18 November 2007

Blog ini akan di-update minggu ini.
- Bila saya sempat
- Bila saya ingat
- Bila saya berniat



Terima kasih kepada semua orang yang masih meng-klik alamat Blog ini meski blog ini tiada pernah ter-update sejak bulan Juli kemarin

23 July 2007

Curhat Kebuntuan Saya

Ada sebuah pertanyaan yang beberapa kali diajukan ke saya, pertanyaan sederhana yang bisa menjadi serius atau bisa juga menjadi sekedar pertanyaan iseng. Pertanyaannya adalah " Apa yang akan kamu lakukan bila esok pagi adalah hari terakhir dalam hidupmu?" kurang lebih begitulah pertanyaannya.

Biasanya jawaban saya tidak jauh dari pergi keujung dunia atau semacamnya, intinya adalah pergi menuju tempat terjauh yang bisa saya capai. Beberapa orang lain punya jawaban yang berbeda, mulai dari menemui seluruh keluarganya, minta maaf ke semua orang, minta ampun ke Tuhan atau bahkan hal-hal lain yang lebih nggak jelas. Beberapa waktu yang lalu saya menemukan seseorang yang memberikan jawaban yang (mungkin) jarang terpikirkan oleh orang lain. Jawabannya adalah"...mencari dan mencoba segala kemungkinan agar besok tidak menjadi hari terakhir"

Jawaban ini mengingatkan saya pada sebuah joke yang mengisahkan seorang pasien yang diberitahu oleh dokternya bahwa usianya tinggal seminggu lagi, teman-temannya menganjurkan berbagai macam hal, ada yang menyuruhnya menghabiskan hidupnya dengan berdoa, ada yang justru menyuruh bersenang-senang, ada juga yang menganjurkan agar ia melewatkan waktu dengan keluarganya. Dia selalu menceritakan hal ini kepada siapa saja yang ditemuinya, di kantor, di cafe, dan semua orang memberikan saran yang serupa, hingga pada hari terakhir ada seseorang yang iseng berkata "...kenapa tidak coba dokter lain saja?"



Ketika kita menghadapi sebuah jalan buntu maka biasanya kita akan berhenti sebelum menabrak penghalang atau kebuntuan tersebut. Mungkin kita berhenti karena kita tahu bahwa tidak mungkin melewati penghalang tersebut, mungkin juga kita berhenti untuk memikirkan alternatif lain dalam melewati penghalang tersebut, atau mungkin juga kita berhenti karena kita sadar dengan batas dari diri kita.

Saya sering berhenti, bahkan ketika kebuntuan itu baru sebatas tanda-tanda.

Bila diumpamakan dengan sebuah jalan, maka ketika di awal jalan tersebut ada tulisan "Jalan Buntu" kemungkinan besar saya akan mengurungkan niat untuk melewati jalan tersebut. Entah kenapa secara tidak sadar saya akan menghentikan langkah saya atau bahkan menghindari ketika menemui jalan-jalan buntu ini. Mungkin saya takut atau mungkin juga saya malas menghadapi kebuntuan, menghadapi penolakan, menghadapi sesuatu yang tidak saya ketahui. Saya takut menghadapi batas imaginer saya, seakan-akan saya akan jatuh ke jurang jika melewati batas itu.

Saya sudah lupa bagaimana puasnya ketika mampu melewati batasan itu, saya lupa dengan kenikmatan ketika memburu puncak yang lebih tinggi, saya lupa debaran ketika mencoba menantang sesuatu hal yang bagi sebagian orang tidak mungkin. Ya, saya lupa semua itu, padahal dulu dengan bangga saya selalu mengutip kata-kata Napoleon "Sulit memang, tapi bukan tidak mungkin".


Sekarang saya menjadi tidak bisa membedakan antara sulit dan tidak mungkin.
---------------------------------------------------------------------------

Semoga sebelum bulan kedelapan berakhir kebuntuan ini terpecahkan



12 July 2007

Kapan Jusuf Kalla bisa seperti Jarwo Kuwat

Postingan kali ini masih juga bernada sedih, atau mungkin lebih tepat kecewa. Yang pasti bukan kecewa pada Timnas kita, wong mereka sukses menyarangkan 2 buah gol di gawang Bahrain kok. Kekecewaan ini menguat setelah membaca Kompas hari Sabtu atau Minggu kemarin, agak kurang jelas harinya sebab keduanya saya baca hari Minggu sore. Di salah satu berita yang dimuat disana ada yang bikin minggu sore saya menyebalkan, yaitu soal pembelaan JK mengenai Ujian Nasional yang disampaikannya di salah satu universitas.

