia tidak butuh pertanyaan.
"Laki-laki itu adalah seseorang yang sangat istimewa buat kekasih saya, dia nggak cuma sekedar mantan pacar, lelaki itu juga seorang kakak, sahabat, rival, ah entahlah yang pasti dia teramat istimewa di mata kekasih saya" sepertinya sebuah situasi yang cukup kompleks "Tapi dia memilih anda kan?" kata saya, lebih sebagai sebuah pernyataan daripada sebuah pertanyaan.

"Ya, dia memilih saya, bahkan kami sudah membicarakan tentang pertunangan, tapi tetap saja saya merasa terganggu" sahutnya sambil agak bersungut. Dua orang pria masuk, memilih meja disudut, segera saya menghampiri mereka, Esspresso dua, Croissant, satu spaghetti dan onion ring. Sepuluh menit kemudian saya hantarkan pesanan mereka dan saya kembali berdiri di counter, mengelap cangkir dan tatakan sambil tersenyum memandang lelaki itu.

Dia membalas senyuman saya dan melanjutkan ceritanya "Saya benci mengakuinya, tapi lelaki itu memang istimewa, yah meskipun saya sangat membencinya" dia meneguk lagi Latte nya "Dia siap melakukan apapun untuk kekasih saya, dan apa yang saya maksudkan dengan apapun adalah apapun"
"apapun...." kata itu sengaja saya biarkan menggantung. "Ya, apapun, saya tidak tahu mesti bagaimana menggambarkannya, lelaki itu lebih memahami kekasih saya daripada saya sendiri, dia tahu apa yang harus dilakukan ketika kekasih saya marah, ketika kekasih saya tiba-tiba diam, bahkan dia bisa mengetahui apa yang diinginkan oleh kekasih saya tanpa kekasih saya harus berkata apapun"
"Uhm...saya curiga kalau dia seorang cenayang (Tentu saja kalimat ini saya ucapkan dalam hati)"Seharusnya saya adalah sang pangeran buat kekasih saya, tapi lelaki itu adalah ksatria pelindung baginya, say membelikan sebuah apartemen untuk kekasih saya tapi lelaki itu memberikan rumah dengan pintu yang selalu terbuka bagi hatinya, kadang saya merasa bahwa lelaki itu lebih pantas bersama kekasih saya"

"Apakah anda tidak berlebihan? mungkin itu cuma karena anda cemburu? mungkin juga lelaki itu sudah tidak lebih dari sahabat bagi kekasih anda?"

"Itulah yang selama ini selalu coba saya yakini, saya berusaha menjadi yang terbaik buat kekasih saya, tapi saya tetap tidak bisa membuang perasaan itu" terbayang sedikit senyum getir dibibirnya

"It's complicated yah?" komentar yang tidak penting, saya tahu pasti rasanya tidak nyaman.

"Mungkin karena saya bukan penggemar kopi, berat buat saya menghadapi hal-hal pahit seperti ini"

Saya cuma bisa berkomentar datar "Kadang pahit itu nikmat, tapi kalau untuk apa yang anda alami mungkin anda harus lebih membuka komunikasi, dengan lelaki itu, dengan kekasih anda, dan cobalah untuk tidak terlalu melibatkan emosi"

"Yah seperti kopi digelas ini, dibalik pahitnya ada sekecap rasa manis, saya akan coba bicarakan soal ini dengan kekasih saya" Diletakkannya selembar uang yang cukup untuk membayar 2 cangkir kopi, dijabatnya tangan saya "Master, terima kasih atas sore ini" Saya tersenyum sembari masih menggenggam erat jabat tangannya saya berkata "anak muda ingatlah, yang pahit jangan terlalu cepat dimuntahkan, yang manis jangan terlalu cepat ditelan"

Saat saya membereskan gelasnya saya melihat tisu yang dicoret-coret oleh lelaki itu

""Aku benci lelaki itu
karena meski aku adalah pangeranmu
dia adalah ksatria pelindungmu

Aku benci lelaki itu
karena meski kuberikan istana untukmu
dia berikan dunia bagi hatimu

Aku benci lelaki itu
karena meski kau berikan tubuh dan hatimu padaku
kauberikan dia mimpi-mimpimu""


Tampak pahit....

Lelaki kusut sore hari itu

Re-Post;Kopipahit69


Selamat datang, saya tidak tahu definisi tempat ini, warung jelas bukan disebut cafe pun sebenarnya kurang pas (cuma ada sebuah counter dan 5 kursi), ini adalah sebuah sudut tempat orang-orang datang dan menikmati kopi. Bagaimanapun tempat ini butuh nama, jadi selamat datang di cafe KOPI PAHIT 69.

