Malam itu
Kalau boleh aku mengenangnya
Kau dan aku duduk sebelah menyebelah
Kau tak bicara pun aku hanya diam
Hanya sesekali gemerisik daun jambu mengusik
Aku sibuk dengan isi kepalaku
Kau sibuk dengan degup jantungmu
Kau masih membisu pun aku tetap bungkam
Aku menyerah
Kugapai jemarimu kutempelkan di keningku
Kurengkuh tanganmu dan bersandar disana
Kau terhenyak, bibirmu nyaris bersuara
Namun lekas kubentak
"Sudah diam, aku demam, bantu aku agar api ini lekas padam"
Kau urung bicara, tapi kurasa mukamu jadi merona
Jauh setelah kenangan itu
Kalau boleh kusebut demikian
Kau masih membiarkanku bersandar
redakan demam dan dendamku
padamkan keluh dan marahku
Terima kasih
Bagi tangan yang menjaga diriku
Bagi jiwa yang memeluk jiwaku
Dan bagi hati yg melingkupi hatiku
Dikisahkan dari sebuah masa dimana kamu dan aku bahkan belum pernah terpikir tentang kita
No comments:
Post a Comment