Sejak awal si JK ini memang keukeuh dengan soal ujian ini, dengan alasan bahwa ujian ini penting fungsinya dalam dunia pendidikan kita sebab dengan pemberlakuan standar dan kenaikan standar setiap tahunnya maka mutu pendidikan kita akan semakin baik. Dan seakan belum cukup, masih ditambahkan lagi kalimat yang bunyinya kira-kira seperti ini "...lebih baik 100 anak stress daripada sejuta anak bodoh". Wow...fantastis, padahal UAN belum tentu membuat mereka pandai tapi kalau stress pasti, lantas kok bisa JK membuat komparasi seperti itu? Lagipula bukankah siswa yang tidak lulus itu juga bagian dari tanggung jawab sistem pendidikan, kok lantas mereka diperlakukan seperti tumbal dengan menganggap tidak masalah beberapa nggak lulus yang penting target standar nilai UAN terpenuhi.

Mungkin kalimat diatas muncul tanpa sadar atau muncul secara spontan, tapi bukankah ini mengerikan? Ya menurut saya ini mengerikan, sebab ini adalah cara perhitungan dagang, cara berhitung yang saya pikir khas para pemilik modal. Tidak masalah mengorbankan sebagian kecil untuk mendapatkan hasil yang besar. JK memang sering menggunakan perhitungan semacam ini, jumlah siswa yang tidak lulus, jumlah orang miskin, jumlah pengangguran, semuanya dipandang dalam persentase, dalam perbandingan dimana 2,5 juta orang hanyalah bernilai kurang dari 1% penduduk negeri ini (dan ini menjadikan mereka tidak penting buat JK). Hal ini juga mengingatkan saya pada contoh ekstrim macam film action amerika, dimana seringkali untuk melumpuhkan penjahat harus mengorbankan banyak nyawa, belum lagi mobil, fasilitas umum, tempat tinggal penduduk bahkan sayur mayur. Mengorbankan 400 nyawa dianggap layak untuk menyelamatkan 5000 penduduk atau keluarga presiden, yah... meskipun biasanya para hero mereka selalu bisa menggagalkan niat sang penjahat (meski juga dengan perngorbanan beberapa nyawa).

Bayangkanlah bila perhitungan semacam ini diterapkan pada pendidikan.

--------------------------------------------------------------------


(ruang diatas sengaja untuk memberi jeda agar anda sempat membayangkan)

Dengan adanya standar maka semua siswa diukur dengan satu acuan, dengan sebuah perhitungan matematis dimana semua orang diharapkan mencapai batasan yang sama, sebuah nilai minimal yang menentukan tingkatan seorang manusia. Rasanya semakin merinding saya. Bukankah ini menjadi mirip sebuah pasar, semua siswa dinilai dengan standar, sama halnya dengan semua barang yang dinilai dengan rupiah. Padahal nilai seorang siswa jelas bukan cuma soal kemampuannya menghitung trigonometri ataupun menjelaskan hukum Pascall. UAN menyebabkan para siswa kelimpungan mengejar angka, yang lebih di otak ya belajar, yang lebih di uang ya membeli, yang lebih di kuasa ya kolusi, yang lebih di hati mungkin tinggal berharap pada Tuhan dan gigit jari.

Seperti juga dinyatakan oleh JK bahwa para siswa belajar giat karena takut tidak lulus, maka ini menunjukkan bahwa kita bersekolah demi sebuah kelulusan, demi ijazah. Mungkin bersekolah untuk mencari ilmu memang cuma slogan.

Mereka yang tidak lulus mungkin memang bodoh, tapi apakah mereka memang masa bodoh? Memang banyak anak yang malas belajar, banyak yang tidak peduli apa yang diajarkan oleh guru mereka, tapi perlu diingat bahwa banyak juga yang menjadi bodoh karena keadaan, karena tidak punya waktu belajar, karena sekolahnya tidak layak untuk belajar, karena gurunya tidak bisa ngajar. Ada banyak sekali penyebab tidak lulusnya seorang siswa.

Lagipula rasanya sudah jadi kebiasaan buat JK untuk ngomong dulu, soal bukti nanti saja. Sudah banyak janji yang terlontar mulai dari soal gempa di Jogja hingga ke berbagai hal lain yang realisasinya tak kunjung tiba.

Kapan yah JK bisa seperti Jarwo Kuat yang komentarnya bisa bikin hati ketawa dan bukannya malah panas, kapan yah JK bisa berhenti berpikir ala pedagang biar bisa berpikir dan bertindak selayaknya seorang pendamping presiden, kapan.......yah???



NB : Meskipun begitu perlu saya tambahkan sedikit berita (semoga) baik. Yaitu tentang akan diterapkannya sistem penilaian berdasarkan kompetensi. Berarti ada harapan bahwa ijazah tidak akan lagi terlalu didewakan, dan sekecil apapun sebuah harapan tetap harapan.