Biasanya para pengunjung memanggil saya master, tentu saja bukan karena saya seorang kung fu master ataupun coffe master, saya sendirilah yang membiasakan pengunjung saya memanggil begitu. Mungkin karena saya terlalu banyak menonton anime semacam "Get Backers" atau bisa juga karena terpesona figur Falcon si pemilik Cafe Cat's Eye.

Pengunjung tempat ini beraneka ragam, pekerja kantoran, mahasiswa, ibu muda, pengangguran dan aneka pribadi lainnya. Mereka unik bukan semata karena apa yang mereka kenakan, pilihan kopi mereka, latar belakang pendidikan mereka ataupun apa yang mereka bawa, bukan, mereka unik karena mereka semua memiliki kisah yang berbeda.

Seperti juga pengunjung saya sore ini, seorang pemuda, usianya mungkin pertengahan 20, bajunya agak kusut, mungkin bukan tipe yang melewatkan hari kerja di depan monitor atau tumpukan file. Dia duduk di depan counter "Cappucino dingin yang large" katanya "dan tidak usah terlalu banyak krimnya. Sambil menyendok es batu dan memasukkannya ke juicer saya sempat melihat dia mengeluarkan tisu basah, mengelap mukanya yang kusam karena debu dan partikel asap knalpot yang menempel di minyak wajahnya.

"Silahkan, iced cappucino gelas besar" bibirnya bergerak sedikit, tersenyum, wajahnya tak lagi kusam namun ekspresinya masih kusut. Diminumnya sepertiga isi gelas itu kemudian diletakkan kembali sambil diiringi helaan nafas panjang. Masih dengan senyum yang agak dipaksakan dia bercerita tentang seorang wanita.
"Saya yakin master juga pernah muda..."

Tentu saja, karena saya lahir tidak langsung tua batin saya, kemudian dia melanjutkan kalimatnya

"Semalam saya menginap di rumah .....(dia menyebut nama seorang wanita, mirip dengan sebuah merek pengharum ruangan,saya lupa, yang pasti bukan Bayfresh apalagi Baygon)

"...dia bukan kekasih saya, dan kami juga tidak pernah meributkan apa status hubungan kami. Saya mengenal dia sejak beberapa bulan lalu dan hubungan kami menjadi lebih dekat sejak saya bermasalah dengan pasangan saya"

"...hemm" Saya masih mendengarkan, sambil mengelap cangkir dan tatakan yang baru dicuci. 

"Ngobrol dengan dia rasanya seperti ngobrol dengan teman lama, akrab, ringan, hangat"

Saya tersenyum sambil melipat lap "Chemistry" gumam saya

"Iya, nyambung, tapi..." kalimatnya terputus, dia mengangkat gelas, meneguknya dan lagi-lagi mengakhirinya dengan helaan nafas panjang.
"entahlah, dia baik, easy going, secara fisik dia juga menarik, tapi..."

"tapi?"

"ehmmm... dia lebih tua dari saya, kami berbeda keyakinan, dan dia juga seorang perokok"

"Tapi bukan itu kan yang menjadi masalah?" kata saya sambil tersenyum

"Yah begitulah, saya menyukainya" tapi buru-buru disambungnya kalimatnya "sebagai teman"
"Saya sangat mencintai kekasih saya, atau lebih tepatnya mantan kekasih saya, memang butuh banyak perjuangan agar bisa bersamanya, tapi saya sangat mencintainya"

Saya tahu dia sungguh-sungguh ketika mengucapkan kalimat tersebut

"Saya merasa untuk mempertahankan hubungan ini saya harus terus berlari, sementara dengan wanita yang baru ini saya bisa santai, tidak ada keharusan, karena hubungan kami tidak memiliki status, tidak ada tuntutan, karena kami bukan siapa-siapa, mungkin cuma sekedar teman yang ditemui diperjalanan"

"Ehm...kadang bahkan meski cuma sekedar berjumpa di jalan bisa saja dia menjadi teman kita sepanjang perjalanan, bisa juga kita menjadi sangat kehilangan ketika kita harus menempuh jalan yang berbeda" kata saya mencoba bijak

"Saya dan dia tahu itu, dia tahu saya masih dan mungkin akan tetap mencintai pasangan saya, dia tahu bahwa saya mungkin tidak akan pernah mencintainya, dia juga tahu..." kalimatnya berhenti sesaat "...bahwa saya cuma menjadikan dia pelarian"

Ganti saya yang menghela nafas panjang

"Semalam kami membicarakan itu semua"

"Bukankah itu menyakitkan?"kata saya

"Yah itu membuat saya merasa tidak nyaman, dan saya tahu dia juga begitu, meski hal itu coba disembunyikan di balik senyumnya"

Saya tersenyum, datar, saya paham apa yang dia rasakan meski saya tidak juga membenarkan ataupun menyalahkannya, empati.

"Saya merasa bersalah terhadap mantan kekasih saya, terutama setelah apa yang saya lakukan" dia memutar-mutar gelas sebelum menghabiskan sisa cappucinonya "saya tidur dengan wanita itu, dan dan mantan saya mengetahuinya, dari saya sendiri" dia menghembuskan nafas kuat-kuat, seakan mencoba meingankan beban di dadanya "Saya menyesal menceritakan hal tersebut pada mantan kekasih saya"

"Tidak perlu menyesal, justru dengan jujur kamu telah menunjukan penyesalan dan permohonan maafmu"

"Mantan kekasih saya menangis, dia bilang dia kecewa"

"Mungkin karena dia masih mencintaimu"

"Kami berpisah karena dia memilih lelaki lain, seharusnya hal ini bukan sesuatu yang akan membuat dia meneteskan air mata"

Ternyata, bahkan setelah hidup ribuan tahun, wanita masih merupakan misteri terbesar bagi seorang pria.

Dihabiskannya sisa es batu yang telah mencair dan bercampur endapan kopi, kemudian bangun dan meletakkan selembar uang "Master terima kasih yah, atas kopi dan telinganya" Tersenyum, membalikkan badan dan melangkah keluar. 

Saya membalas senyumannya, membereskan gelas dan mengelap counter.

Menunggu hujan reda

Diantara hujan yang tempias
ada rindu yang belum sempat kau balas
adakah hatimu menjadi kebas
atau karena aku yang terlambat bergegas

Diantara rindu yang tak terbalas
ada perasaan yang kian meranggas
adakah asa meski sekilas
atau justru engkau ingin bergegas

Diantara kenang yang melintas
ada kelu yang masih membekas
adakah manis meski pahit terpulas
atau kisah kita memang mesti tuntas


24 May 2017

Aku menikmati merengkuhmu
Khusyuk kala perlahan mengecupmu
Menyesap hangat yang ada dalam tubuhmu

Namun kamu mesti tahu
Kamu tak lebih dari sebuah alat
kamu hanyalah sebuah perantara

Saat tujuan sudah tercapai
dan keinginan telah terpuaskan
maka itu saatnya kamu ditinggalkan

Sampai jumpa esok hari
Untukmu aku kembali
Saat tubuh ini merindu lagi

=Ngobrol sama mug kopi=


08 August 2016

Dek, aku rindu hujan

Dek, aku rindu hujan
Rindu duduk berdua di beranda
dan memandang butir-butir perak yang dijatuhkan dari ketinggian
Rindu nikmatya harum tanah sehabis hujan

Tapi itu di desamu Dek,
dimana hujan adalah limpahan kebahagiaan
Berkah yang diturunkan oleh langit bagi tanah, padi,
bagi para petani dan segenap ternaknya
Tapi di kota ini Dek, hujan cuma pertanda banjir akan tiba

Jakarta-Sore saat mendung makin gelap

05 August 2016

Sekali lagi tentang memaafkan

Seharusnya tidak ada yang perlu dimaafkan
karena bahagia pernah sama kita rasakan

sayangnya bukan begitu hidup berjalan
berkali waktu kita bertukar kesalahan

ringan kita berkata saling memaafkan
namun dalam hati masih ada yang tersimpan

mungkin dendam, mungkin penyesalan
karena kata atau karena perbuatan

kadang sikap yang salah ditunjukkan
atau tindakan yang salah diartikan

mari saling bersalaman
tanpa kecup dan pelukan

mari saling melepaskan
sebab yang lalu adalah kenangan

dan kita sama percaya
cinta itu membebaskan

05 July 2016

Semoga berjumpa lagi dengan Ramadhan yang akan datang

Perpisahan tidak selalu tentang kesalahan
yang melukai dan menyesal kita lakukan
namun adalah juga tentang harapan
menjadi lebih baik sebelum jumpa kemudian

Perpisahan adalah bagaimana rindu diketatkan
saat ruang dan waktu dijauhkan
Perpisahan adalah juga tentang menguji kekuatan
menjaga setiap konsistensi atas perbuatan

Perpisahan tak melulu tentang ikhlas melepaskan
kesediaan membebaskan tanpa takut kehilangan
namun juga tentang menjaga jalan
agar bersua nanti di persimpangan kehidupan

Perpisahan adalah bagaimana perjumpaan dipersiapkan
jauh sebelum pertemuan dibayangkan
Perpisahan adalah juga perjalanan menciptakan
bahkan saat wujud masih berupa angan

Perpisahan adalah bagaimana menuju Perjumpaan

Selamat Idul Fitri 1437H
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Semoga berjumpa lagi dengan Ramadhan yang akan datang

30 June 2016

Perpisahan

Perpisahan tidak selalu tentang kesalahan
yang menggugurkan dedaunan dan meranggaskan ruas-ruas
bukan juga sekedar memutus kenangan
yang mengguncang dahan dan mengerkah tanah mengelupas

Perpisahan juga tentang bagaimana menguatkan
mengukuhkan genggam agar tak mudah terhempas
Perpisahan juga tentang bagaimana menyatukan
menggabungkan berbagai keberadaan dalam satu entitas

Perpisahan ini tidak akan menjauhkan
namun menjaga rindu agar tak lepas
tidak juga jadi melemahkan
namun merekatkan hati yang getas

Perpisahan adalah menanti harapan
yang menumbuhkan kuncup tunas-tunas
adalah juga menunggu perjumpaan
yang kelak bersemi menjadi bunga yang bernas

27 June 2016

Milik Sendiri

Apa yang saya miliki meskipun tidak membuat saya jadi tinggi hati ternyata tetap bisa membuat orang lain iri. Sebagai sebuah keluarga muda di posisi ekonomi menengah kesamping benda-benda yang saya miliki termasuk biasa saja. Tidak jauh berbeda dengan orang lain, sepeda motor matic, kulkas, televisi, lemari dan lain sebagainya. Namun yang selalu mengundang komentar dari tamu di rumah kami adalah lemari buku dan lemari mainan (figure). Komentar yang muncul biasanya senada, yaitu tentang betapa 'kaya' nya saya karena memiliki sedemikian banyak buku dan mainan.  

Tentu saja ini jadi membingungkan, pertama karena diluar sana banyak orang-orang yang punya koleksi buku dan mainan jauuuh lebih banyak dari saya. Yang kedua, orang-orang yang berkomentar tadi adalah keluarga dengan tingkat ekonomi yang lebih tinggi dari saya. Akhirnya menanggapi hal tersebut saya cuman bisa nyengir sambil merendahkan diri dan meninggikan mutu.

Jadi pada intinya hal tersebut hanyalah soal pilihan, soal alokasi dana belaka. Dengan dana yang mereka miliki, mereka lebih memilih untuk membeli mobil, membeli gadget terbaru, belanja produk fashion yang mereka sukai, atau bisa juga mengalokasikannya untuk investasi (emas, saham, atau tanah). Sementara saya lebih memilih untuk membeli buku ^_^ (tampak bijak dan cendekiawan sekali kan). 

Padahal analisa matematis pendapatan bulanannya begini;

( Orang Lain )
Gaji                                : 4 X UMR

Alokasi
Kebutuhan pokok          :  1 X UMR                
Kebutuhan sekunder/
Investasi                        :  1 X UMR
Cicilan  KPR                 :  1 X UMR
Cicilan Mobil                :  1 X UMR +
Total                              :  4 X UMR

( Saya )
Gaji                                : 1 X UMR + Dikit

Alokasi
Cicilan  KPR                 :  2/3 X UMR
Cicilan Mobil                :  0    X UMR
Kebutuhan pokok          :  1/3 X UMR                
Kebutuhan sekunder/
Investasi                        :  Dikit             +
Gaji                                : 1 X UMR + Dikit


Nah jadi karena saya ndak nyicil mobil, dan gaji yang tersisa tidak cukup buat beli tanah, tidak paham bermain saham dan reksa dana, maka alokasi dana yang tersisa saya gunakan untuk hal-hal yang saya mampu dan saya paham. "BUKU"


Hal-hal sederhana yang saya jalani setiap hari juga bisa tampak begitu istimewa bagi orang lain. Jam berangkat kerja yang tampak santai (ingat! hanya tampak santai), jalan-jalan tiap akhir pekan, liburan yang hampir tiap bulan. Hal-hal tersebut yang menurut saya lumrah dan wajar pun bisa mengundang rasa iri, mengundang prasangka yang bukan-bukan.

Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau kata peribahasa, tapi saya masih meyakini pohon kacang panjang dan bayam milik saya lebih hijau. Karena ini bukan sekedar perkara hidup yang saling memandang (urip sawang sinawang) dimana saat kita memandang ke orang lain kita akan merasa orang lain lebih bahagia, pun saat mereka memandang kita, maka mereka akan beranggapan kita yang lebih bahagia. Bagi saya ini adalah soal kita memandang ke dalam diri dan mensyukuri apa yang kita miliki.

Di bulan Ramadhan ini, saya diingatkan kembali, ditunjukkan kembali, bahwa diluar sana masih banyak orang yang memiliki lebih dari saya tapi tidak lebih bahagia. Pun juga sangat banyak orang yang tidak mempunyai apa yang saya miliki tapi mereka lebih bersyukur.

MeyakiniMenjalani
MenikmatiMensyukuri
HidupMenghidupkanMenghidupi